Mudik sebagai Proses kembali ke Fitrah

0
89
Ilustrasi: baligetaway.co.id

Oleh: Abdullah Faiz

Indonesia tercatat sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Tidak menutup kemungkinan masyarakat Indonesia sebentar lagi akan merayakan momen istimewa dalam ajaran agama Islam yaitu hari raya Idul Fitri. Perayaan Idul Fitri atau sering disebut lebaran oleh orang Indonesia adalah wujud kemenangan setelah menjalani proses ritual puasa di bulan Ramadan selama satu bulan penuh. Budaya dan tradisi pun melengkapi proses terlaksananya momentum hari raya itu. Tradisi bersilaturahmi dan saling memaafkan melekat dalam budaya masyarakat orang Indonesia yang berawal dari tradisi mudik sebagai ikon untuk kembali ke tempat asal.

Lebaran dan Idul Fitri
Idul fitri adalah salah satu hari raya semua lapisan masyarakat muslim di belahan dunia yang dilaksanakan dengan cara mereka masing masing. Istilah Idul fitri diambil dari kata bahasa Arab yang memiliki arti ied adalah kembali dan fitri artinya fitrah/kesucian bahkan dalam sepenggal hadis diterangkan kembali kefitrah seperti halnya bayi artinya disucikan dari dosa dosa.

Orang Indonesia lebih senang menyebutnya dengan istilah lebaran karena tentu saja memiliki pesan budaya Nusantara yang khas, atau dalam istilah jawa diartikan lebar an atau selesai dalam arti telah selesai menjalankan ibadah puasa sebagai ritual pensucian diri dalam tuntunan agama Islam.

Lebaran tidak sekadar berkonotasi hari raya bagi agama tertentu. Meskipun makna idul fitri (hari raya suci) bagi umat muslim memiliki konotasi kurang lebih sama, sebuah perayaan atas berakhirnya suatu peristiwa keagamaan yang cukup fenomenal puasa Ramadan dan turunnya kitab suci al-Quran.

Lebaran tentu saja identik dengan budaya Indonesia, karena umumnya orang Indonesia menggunakan istilah ini untuk menyampaikan pesan perdamaian, tidak ada satu momen besar yang sangat fenomenal di negeri ini, kecuali lebaran karena pada satu peristiwa itu semua orang disibukkan oleh banyak hal bahkan fokus pemerintah sangat teramat besar dalam hal ini. sehingga muncul istilah halal bi halal , mudik lebaran, Tunjangan Hari Raya (THR), dll. Tentu saja istilah-istilah itu adalah momen positif yang bermoral dan mengandung nilai-nilai agama seperti silaturrahim, bersedekah, dan saling berbuat baik.

Makna Fitrah
Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj dalam bukunya “Tasawwuf sebagai kritik sosial” menjelaskan hidup manusia dimulai di alam paradiso ,yakni alam kebahagiaan karena pada saat ini fitrah atau kejadian asal manusia bersentuhan secara fisik maupun mental dengan alam materi yang membuatnya tidak lagi bersih atau suci ditambah lagi manusia itu makhluk yang lemah sehimgga mudah terjerembab ke dalam materi yang semu. Semakin lama ia tenggelam dalam kemeriahan alam materi, semakin kotor pula alam rohaninya. Akhirnya terjatuhlah manusia itu ke alam Inferno yaitu alam kesengsaraan .

Untuk bisa kembali ke alam surgawi atau alam kebahagiaan manusia harus melalui proses pembersihan diri di alam Purgatorio. Bagi umat Islam, alam Purgatorio itu adalah bulan Ramadan, yakni bulan yang mendatangkan rahmat dan ampunan sekaligus pencegah manusia agar tidak jatuh ke lembah Inferno. Dengan demikian umat Islam dapat masuk kembali ke alam Paradiso, alam surgawi, alam kesucian yang dilambangkan dengan Idul Fitri.

Mudik Sebagai Proses Fitrah
Sejatinya proses menuju alam kebahagiaan atau kecenderungan manusia untuk kembali kepada asal kejadianya (fitrah) dapat dilihat dari segqenap kegiatan menjelang dan di hari raya. Misalnya orang-orang selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung, bahkan mereka rela berdesakan dan berjejalan di bus dan kereta saling sikut, saling dorong dan sebagainya. Bahkan banyak yang menginap di terminal atau stasiun karena tidak kebagian tempat dan tiket .

Inilah mudik lebaran yang sebenarnya berarti kembali ke asal ke kampung halaman, kembali ke fitrah. Apa yang akan mereka lakukan di kampung halaman sama sekali bukan untuk pamer keberhasilan hidup di perantauan. Tak jarang di antara mereka hidup di rantau dengan sengsara dalam arti sebenarnya. Dengan mudah kita bisa menebak rata-rata penghasilan para pendatang yang mengadu nasib di Jakarta atau kota yang memiliki kawasan industri di Jabotabek sebagai pekerja pabrik atau pedagang di sektor informal. Itu pun jika mereka belum kena PHK akibat pabrik gulung tikar. Jadi tujuan mereka mudik sama sekali jauh di atas kepentingan material, tetapi didorong oleh kecenderungan spiritual, yaitu hasrat berkumpul dengan sanak saudara sekaligus untuk saling memaafkan.

Dari contoh kecil itu secara formal dapat diartikan sebagai proses perjalanan menuju fitrah lebaran bagi bangsa Indonesia yang memiliki pesan khusus. Selain tradisi dan budaya ada juga tuntunan dalam agama seperti mudik yang menjadi bagian dari tradisi dan budaya orang Indonesia, sedangan silaturrahmi adalah ajaran Islam.

Pesan khusus yang lainnya yaitu kegembiraan dan perdamaian. Hampir tak ada orang yang melewatkan momen lebaran tanpa menunjukkan kegembiraan yang diselingi pesan perdamaian melalui serangkaian permohonan maaf, baik secara langsung maupun tidak.

Tidak ada pesan khusus yang terselip dari momen ini kecuali maaf, kasih sayang, damai, persatuan, penghormatan, dan silaturahmi. Adakah momentum di luar lebaran yang sangat kuat menebarkan pesan perdamaian? Mungkin hampir tidak ada, bahkan untuk peristiwa yang sama, seperti lebaran Haji (Idul Adha) tak ada yang secara khusus terus-menerus menebarkan pesan perdamaian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here