Nyadran: Wujud Berdamai dengan Alam

0
146

Memegang budaya dan kekayaan kultur masyarakat modern saat ini mungkin mejadi sebuah suatu hal yang mahal dan sulit dilakukan di kawasan tertentu seperti di kota-kota besar, bahkan di beberapa desa kekayaan budaya masa lalu sudah sulit dipertahankan oleh generasi yang ada.

Dengan contoh riil adalah sekitar 15 hari sekali, bahasa di Indonesia akan mengalami kepunahan (menurut data dari UNESCO) seperti yang dikutip dalam liputan6.com.

Namun, tidak sedikit pula masyarakat di Indonesia yang menjaga dan melestarikan nilai-nilai adiluhung yang dimiliki dan melestarikan tradisi. Pada umumnya di beberapa tempat yang sudah penulis kunjungi, tradisi serta kultur yang ada di desa-desa lebih lestari daripada di daerah kota.

Salah satu kultur budaya yang masih dipertahankan adalah Nyadran yang dilakukan di dukuh Toro, Desa Kaliwedi, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen.

Nyadran merupakan sebuah ritual yang dilakukan dengan pemberian semacam persembahan pada tempat-tempat terntentu dengan harapan, Sang Maha Kuasa memberikan keberkahan dan menolak semua mara bahaya dan balak yang ada.

Nyadran yang dilakukan di Dukuh Toro ini ada beberapa macam yakni, nyadran yang dilakukan di pemakaman leluhur, nyadran yang dilakukan di sawah, dan nyadran yang dilakukan di sumber mata air.

Nyadran di pemakaman leluhur dan sumber mata air dilakukan setiap akan ada acara pernikahan. Sedangkan, nyadran di sawah dilakukan diadakan setiap hari Jumat Legi pertama setelah melakukan cocok tanam yang bisa disebut dengan Jumat Legen.

Baca juga:  Menyoroti Produksi Tenaga Kerja Kita

Dalam pembahasan tulisan ini, penulis lebih berfokus pada nyadran di sawah / jumat legen. Nyadran ini dimulai dengan doa bersama yang dilakukan oleh warga desa yang diadakan di rumah salah satu tokoh desa.

Doa dipimpin oleh seorang mbah modin. Semua orang diharuskan membawa ambengan (nasi, ayam panggang, sayur kentang, abon kelapa / srundeng, tahu tempe bacem, krupuk yang dijadikan satu dalam sebuah wadah).

Setelah melakukan doa bersama semua orang akan kembali ke rumah masing-masing lalu membuat cokbakal yang akan ditaruh di salah satu pematang sawah. Dalam cokbakal terdapat semua yang ada dalam ambengan, tapi dengan porsi yang kecil. Dan prosesi terakhir dari nyadran ini adalah dengan meletakan cokbakal yang telah dibuat sebelumnya ke areal sawah yang dimiliki.

Dalam meletakkan cokbakal tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Cokbakal ditempatkan di tulakan (jalan air yang pertama dalam petak sawah yang dimiliki) yang selanjutnya memanjatkan doa oleh orang yang meletakan cokbakal tadi dengan harapan padi yang ditanam tidak diserang hama.

Makna di Balik Nyadran

Baca juga:  Membumikan Konsep Islam Progresif Bung Karno

Nyadran dilakukan warga dukuh Toro ini merupakan kebudayaan yang sudah ada sejak nenek moyang. Di mana upacara yang sama ditujukan untuk memberikan persembahan kepada Dewi Sri (dewi penunggu padi). Banyak kalangan yang menilai bahwa praktik seperti ini sering dikaitkan dengan ritual mistik yang tidak ada tuntunannya dan dianggap menyimpang dari ajaran agama.

Namun, dalam fakta di dukuh Toro, upacara seperti nyadran atau jumat legen ini masih berlangsung hingga kini. Seperti yang dilakukan oleh para warga dukuh Toro pada Jumat Legi, 27 Desember 2019.

Alasan yang masih lestarinya ritual nyadran ini selain meneruskan apa yang diajarkan oleh para leluhur adalah nyadran ini merupakan upaya untuk berdamai dengan alam dan penghuninya.

Cokbakal yang diletakkan di sawah tadi adalah wujud sedekah yang diberikan kepada hama seperti tikus. Di mana hal ini merupakan bagian dari pengamalan dari agama islam yang merupakan rahmat bagi seluruh alam, tidak peduli itu manusia, hewan dan lain-lain. Dengan begitu, harapan Allah SWT memberikan rezeki dan panen yang baik akan mudah didapat.

Namun, dengan pemberian cokbakal ini terbukti dapat mengusir hama seperi tikus. Hal ini sangat beralasan karena, di cokbakal ada makanan yang terdapat dalam ambengan yang tadi didoakan bersama.

Baca juga:  Implikasi Sinar Matahari terhadap Covid-19

Hampir semua petak sawah di dukuh Toro atau se-desa Kaliwedi meletakan cokbakal di setiap sawah yang dimiliki. Dengan begitu, akan menciptakan sebuah sistem imun komunal (dalam istilah vaksinasi). Di mana tikus akan memilih memakan cokbakal tadi dari pada memakan padi. Setelah habis cokbakal tadi maka akan mencari cokbakal yang lainnya.

Selain itu masyarakat dukuh Toro percaya, mengusir hama dengan cara memberikan makanan seperti ini jauh lebih aman bila dibandingkan dengan mengusir atau membunuh hama dengan menggunakan bahan kimia yang memiliki efek samping. Di samping itu masyarakat mengamini bahwa semua makhluk yang diciptakan akan berbuat baik bila diperlakukan dengan baik.

Dan masyarakat masih memercayai segala kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, dan segala keburukan akan kembali lagi dengan keburukan.

Terlepas dari anggapan miring mengenai kegiatan nyadran atau Jumat Legen adalah hal yang syirik dan tidak ada tuntunannya, tapi masyarakat masih melestarikan dan terus menjaga budaya yang adiluhung dari daerah pojok timur Provinsi Jawa Tengah.

Sayangnya, masyarakat yang anti dengan upacara persembahan seperti ini sering menganggap hal demikian ditujukan bagi penunggu atau pesembahan untuk jin yang ada. Namun lupa, bahwa semua perbuatan tergantung pada niatnya.

Penulis: Sidik Pram

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here