Motor Perubahan Sejarah

0
359

Teruntuk: Menanggapi tulisan Mas Inung dalam blogspotnya bisa diakses di sini

Menanggapi curhatan tertulis seorang senior sekaligus teman saya dalam catatan blogspotnya, tentang pelantikan presiden dan wapres pada tanggal 20 Oktober kemarin. Sangat menarik dan elegan menurut saya pribadi atas balasan hujatan, komentar miring, sinis, meskipun bernada guyonan sesama konco kentel, yang ditujukan padanya sebab dipandang mendukung paslon tertentu dalam pemilu lalu, yah, membalas semua cemooh ataupun cibiran dengan sebuah tulisan (karya), patut diapresiasi ketimbang mereka yang hanya bisa mencibir tapi nir-isi, setidaknya dengan menulis itu juga menjadi bukti riil sebuah tindakan.

Melihat Titik tekan argumentasinya cukup menarik, di situ (tulisannya) dikatakan bahwa meskipun kita pro atau kontra terhadap pemerintah tetap saja harus kita tempatkan pikiran kritisisme berada di depan, kita harus tau sebab mengapa kita mendukung bahkan memperjuangkan salah satu punggawa politik maupun pemimpin, kemudian kita juga harus tau alasan objektif mengapa kita harus mengkritik kebijakannya? Demikianlah kurang lebih isi argumentasinya. Sebagai konsekuensi dari asumsi ini, maka muaranya adalah sikap dinamis dalam menyikapi persoalan politik, memandang sebagai siapa? Posisinya di mana? Dan harus berpihak pada siapa?. Namun, tertulis juga di situ yang dijadikan argumen senior saya tadi ialah dia tetap menempatkan ke kritisan dan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, hak asasi di atas sikap pro-kontra. Artinya, mengkritisi dengan dasar nilai-nilai yang dianutnya, bukannya malah taqlid-buta menerima segalanya enggah-enggih dengan dalih ini adalah kelompokku, ini adalah orang partaiku, ini-itu dan seterusnya. Sebaliknya, dalam sikap kontra juga harus tau alasannya secara objektif.

Tentu seorang pemikir tidak bisa dilepaskan dengan konteks kehidupan sosialnya, karena seorang pemikir menjawab persoalan dalam hidupnya, sebuah pemikiran tidak mungkin lahir dari ruang hampa. Saya di sini akan sedikit menguraikan beberapa poin kenapa harus memilih narasi yang berlawanan dengan (senior saya) atas tulisannya. Meminjam argumentasi milik Marx, dan tak lupa sebagai seorang yang mengaku mahasiswa.

Baca juga:  Sulitnya Menyempurnakan Masyarakat Madani Seperti Era Rasul

Materialisme Sejarah

Menggunakan tesis Marx tentang materialisme sejarah, “bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka, tetapi sebaliknya keadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka”. Menurut Marx, yang menjadi motor perkembangan sebuah masyarakat bukan kesadaran, jadi bukan apa yang dipikirkan masyarakat tentang dirinya sendiri, melainkan keadaan yang nyata lah yang menjadi motor perubahan. Nah, kemudian pertanyaan yang muncul, dari bagian mana kita dapat memahami keadaan masyarakat? Faktor apa yang mempengaruhi keadan tersebut? Apakah sumbernya dari nilai moral? Seni? Filsafat? Atau bahkan agama?. Implikasi dari pernyataan Marx lebih mengarah pada bagaimana suatu keadaan material, tertelusur dalam pemikiran Marx bahwa ‘keadaan material’ itu adalah ekonomi. Marx memakai kata materialisme bukan dalam arti filosofis yang menyatakan bahwa hakikat seluruh realitas adalah materi, namun kata material yang dipakai Marx ingin menunjukkan faktor yang menentukan sejarah. Sebenarnya, anggapan materialme sejarah Marx, bahwa yang menentukan sejarah manusia adalah bagaimana cara manusia menghasilkan apa yang dibutuhkannya untuk hidup atau bagaimana cara ber-produksinya, itulah yang disebut Marx sebagai keadaan manusia (Tapi saya di sini akan memakai kata ekonomi saja, supaya mudah menghubungkan dengan asumsi Marx yang lain). Jadi, untuk memahami sejarah dan perkembangan beserta arahnya, kita tidak perlu memperhatikan apa yang dipikirkan oleh manusia, melainkan memahami bagaimana ia bekerja, bagaimana ia berproduksi dan pasti muaranya akan menuju kepada sistem ekonomi.

