Muslim Bersarung Menatap Salib

0
186

Semarang, justisia.com-Bedah buku Bersarung Menatap Salib dan diskusi diadakan oleh Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), Gusdurian Semarang dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Semarang pada Sabtu (21/12).

Buku ini merupakan kumpulan cerita dan  tulisan-tulisan yang bersifat reflektif dari pengalaman pribadi penulis, Tedi Kholiluddin yang memasuki gereja dan bertemu dengan teman-teman lintas agama yang lain.

Diskusi yang digelar di Wisma Grisma Sinode Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) ini selain Dr. Tedi Kholiluddin sebagai Penulis buku Bersarung Menatap Salib, juga dinarasumberi oleh Pdt. Rudijanto sebagai Dosen STT Abdiel, Setyawan Budi sebagai koordinator Persaudaraan Lintas Agama Semarang (Pelita) dan Ahmad Sajidin, Koordinator Gusdurian Semarang sebagai moderator. Diskusi ini juga dihadiri dari kalangan mahasiswa, tokoh agama dan masyarakat umum.

Tedi Kholiluddin yang juga merupakan ketua eLSA Semarang mengatakan bahwa, “Saya kira, isu besar yang coba saya angkat itu lebih bersifat reflektif. Jadi, tulisan ini tidak terlampau dogmatis. Meskipun saya juga belajar melihat sejarah gereja. Di bagian awal buku itu saya menulis tentang sejarah gereja Isa Al-Masih itu sedikit agak panjang. Tentang bagaimana gereja ini tumbuh dan berekembang di Kota Semarang. Ini adalah hal yang menarik. Karena Berbicara sejarah gereja adalah berbicara sejarah. Tidak harus orang Kristen sendiri yang menulis tentang gereja. Ada juga orang lain (di luar Kristen) yang menulis tentang hal itu.”

Baca juga:  Aliansi Mahasiswa UIN Walisongo Melawan Kembali Gelar Aksi

Ia juga menambahkan, “Saya berusaha menulis itu. Tidak begitu serius karena ini artikel biasa. Saya menulis lebih serius tentang Kristen di buku Menjaga Tradisi di Garis Tepi. Saya menulis tentang etnisitas dan religiusitas, Kesundaan dan Kekristenan.”

Sedangkan Setyawan Budi, mengatakan “Tulisan-tulisan dalam buku ini merupakan sebagian diambil dari kekristenan yang berkembang di Semarang. Ada beberapa gereja-gereja besar di Semarang ini awal mulanya adalah gereja etnis. Seperti sejarah gereja Isa Al-Masih itu yang dulunya bernama singlihkowe, Sing Ngilih Teko Dewe,” jelas Koordinator Pelita Semarang ini.

Selain itu, Rudijanto, Dosen STT Abdiel mengatakan, “Menariknya (buku ini) adalah ungkapan bersarung. Lalu juga ada sub judul, Pandangan Muslim. Maka, yang dimaksud muslim di sini adalah bukan muslim yang generic. Tapi, muslim Indonesia. Ini adalah jembatan menyeluruh. Ini adalah cara seorang muslim Indonesia melihat gereja, kebangsaan dan kemajemukan.”

Rudijanto juga mengutarakan rasa ketertarikannya pada buku tersebut, yang memandang Kristen sebagai fenomena atau gejala sosial. Beliau juga menyarankan siapapun berhak menstudi hal tersebut dan berlaku bagi agama-agama lainnya juga.

Baca juga:  Respon Kejadian di Selandia Baru, Nadirsyah Hosen: Teroris Bukan Islam Saja

Reporter: Evan
Penulis: Evan
Editor: Nur Hikmah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here