Ninik: Tidak Ada Rencana Lulus Usia Muda

0
94

Semarang, Justisia.com – Suasana hiruk-pikuk warnai kampus pagi ini, Rabu (6/3/2019). Akses ke gedung perkuliahan begitu padat dan ramai. Bahkan beberapa waktu cukup sulit untuk sekadar hendak lewat. Di hari-hari biasa, kendaraan roda dua yang berseliweran memadati kampus, namun tampaknya hari ini kendaraan roda empat juga hendak ikut andil memenuhi setiap sudut kampus.

Tak luput para pedagang riuh di sepanjang jalan di sekitaran Auditorium kampus 3. Seketika menambah padatnya akses jalan.

Berbicara tentang lulus di usia belia, sebagian orang beranggapan bahwa menjadi widsudawan di usia yang masih muda pastilah membutuhkan usaha yang cukup untuk mendapatkannya. Sebab banyak hal yang wajib dilalui untuk menuju ke arah sana. Namun siapa sangka, jika hal ini justru terjadi di luar perencanaan sama sekali.

Seperti yang dialami oleh Ninik. Wisudawati jurusan Ilmu Falak ini mampu menuntaskan masa perkuliahannya di semester 8 dengan usia 21 tahun. Dengan ini ia mendapat predikat salah satu wisudawan termuda pada wisuda periode Maret di tingkat universitas dan menjadi wisudawan termuda di tingkat fakultas.

Ketika ditanya ia mengaku tidak memiliki rencana tertentu untuk lulus di usia muda dan mendapat predikat wisudawan termuda.

“Sebenarnya sejak dulu tidak ada target untuk lulus muda di semester tujuh ini. niat saya yang penting semester delapan sudah lulus,” kata Ninik.

Ke depan Ninik belum memiliki pandangan terkait apa yang akan ia lakukan. Karena menurutnya ia merupakan tipe orang yang mengikuti arus; ketika nyaman kemudian ada kesempatan serta keinginan maka ia akan lakukan. Seperti halnya kelanjutan mengenai studinya.

“Rencana untuk selanjutnya saya akan ngabdi di pondok asal yaitu pondok Riyadlotuth Thalabah Sedan Rembang. Karena Saya lahir dari beasiswa PBSB yang berasal dari kemenag dimana syarat setelah lulus harus mengabdi di pondok asal,”.

Mahasiswa Jurusan Ilmu Falak ini tidak jauh kesehariannya dengan lingkungan pondok. Ia menyelesaikan studinya sembari mondok di Pesantren Life Skill Daarun Najaah.

Selain mondok, ia juga fokus pada organisasi CSSMORA di bagian Kominfo selama dua periode dan menjadi kru Lpm Zenith dengan lama yang sama.
Wanita kelahiran Rembang ini berharap kedepannya bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi setiap orang.

“Saya ingin di mana ketika saya hilang, orang lain akan merasa kehilangan,” tuturnya. (Rep:Riska/Red:Am)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here