Membaca kerangka klasik pengertian Marx tentang masyarakat yanng merupakan inti pandangan “materialisme sejarah”. Marx membagi lingkup kehidupan manusia dalam dua bagian besar, yang satu adalah “dasar nyata” atau “basis” dan yang lain adalah “bangunan atas”. Inilah yang bagi Marx disebut sebagai kebutuhan primer dan sekunder. Dasar atau basis disebut primer, karena merupakan suatu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, kemudian di sisi lain, pada bangunan atas disebut Marx sebagai kebutuhan sekunder, karena biasanya yang sekunder hanyalah sebuah ungkapan dari kebutuhan yang dasar. “Dasar” atau “basis” itu adalah bidang ekonomi atau cara produksi material, misal, pemilik modal dan pekerja, sedangkan “bangunan atas” adalah proses kehidupan sosial, politik, dan spiritual. Kehidupan bangunan atas selalu ditentukan oleh kehidupan dalam basis atau dasar.

Baca juga:  Islamic Studies: Belajar Pemikiran Keislaman Kritis

Melalui teori ini selanjutnya Marx memunculkan kosa kata baru yaitu kelas borjuasi dan kelas proletar. Ciri khas dalam kehidupan sosial dari kedua kelas ini adalah pasti selalu terjadi pertentangan-pertentangan. Bukan karena yang satu dinilai jahat dan harus dilawan, tapi karena kepentingan objektif antar keduanya saling bertentangan. Kepentingan antara kelas bawah dan kelas atas jelas berbeda, yang bawah menginginkan kesejahteraan sedangkan yang atas hanya mementingkan kekayaan.

Negara Kelas

Sekali lagi, masih menurut Marx, secara garis besar semua sistem ekonomi dari dulu sampai sekarang menunjukkan adanya kelas-kelas bawah dan kelas-keleas atas. Struktur kekuasaan dalam bidang ekonomi itu juga tercermin dalam bidang politik. Salah satu pokok teori Marx adalah bahwa negara secara hakiki merupakan negara kelas, artinya negara dikuasi secara langsung atau tidak langsung oleh kelas-kelas yang menguasai bidang ekonomi atau bisa disebut juga kelas borjuasi. Karena itu, menurut Marx, negara bukanlah suatu lembaga di atas masyarakat yang mengatur masyarakat tanpa pamrih, akan tetapi merupakan alat dalam tangan kelas-kelas atas untuk mengamankan kekuasaan mereka. Tidak mungkin kelas-kelas atas memotong dahan di mana mereka duduk.

Baca juga:  Bias Bonus Demografi dalam Masyarakat

Melihat kenyataan yang ada di Indoensia saat ini, presiden terpilih dengan tegas menyatakan akan “mengejar” siapapun yang akan menghambat investasi. Hal ini sangat jelas menunjukkan rezim saat ini hanya menghamba pada kepentingan sistem kapitalisme. Eh, ngomong-ngomong dalam argumentasi saya di atas ndak ngomong tentang kapitalisme loh ya. Tapi ini ndilalah kok Agak nyambung aja. Usut punya usut, ternyata tesis Marx tentang negara kelas terjadi juga di Indonesia. Kesimpulannya adalah janganlah berlebihan berharap kepada negara, kerja aja yang bener, kalau masih sekolah ya belajar aja yang bener ha-ha-ha. Tapi bukan itu substansinya, yang saya tekankan di sini adalah dalam pokok teori Marx: bahwa perubahan masyarakat merupakan akibat dinamika dalam basis atau dasar (ekonomi) dan bukan dalam bangunan atas (sosial, politik, dan spiritualitas). Sepintas teori Marx kelihatan terbalik tapi yang perlu digaris bawahi ialah kenyataannya (kehidupan) memang demikian. Jadi, negara jangan diharapkan menjadi agent of change. Negara hanyalah pendukung kekuasaan para pemilik. Maka Marx berpendapat bahwa perjuangan kelas adalah motor perubahan dan kemajuan sejarah.

Dan Mahasiswa

Satu lagi, sedikit menggunakan bahasa yang politis bahwa yang sebenarnya agent of change adalah mahasiswa, entah benar-salahnya urusan belakangan karena saya di sini juga masih dalam masa-masa menjalaninya. Sikap abu-abu di antara pro atau kontra dengan alasan tetap menempatkan kritisisme sebagai dasar, rasanya kurang bijak jika kita masih berstatus mahasiswa. Sebagai seorang mahasiswa tentunya sudah tahu kepada siapa dia harus berpihak. Sekian, dan selebihnya bisa didiskusikan.

Penulis: Rusda Khoiruz

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here