Oleh : Lina M.T

Suara bising dari kendaraan dan orang-orang yang sibuk berlalu lalang menemani hari-hariku setiap harinya. Aku merasakan seakan-akan membisu dalam keramaian kota ini. Satu jam, dua jam, “ah sampai kapan aku harus menjalani kehidupanku yang monoton ini? kehidupan yang hanya kuhabiskan dengan kemacetan dan kertas-kertas dokumen serta rapat kantor lainnya. Sangat menjenuhkan”, batinku dalam hati sambil melihat jam arloji dengan merk Rolex yang menunjukkan pukul 09.00 WIB. Di tengah kemacetan itu aku melihat sekumpulan remaja dengan suara yang tak karuan dengan alat musik ciptaan mereka yaitu tutup botol yang mungkin sudah mereka modifikasi untuk bernyanyi dan mengetuk satu persatu kaca mobil yang ada di jalanan itu. Ada pula anak-anak yang membawa beberapa lembar koran untuk ditawarkan. “Pak korannya pak?” sambil mengetuk kaca mobilku dari luar. “Berapa?” tanyaku kepadanya sambil membuka kaca mobilku, “Lima ribu rupiah, pak”. Akupun mengulurkan uang 20.000 rupiah untuknya dan tampak mata bulat itu berbinar-binar tak terbendungkan seolah-olah mengucapkan beribu-ribu ungkapan terima kasih.

Sesampai di kantor, sekretarisku sudah menyuguhkan dan mengingatkanku tentang agendaku hari ini. “Jadwal Bapak hari ini rapat dengan pimpinan X, kemudian dilanjutkan dengan rapat bla bla bla”, ah sungguh membosankan batinku. Hari-hariku selalu saja kuhabiskan seperti ini. “Mang, hari ini pulanglah lebih awal dan jangan menungguku atau mengantarkanku pulang karena saya hari ini ingin mencari udara segar di kota ini”, pesanku kepada sopir setiaku selama ini Mang Udin namanya. Rasanya aku ingin menikmati secangkir kopi kesukaanku dan mendengar untaian musik klasik di kedai kopi langgananku. Ahhh, rasa kopi ini tak berubah sama sekali. Masih sama seperti dulu saat aku masih remaja dan masih duduk di bangku kuliah. Namanya Kedai Teha, dahulu aku sering menghabiskan waktuku di sini bersama teman seperjuangan. Mulai dari diskusi dan bercengkrama tentang hal yang serius hingga membahas hal-hal yang begitu sepele kalau sekarang mungkin lebih terkenal dengan nama “Kongkow-kongkow”.

Aku duduk di sebuah taman sembari membaca koran yang tadi pagi aku beli namun belum sempat kubacanya. “Mau semir sepatu, Pak?” tawaran dari seorang remaja itu membuyarkan konsentrasiku dalam membaca. “Hmm, boleh silahkan” pintaku kepadanya. Akupun melanjutkan kegiatanku tadi dan di salah satu laman koran tadi aku menemukan berita yang sangat menarik sekali dengan judul berita “Matinya Demokrasi di Kampus Hijau” . Di mana ada seorang Mahasiswa di Universitas X yang ada di Banjarmasin yang menyuarakan dan meminta haknya tetapi malah diskorsing selama satu tahun lamanya. Dan ada pula kolom-kolom opini masyarakat yang mengeluhkan biaya pendidikan yang semakin mahal selain opini berita penangkapan dan penyelidikan kasus korupsi oleh tikus-tikus berdasi yang tak kunjung selesai permasalahannya seolah-olah sudah menjadi budaya yang menjamur di negeri ini. “Apa salahnya menyuarakan pendapat dan suara. Bukankah hal tersebut sah-sah saja mengingat negara ini adalah negara demokrasi di mana semua orang berhak menyatakan pendapatnya masing-masing. Apa yang salah? Mengapa malah diskorsing?”, keluhku sendiri.

