Putri bungsu dari pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah tidak dapat dipisahkan dengan Semarang. Meski telah menapakan kaki di belahan dunia dan sempat lama di Benua Eropa pada akhirnya, Dini kembali ke Semarang

Redaktur sastra Suara Merdeka, Triyanto Triwikromo mengatakan, “Semarang sayup-sayup memanggil-manggil Si Anak Hilang. Semarang menunggu calon pengarang besar, membangun semacam “momentum ingatan” tentang Semarang yang menolak dilupakan,”.

Semarang dan Dini telah melekat, dalam karyanya Pada Sebuah Kapal Semarang telah memberikan sebuah atmosfer kekuatan spiritual. Bagi Dini semarang tidak sekedar kota yang selalu menjadi latar tempat novel-novel, dan seri kenangan atau kota kelahiran. Semarang telah memberi segalanya mulai dari pengalaman batin, pijakan spiritual dimana memberi arahan bagi perkembangan jiwa, saat menghadapi konflik, krisis dan pergulatan hidup.

Hal itu disampaikan oleh Sastrawan, S. Prasetyo Utomo pada hari Sabtu (2/03) di Toko Buku Gramedia, Sekayu, Semarang, Jawa Tengah. Acara bincang sastra bertajuk “Semarang dalam Karya NH Dini” adalah acara yang pertama kali di gelar di kota kelahiran penulis novel La Barka.

Acara mengenang NH Dini Juga digelar di Bentara Budaya Bali pada 27 Februari dan sebelumnya di gelar di Bentara Budaya Solo dan Jakarta. Kumpulan Ibu-Ibu Baca Semarang juga hendak mengadakan acara yang sama tanggal 29 Maret mendatang.

Peraih SEA Write Award dari pemerintah Thailand yang kerap kali didapuk sebagai pengarang yang mencanangkan tonggak feminisme. Dalam pandangan Prasetyo, Marie- Claire Lintang kerap kali melakukan eksplorasi terhadap ekosistem wilayah Semarang, dengan kekuatan detail deskripsi, Bahasa lugas, akan tetapi rinci terhadap obyek yang sangat diakrabinya. Semarang sebagai deskriptif ekosisitem sosial-kultural, mempertautkannya dengan atmosfer kebudayaan yang membentuk jati dirinya, seperti dalam karya seri kenangan Gunung Ungaran.

Dalam seri kenangan Dari Parangakik ke Kampuchea, Dini memunculkan endapan pengalaman menonton Wayang orang Ngesti Pandawa di GRIS yang sekarang berdiri Gedung Paragon, Semarang. Di Gedung wayang orang, Dini mendapat pakaian Tari Kelon Gandrung , pakaian itu ia kenakan saat makan malam di kapal yang ia tumpangi perjalanan dari Marseille ke Saigon bersama Lintang, yang kemudian menyusup dalam jalinan cerita di Seri Kenangan-ya.

Penulis Novel Bidadari Meniti Pelangi mengatakan bahwa Semarang juga menjadi “rumah jiwa” bagi kembalinya NH Dini setelah jauh mengembara. Setelah dipinang oleh Diplomat Perancis serta di boyongnya, Dini mengembara jauh, mengalami benturan-benturan kebudayaan dan keguncangan jiwa. Dia lantas menemukan tempat untuk pulang, kembali ke tradisi awalnya kala kembali ke Semarang.

Novelis yang dikaruniai dua anak dari pernikahanya dengan Yvess Coffin, menuliskan kisah-kisah yang pekat dengan religiusitas. Penerima Penghargaan Anugrah Kebudayaan 2007 memaparkan bahwa Dini menuliskan peristiwa-peristiwa realitas keseharianya, konflik-konflik kecil yang diselesaikan dengan kekerabatan, dan konflik batin yang dituturkan lewat kesalehan religiusitasnya.

Prasetyo juga mengajak kita menengok dalam seri kenangan bertajuk Dari Ngaliyan ke Sendowo, disana ke religiusan Dini begitu nampak, saat ia merenungi perjalanan hidupnya di hari tua. Ia merenung tentang takdir, kematian, dan alam baka. Salah satu sastrawan Indonesia juga menuturkan bahwa Dini dalam menjaga kesehatan tubuhnya dengan dzikir.

La Grande Borneo juga turut menjadi saksi kereligiusan Dini, dalam krisis perkawinan di Prancis, ia senantiasa mencari pijakan pada ajaran-ajaran ibunya, akar kultural dan spiritualnya. Justru ketika ia berada ditanah rantau, dalam menghadapi kegoncanghan jiwa perkawinan dan kehidupan.

Ia akan senantiasa ingat akan ibu, yang telah memberi keteguhan jiwa, keagungan kewanitaanya, dengan kekuatan spiritual yang diajarkan dalam lingkungan keluarga, juga ketuhananya, yang tertanam semenjak ia kecil di kota kelahiranya. Semarang dengan segala pengalaman jiwa telah mengikat perkembangan kepribadianya.

Akademikus UPGRIS Semarang pun, menganggap Wanita berdarah Bugis melakukan defamiliarisasi latar kehidupan dalam novel Pada Sebuah Kapal. NH Dini membuka novelnya dengan latar di kampung pinggir Kota Semarang tetapi tidak disebutnya sebagai wilayah Sekayu.

