Justisia.com- Kurang beberapa sebelum jam pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Walisongo, puluhan selebaran muncul secara misterius. Selebaran ini ditempel di gedung, pohon, tempat duduk hingga belakang perpustakaan pusat.

Selebaran berisikan tentang ketidaksetujuan mahasiswa terhadap UKT (Uang Kuliah Tinggal) yang terlampaui tinggi. “UKT Naik, fasilitas mencekik. UIN Walisongo bukan Kampus Rakyat”, begitulah isi salah satu selebaran yang tertempel di gedung D Fakultas Ilmu Tarbiyah Keguruan (FITK).

Selain di FITK, selebaran yang sama juga ditemukan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH), Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), di sepanjang jalan menuju kampus 2 dan juga di Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM). Hanya Fakultas Ilmu Sosisal dan Politik (FISIP) dan Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) yang tidak ditemukan selebaran tersebut.

Dalam selebaran yang lain, berisi kritikan terhadap fasilitas kampus yang tidak sesuai dengan UKT yang tinggi dan kritikan tentang transparansi dana Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Menurut salah satu pendapat mahasiswa yang tidak ingin disebutkan identitasnya mengatakan, “timbulnya ini (selebaran) adalah bentuk kekecewaan karena tidak transparannya kampus dan fasilitas yang demikian (buruk)”, ujarnya saat ditemui pagi ini, Senin (19/08) di kampus 3 UIN Walisongo Semarang.

Sampai saat para Mahasiswa baru sudah memasuki lapangan utama untuk pembukaan PBAK, pihak Universitas belum memberikan tanggapan dan tindakan.

Redaksi

1 KOMENTAR

  1. serangan fajar yang membahayakan. Haahha…. Gimana kampus mau maju kalo masih ada gituannya…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here