“Ahh, nampaknya memang benar ya pak pendidikan hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki kekuasaan serta orang berduit saja”, tanpa sadar anak itupun ikut memberi komentar.
“Maksudmu nak?” tanyaku kepadanya.
“Hmm bukankah pendidikan merupakan salah satu elemen yang sangat penting pak untuk mencetak generasi penerus bangsa. Tapi saya melihatnya sistem pendidikan di negara ini masih jauh dari apa yang diharapkan. Masih banyak masalah di sana-sini, masih banyak tugas dan PR pemerintah dalam membenahi sistem pendidikan. Contohnya saja masalah mahalnya biaya pendidikan yang tidak dapat dijamah dan dijangkau oleh kalangan bawah seperti kami ini pak”, jawabnya sambil tetap melakoni pekerjaannya menyemir sepatuku.

“Dan satu lagi pak, pertanyaan ini sebenarnya yang selalu hinggap di pikiran saya setiap harinya. Bukankah pendidikan merupakan hak seluruh rakyat Indonesia seperti yang tercantum dalam UUD 1945 yang berbunyi salah satu tujuan negara kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini mempunyai konsekuensi bahwasanya negara harus menyelenggarakan dan memfasilitasi seluruh rakyat untuk memperoleh pengajaran dan mengenyam pendidikan yang layak. Seharusnya dalam hal ini Pemerintah harus mengusahakan agar pendidikan dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Saya sering mendengar kalau hanya orang kaya saja pak yang boleh menikmati indahnya pendidikan di negeri ini. Apalah daya orang kecil seperti kami pak, bisa makan hari ini saja sudah syukur alhamdulillah hehehe. Emm tapi pak kira-kira apa yah penyebab mahalnya pendidikan di negeri ini? dan siapakah yang patut untuk disalahkan?”, tanyanya padaku.

“Pertanyaan yang bagus nak, begini saya akan menjelaskan secara singkatnya saja. Pada tahun 2016/2017 terjadi perubahan regulasi dari kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Cakupan yang mengalami perubahan regulasi ialah mulai dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi yang awalnya di bawah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berada di bawah cakupan Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (RISTEK DIKTI) pada tahun 2015. Nah dari regulasi tersebut, Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia tidak diberi subsidi dana dari pemerintah pusat. Jadi Perguruan Tinggi Negeri tersebut dituntut untuk memperoleh dan membiayai dirinya sendiri. Dengan hal inilah kenaikan biayanya dirasa cukup besar”, jawabku padanya.

“Tapi bukankah jika kita merujuk pada peraturan-peraturan tentang Perguruan Tinggi, misalnya saja pada Pasal 88 UU Perguruan Tinggi yang secara tegas menyebutkan bahwa biaya yang ditanggung mahasiswa harus disesuaikan dengan kemampuan ekonomi mahasiswa, orang tua mahasiswa, atau pihak lain yang membiayainya? namun kenyataannya, banyak mahasiswa mendapat beban yang berat dari kebijakan tersebut”.

Akupun sangat syok mendengar jawaban dari anak ini yang begitu kritis seolah-olah sudah pernah menjadi korban ganasnya sistem pendidikan di negeri ini. “Hmm, kau sangat kritis sekali nak, seolah-olah kau pernah mengalami permasalahan ini?”. “Saya memang belum pernah mengalami secara langsung pak, tetapi guru saya yang harus merelakan mengubur impiannya untuk mendapatkan gelar S1 akibat bobroknya sistem pendidikan kita saat ini, Pak”.

Aku semakin bingung dibuatnya.”Guru? bagaimana bisa hal tersebut bisa terjadi? Kalau boleh Bapak tau siapa namamu dan bolehkah saya tau sedikit tentang gurumu yang luar biasa hingga mampu membuat dirimu sehebat ini nak?”. “Nama saya Zakaria pak, guru saya sebenarnya masih mahasiswa semester 3. Tetapi beliau harus rela mengubur impiannya dalam-dalam karena faktor biaya kuliah yang setiap tahunnya semakin mahal dan naik. Jadilah beliau sekarang yang secara sukarelawan berbagi ilmu dengan kami-kami ini pak”. “Wah hebat sekali gurumu itu, mulia dan menarik sekali. Jarang-jarang ada orang dengan pemikiran yang seperti itu. Bolehkah saya ikut denganmu dan mengetahui proses pembelajaran kalian seperti apa nak?”. “Hmm…benarkah bapak ingin ikut dengan saya? Dengan sengang hati pak saya bersedia”.