Prasetyo juga mengaggap Dini telah melakukan defamiliarisasi deskripsi latar yang membiaskan Sekayu sebagai kampung dengan ciri kultur masa kecil tokoh Sri agar ia terhindar dari tradisi mimetik dalam penciptaan karya sastra.

Dini dalam Arah Kepengaranganya

Novelis yang sudah terjun dalam dunia kepenulisan kala masih belia, seperti dikisahkan dalam Langit dan Bumi Sahabat Kami Nurhayati Sri Hardini Nukatin alias NH. Dini kecil berkumpul bersama keluarganya, ayahnya tiba-tiba berdiri dan membawa beberapa buku tulis miliknya.

“Kalian tidak tahu, bahwa adikmu yang paling bungsu seorang pengarang, Bukan?” ucap sang ayah sambil menyodorkan buku-buku Dini kepada kakak-kakanya. Di dapati puisi, catatan harian dan lain-lain yang semuanya ditulis olehnya. Sang ayah menambahkan bahwa anaknya yang paling muda banyak menulis puisi dibandingkan karya yang lain, meski tanpa memikirkan aturan jumlah kata dan barisnya.

Dini yang sudah tidak asing dengan tulisan pada paruh pertama tahun 1950-an sudah merasa yakin dan mantap di bidang kepengarangan. Tulisan alwal Dini yang umum secara luas adalah Pendurhaka. Sajak-sajak dini telah di muat di beberapa media majalah seperti  Gajah Mada dan Basis, serta disiarkan di RRI Swemarang dan Jakarta.

Kala itu, dimana ia merasa sajak jarang peminatnya ia pun mulai beralih pada cerita pendek. Dini memberanikan diri untuk mengirim cerita pendeknya ke Majalah Kisah, dan dimuat. Setelah sebelumnya karya-karyanya dimuat di sejumlah media daerah, bukan hanya itu, karyanya kerap kali menjadi sorotan redaksi. Pembahas paling sering adalah H.B Jassin, tokoh dewa sastra yang bagi siswa-siswa Sekolah Menengah Pertama sulit dijangkau.

Memasuki usia SMA, kumpulan cerita pendeknya yang berjudul  Dua Dunia diterbitkan pada tahun 1956. Selepas lulus sekolah sastra, ia bekerja sebagai pramugari di Garuda Indonesia. Tahun 1960, seorang diplomat perancis meminangnya dan ia memulai pengembaraanya berpindah-pindah negara.

Meski sibuk sebagai istri seorang diplomat dan ibu dari dua anak , NH Dini rupanya tidak melupakan minatnya pada menulis. Pasaca bercerai pada tahun 1984, karya-karyanya mulai hadir lagi dan membanjiri ruang baca masyarakat Indonesia.

Disamping penulis yang dilabeli beraliran feminimisme, dengan karya-karyanya yang banyak menyeuarakan perlawanan terhadap perempuan terhadap tradisi patriarki yang mendominasi pelbagai kehidupan. Pada  Sebuah Kapal, Kemayoran, dan Orang-Orang Trans. Dini juga disebut sebagai penulis serta Pelopor Semi Kenangan, tutur Pemburu Kafka Indonesia.

Dalam tuturan dini di Pondok Baca Kembali ke Semarang, kaget ketika dirinya di golongkan sebagai perempuan pengarang penganut paham feminisme, “Aku menulis tanpa dasar pikiran ‘isme-isme’ apapun. Yang menjadi pengaranganku adalah keadilan. Dengan sendirinya akan tercangkup kemanusiaan,” ucapnya NH Dini sebagaimana diwartakan Tirto.id.

Barangkali hanya sebatas label, sebab keadilan yang ia perjuangkan adalah nasib perempuan yang menjadi subordinasi dalam kehidupan sehari-hari, dan ia menjadi makhluk nomor dua setelah laki-laki.

“Oleh tradisi, juga didukung agama dan salah kaprah, manusia lelaki selalu dimenangkan dalam semua bidang,” tulisnya.

Kekecewan itulah yang membuat dorongan nurani Dini agar terus-menerus menggedorkan tembok tradisi lewat kisah-kisah yang tajam. Bagi Triyanto

“Dini juga bukan tokoh feminisme karena karya-karyanya yang dipandang membela kaum perempuan,Itu hanya pandangan orang saja,” ia hanya sebagai seorang penulis Semi Kenangan karena sering kali melakukan penumpukan teks dalam beberapa karyanya.

“Bu Dini kerap kali mengulang hal yang sama dalam karya-karyanya yang lain,” tutur angggota Komunitas Sastra Lereng Mendini.

Bayak tulisan NH dini yang terjadi penumpukan teks seperti dalam karya-karyanya dalam buku semi kenangan  seperti  Gunung Ungaran, Padang Ilalang di Belakang Rumah, Sebuah Lorong di Kotaku, Sekayu, dan Langit dan dumi Sahabat Kami.

Mengutip karya Nukila Amal, Cala Ibi. “Telah jauh kau berlari meninggalkan kota, melintas kampung terakhir, sebuah rumah berlampu pijar gemetar mejauh di belakangmu. Kakimu tak lagi merasakan aspal keras namun tanahmu lunak agak basah. Kau melambatkan larimu, menyadari sekelilingmu telah berganti rupa. Jalan tak lagi bernama…”

Ibu dari pembuat film Minion tidak akan pernah melupakan Semarang, Dini dan Semarang adalah dunia yang terhimpit, tak terpisahkan pungkas penulis novel Metamorfosis kafka. (Rep: ZN/Ed: IS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here