Oleh: Harlianor

Sejauh oksigen terus dihirup dan sejauh jarum jam terus berputar, kita ternyata keliru dalam memahami konsep takdir. Dalam pemahaman yang berkembang selama ini, takdir merupakan nasib yang sudah ditetapkan semenjak sebelum manusia dilahirkan dan berkonotasi ke arah yang negatif. Seperti halnya ungkapan-ungkapan pesimistik yang selama ini kita pakai dalam memahami kehidupan, yakni nerimo ing pandum (terima saja apa yang sudah ditetapkan), pulung sugih yo sugih pulung mlarat yo mlarat (nasib kaya, ya bakal kaya. Nasib miskin, ya bakal miskin), alon-alon sukur kelakon (pelan-pelan asalkan terjadi), dan sebagainya.

Kasus yang sering menjadi tumbal percontohan dari nasib adalah rezeki, jodoh, dan kematian. Bagi mereka yang memahami bahwa rezeki sudah ditetapkan semenjak sebelum seseorang dilahirkan ke dunia, maka tentu rezeki itu akan tetap diperoleh walaupun dengan malas-malasan. Tapi apakah benar demikian?

Padahal jika kita melihat realitas yang terjadi, tidak ada orang yang bermalas-malasan bisa menjadi kaya. Walaupun harta itu bisa jadi turunan dari orangtuanya, tentu saja orangtuanya mendapatkannya dengan kerja keras. Kita bisa buktikan semisal dalam sebulan ada orang yang malas-malasan saja tidak melakukan apa-apa dengan orang yang serius bekerja mencari rezeki. Tentu orang yang bermalas-malasan tidak akan mendapat rezeki yang sama dengan orang yang bekerja.

Begitu juga halnya dengan jodoh. Jika tetap memelihara pemahaman tentang konsep nasib, maka dalam melihat jodoh pun kita tidak akan mau berusaha mendapatkannya. Atau ketika sudah menikah, lalu merasa tidak cocok dengan pasangan maka langsung mengambil jalan perceraian. Lalu menikah lagi, kalau tidak cocok lagi maka cerai lagi. Begitu seterusnya. Lalu jodoh yang sudah ditetapkan itu dari pasangan yang pertama atau kedua atau yang mana?.

Ada ungkapan kalau dia memang jodoh maka tak akan lari kemana. Sungguh ungkapan yang seperti ini sama sekali tidak mendidik karena pola pemikiran seperti akan membawa kepada sifat pesimis. Akan tetapi kalau kita menginginkan mendapat jodoh yang baik maka harus diusahakan bukan dengan diam tanpa aksi berharap jodoh yang baik akan datang sendiri.

Pun ketika kita melihat pada hal kematian. Jika kita berpandangan bahwa kematian baik waktu dan prosesnya sudah ditetapkan, maka bagaimana halnya dengan masyarakat yang berada di negara miskin dengan kualitas hidup lebih pendek dibanding masyarakat yang berada di negara maju dengan kualitas hidup yang lebih tinggi?. Apakah ini memang karena nasib?. Kalau iya, maka kita akan membiarkan nasib mereka seperti itu. Entah itu mereka akan mati muda, ya terserah. Toh, juga itu memang sudah jadi nasib mereka, tidak perlu diusahakan peningkatan pelayanan kesehatan dan pencegahan penyakit di masyarakat.

Seperti yang ditulis Agus Mustofa dalam bukunya berjudul “Mengubah Takdir”, bahwasanya nasib bukanlah takdir. Nasib itu sendiri akan mengarah kepada perilaku-perilaku yang statis, pasrah, dan malas. Sedangkan takdir itu berorientasi kepada perilaku yang dinamis serta meniscayakan kreatifitas dengan usaha maksimal untuk meraih takdir yang baik.

Ternyata selama ini kita salah kaprah dalam memahami takdir sehingga kita tidak memiliki pemikiran revolusioner untuk bergerak ke arah yang lebih maju, alih-alih untuk membangun bangsa dan negara. Karena semuanya sudah ditakdirkan oleh Dzat Pemilik alam raya yang Maha bijaksana dan Maha adil. Bukankan sifat Allah itu memang demikian?