Akupun memutuskan mengikuti langkah anak ini, hingga akhirnya langkah kami harus terhenti di sebuah gazebo kecil di depan sebuah rumah sederhana namun sangat terawat itu. Di sana nampak seorang gadis yang sedang menulis di papan tulis diikuti beberapa remaja jalanan dan anak-anak yang tak asing bagiku karena mereka adalah sekumpulan remaja yang mengamen dan anak penjual koran tadi pagi. Kupandangi dari remaja wanita tadi yang dengan telaten dan sabarnya mengayomi anak-anak tadi.
Setelah selesai dengan urusannya tadi akupun berniat menghampirinya dan ingin menjawab rasa penasaranku terhadapnya. Ngobrol panjang kali lebarlah kami berdua hingga dia mengungkapkan alasannya untuk meninggalkan bangku perkuliahannya.

“Pada akhirnya aku tutup mimpiku untuk menjadi sarjana. Jika hanya untuk menjadi sarjana aku harus membunuh orang tuaku secara perlahan, lebih baik aku yang mengubur mimpi itu semua. Bangku kuliah nyatanya mahal dan terlalu tinggi untuk ku duduki, aku bahkan tak melihat bangku itu lagi karena tertimbun uang, dari aku yang menunggu semester 3”, tutur gadis yang bernama Riska itu.

Sontak saja jawaban Riska mengingatkan pada masa laluku, di mana aku harus melihat teman-teman seperjuanganku menghilang satu-persatu. Bukan meninggal atau hilang ditelan bumi tetapi hilang dalam artian meninggalkan bangku perkuliahan yang disebabkan oleh hal yang hampir sama seperti yang dialami Riska sekarang. Dan yah inilah aku sekarang. Aku si pengecut dan si pecundang. Aku masih tetap takut untuk keluar dari zona nyamanku, di mana dari dulu aku masih selalu saja takut untuk bersuara karena menurutku dapat membahayan posisiku sendiri. Aku yang selalu diam dan bungkam saat dulu temanku menyuarakan haknya dan aku mengacuhkan hal tersebut dan memilih untuk fokus memikirkan diriku sendiri dan bagaimana selalu mendapatkan nilai A dari dosen. Dari sikap pengecutku itulah malah yang membuat penyesalan seumur hidupku karena aku harus rela melihat satu persatu hengkang dari bangku perkuliahan.

Yah mungkin aku egois, silahkan kau sebut diriku seperti itu. Aku bermata tapi tak melihat, aku melihat tapi tak belajar, aku belajar tapi tak memahami, aku memahami tapi tak meyakini, aku meyakini tapi tak mengamalkan. Dan akulah si bodoh dan si pengecut itu. Pesan yang selalu kuingat dari kawanku dulu adalah beranilah jika kau merasa benar dan yakin, jangan takut dan jangan ragu. Kamu itu manusia bukan hewan!. Setidaknya jadilah manusia yang bermanfaat untuk sesama walaupun hanya sedikit. Maka dalam hati kecil ini berteriak dengan lantangnya “Izinkan saya untuk menebus sikap pengecut saya dulu, saya tidak ingin hal buruk yang pernah saya alami menimpa gadis ini”.

“Nak, besok ikut saya ke kampusmu lalu kita selesaikan semua permasalahanmu termasuk biaya administrasimu. Saya akan dengan senang hati membantumu hingga kau lulus dan memperoleh gelar sarjanamu dan kuharap kau tidak menolak bantuan ini”.
………

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here