Musik Indonesia Bukan Kaleng-Kaleng

0
145
Gambar: IDN Times

Oleh: M. Rifqi Arifudin

Musik adalah alunan ekspresi jiwa. Keresahan yang merambat melalui suara. Tetapi bukan hanya itu saja. Musik juga sebuah tanda eksistensi bangsa.

Indonesia dalam hal musik tidak bisa dianggap ecek-ecek. Budaya musik Indonesia sebenarnya memiliki pasar internasional yang cukup mengesankan. Lihat saja Malaysia dan Singapura. Keduanya adalah negara yang menjadi pasar musik kuat Indonesia.

Dalam buku Revolusi Indie label karya Jube menuturkan bahwa dominasi musik Indonesia kepada Malaysia khususnya sudah dimulai sejak tahun 1960-an. Dalam hal ini RRI sebagai media cukup dominan juga memiliki andil dalam mengekspor pasar musik Indonesia ke kancah internasional. Saat itu RRI pernah meminjamkan hampir 50 % koleksi lagu-lagunya kepada Radio dan Televisi Malaysia (RTM). Mulailah tercipta musik habit masyarakat Malaysia mendengarkan lagu-lagu Indonesia.

Tidak heran jika musisi-musisi terkenal Indonesia tiap kali mengadakan konser, penonton yang datang hamper puluhan ribu orang. Bukan hanya datang, mereka bahkan ikut melantunkan tembang-tembang yang dibawakan sampai suara sang vokalis tidak terdengar. Sebut saja seperti Sheila on 7 , NOAH, Letto, Nidji, Rosa, Afgan, dan masih banyak lagi sederet nama Musisi Indonesia yang sangat familiar di telinga masyarakat Malaysia.

Sejalan dengan penjelasan di atas, CNN juga pernah menuliskan, salah seorang artis kenamaan Singapura yaitu Aisyah Aziz menuturkan jika musik Indonesia memang memiliki kualitas yang bagus. Selain itu, diakui pula memang dalam hal menuturrkan kata saja orang Indonesia memiliki melodi yang khas.

Yang menjadi sorotan adalah mengapa sebaliknya musik Malaysia sangat sulit masuk di Indonesia. Mungkin jika ada sebuah survei untuk menyebutkan siapa musisi Malaysia yang diketahui, kemungkinan besar yang responden sebutkan hanyalah Siti Nurhaliza dan Iklim. Padahal pangsa music asing di Indonesia sangat terbuka lebar.

Bukti nyatanya adalah banyak pula masyarakat Indonesia yang lebih condong untuk mendengarkan music barat, J-pop, K-pop ataupun C-pop. Hal ini juga menjadi titik lemah kancah kreatif musik Indonesia. Derasnya kultur asing yang masuk menyebabkan ongkos budaya menjadi mahal.

Oleh sebab itu hal ini menyebabkan Indonesia menjadi negara yang miskin kreativitas. Tentu saja adanya ongkos budaya yang mahal juga menjadikan sikap kurang percaya terhadap budaya sendiri. Namun bagaimanapun juga kita perlu bangga bahwa budaya musik Indonesia memiliki akar yang kuat di negara lain.

Kembali lagi, seperti apa yang dituliskan Jube dalam bukunya menjelaskan, ekspor budaya sangat diperlukan karena berkenaan langsung dengan kegiatan untuk mempertahankan dan mengembangkan budaya nasional. Di masa silam, negara sibuk untuk menyaring budaya tetapi lupa untuk memperkokoh budya sendiri. Bagaimana ingin mengekspansi negara lain dengan budaya jika memperkokoh budaya sendiri bias di pelupuk mata.