Takdir itu hasil dari usaha, bukan dari nasib
Sebagai muslim, kita tentunya mempercayai bahwa Al-Quran merupakan petunjuk yang berisi penjelasan terkait petunjuk itu sendiri. Hal ini bisa dilihat dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 185. Maka yang harus kita pedomani bukanlah ungkapan-ungkapan yang selama ini kita pegangi tetapi dari Al-Quranlah yang sudah jelas langsung diwahyukan Allah kepada Nabi SAW.

Dari Al-Quran kita akan menjumpai ayat-ayat yang menyuruh kita untuk bekerja dan berusaha bukan bermalas-malasan. Dalam salah satu firman-Nya bahwa Allah tidak akan merubah takdir suatu kaum jika kaum itu tidak melakukan usaha. Bahkan dalam Q.S. Al-Jumuah ayat 10 Allah menyuruh kita untuk bertebaran di muka bumi dan mencari karunia-Nya. Bukan hanya meminta dengan berdoa dan membaca wirid-wirid.

Coba kita cermati redaksi al-Quran yang sangat terkenal dari surah Ar-Rad ayat 11 mengenai takdir: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah . Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Kalau kita melihat dari sejarah perkembangan Islam, ada dua kubu ekstrem yang saling bertentangan dalam melihat takdir. Kelompok pertama memahami dari redaksi Allah tidak merubah. Sehingga mereka memahami bahwa yang memiliki kehendak untuk mengubah hanyalah Allah semata bukan dari manusia sehingga manusia hanya mengikuti saja tanpa bisa melakukan apa-apa. Pemahaman seperti inilah yang diteorikan oleh golongan yang disebut Jabariyah.

Sedang dari kelompok kedua, mereka berpendapat bahwa justru manusia sendiri yang menentukan takdirnya. Mereka bertumpu pada redaksi sehingga mereka merubah. Mereka memahami bahwa Allah hanya melegitimasi terhadap usaha manusia, selebihnya manusia sendiri yang berusaha untuk meraihnya. Allah sudah membuat aturan main berupa adanya hukum kausalitas atau sunnatullah sehingga siapa yang berusaha keras, maka dia akan mendapatkan hasilnya. Seperti inilah dari pemahaman kelompok bernama Qadariyah.

Namun nyatanya, dalam kehidupan sehari-hari kita tidak menemukan hal yang demikian. Dari kedua pemikiran golongan tersebut tidak terjadi dalam skala murni, akan tetapi adalah perpaduan dari kedunya. Tidak selalu dengan usaha keras yang dilakukan manusia bisa meraih apa yang diinginkannya, di situlah ada peran kekuasaan yang sangat besar dari Allah.

Terkait formulasi penetapan tersebut, Agus Mustofa menyebutnya sebagai segitiga sebab akibat. Di mana manusia itu sebagai subjek perbuatan untuk memicu, kemudian Allah mempertimbangkan usaha manusia, lalu terjadilah takdir berdasar dengan berbagai variabel hukum sebab-akitab yang melingkupinya. Maka begitulah mekanisme segitiga sebab akibat yang selalu terjadi setiap saat.

Takdir ini juga tidak hanya berlaku kepada manusia saja, akan tetapi juga berlaku pada makhluk-makhluk tidak berakal seperti binatang, tumbuhan, dan benda-benda mati. Bedanya hanyalah pada derajat kehendak yang tidak sama dengan manusia sehingga penetapan takdir mereka tidak begitu kompleks. Mereka tidak memiliki kehendak sebebas manusia atau paling tidak mereka memiliki kadar kehendak yang lebih rendah sehingga takdir mereka lebih berorientasi pada penetapan Allah.

Dari sini kita akan melihat bahwasanya takdir berjalan dengan sunnatullah yang telah Allah ciptakan. Sedang nasib hanyalah pemahaman yang berkembang di masyarakat tanpa adanya rujukan penguat. Tidak hanya itu, pemahaman dari nasib dengan sendirinya akan menggiring kita menjadi pesimistis sehingga tidak ada celah untuk melakukan kreativias serta inovasi untuk menaikkan level kebaikan dalam kehidupan. Padahal takdir adalah hasil pertimbangan Allah dari usaha manusia untuk diberikan yang terbaik bagi para hambanya sebagai implementasi sifat-Nya Yang Maha Pemurah. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here