Justisia.com – Mendengar kalimat ”Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” tentu yang ada di benak kita adalah sebuah novel terkenal karya Buya Hamka dan filmnya. Sedikit diceritakan bahwasanya Kapal Van der Wijck adalah kapal milik Belanda yang tenggelam di sekitar perairan Lamongan, dari peristiwa tersebutlah akhirnya menginspirasi seorang Buya Hamka untuk membuat sebuah karya berupa Novel yang kemudian difilmkan dengan judul yang sama yaitu “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”.

Monumen tersebut lebih dikenal dengan monumen Van Der Wijck yang menjadi saksi bisu atas peristiwa yang memilukan itu. Monumen Van Der Wijck berada di halaman samping Kantor Pelindo, Pelabuhan Brondong, Lamongan, Jawa Timur, Indonesia.

Awal Berdirinya Monumen Van Der Wijck

Pada 28 Oktober 1936 di pesisir utara Jawa, tepatnya di perairan Brondong, kapal milik Belanda Van der Wijck tenggelam. Peristiwa tersebutlah yang akhirnya melatarbelakangi terciptanya sebuh novel terkenal oleh Buya Hamka. Kapal mewah yang dibuat di galangan kapal Feijenoord, Rotterdam, Belanda pada tahun 1921. Atas jasa nelayan Brondong dan Blimbing, awak kapal serta penumpang dapat diselamatkan dan dibangunlah monumen ini sebagai penghormatan jasa nelayan dan wujud terimakasih dari Pemerintah Belanda.

”Ada Kapal namanya kapal Marina, saat itu cerita dari orang-orang terdahulu. Jadi saat Kapal Van der Wijck tenggelam itu ditolong oleh orang-orang sini (Nelayan). Heroiklah, lalu kemudian dibawa ke sini dan monumen ini dijadikan sebagai tanda bahwa orang sini menolong orang Van der Wijck itu,” tutur Saiful Fatoni selaku Pegawai Perlindo saat ditemui Redaktur Justisia, Rabu (13/02/2019).

Beliau juga menjelaskan selain sebagai monumen peringatan ternyata monumen Van der Wijck dahulunya juga difungsikan sebagai mercusuar. Namun kini monumen tersebut sudah tidak difungsikan lagi dan hanya sebagai monumen peringatan saja karena perkembangan zaman yang semakin maju dan canggih sehingga para nelayan menggunakan GPS.

Monumenku Sayang Monumenku Malang

Sangat disayangkan monumen bersejarah tersebut kini harus terbengkalai begitu saja. Letaknya yang berada di samping kantor Pelindo membuatnya tidak seperti Monumen yang bersejarah dan terlihat seperti tugu biasa pada umumnya. Tidak ada plang atau papan nama yang menunjukkan tulisan ”Monumen Van der Wijck”. Bahkan nyaris monumen itu tidak terlihat dari jalan umum karena tertutupi oleh lebatnya pohon di sekitarnya.

Tim justisia pun sempat kebingungan saat menuju lokasi karena tidak ada keterangan atau papan nama di depannya. Ternyata monumen tersebut berada di halaman kantor Pelindo persis. Selain susahnya menemukan lokasi monumen, hal lain yang membuat lebih miris lagi adalah banyaknya sampah di sekitar monumen dan rumput liar yang yang dibiarkan tumbuh begitu saja.

”Ini sudah direnovasi oleh pihak dinas Pariwisata, dahulunya bangunan ini hanya klasik. Hitam dan putih. Sudah dicat ulang tapi masih tetap dijaga keautentikannya” Imbuh Saiful.

Saiful juga menuturkan bahwa kurangnya kesadaran masyarakat sekitar untuk merawat dan melestarikannya karena sibuk dengan urusan pekerjaannya dan menganggap bahwa monumen itu dibangun oleh Belanda bukan orang jawa jadi tidak ada keterkaitannya dalam merawat seperti lepas dari tanggung jawab dan hanya dari pihak Dinas Pariwisata saja yang merawatnya. Sungguh ironis bukan, tempat bersejarah tersebut kini tak seramai dahulu. Bapak Saiful berharap semoga monumen ini tetap ada orang yang mau mengunjunginya dan bisa seramai dahulu lagi.

Mengetahui Prasasti yang tertulis di Monumen Van der Wijck

Pada Monumen tersebut terdapat dua Prasasti yang tertulis dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Belanda. Untuk Prasasti yang berbahasa Indonesia tertulis kalimat :

‘Tanda Peringatan Kepada Penoeloeng-Penoeloeng Waktu Tenggelamnya Kapal ”VAN DER WIJCK” DDO 19-20 october 1936.

Di samping monumen tersebut juga berdiri kokoh tower yang dibangun oleh rakyat Indonesia yang dahulunya juga difungsikan sebagai mercusuar karena menganggap bahwa Monumen Van der Wijck kurang tinggi untuk dijadikan sebagai mercusuar.

Menurut Wikipedia, musibah tenggelamnya kapal Van der Wijck sendiri mengakibatkan empat orang meninggal dunia dan 49 orang hilang ditelan ombak laut. Sedangkan menurut situs Theshiplist.com ada sekitar 58 orang yang hilang dan 42 orang korban hilang.

Berpotensi Membangun Perekonomian Masyarakat

Andai saja Monumen itu dirawat sebagaimana mestinya tentu dapat membangun perekonomian masyarakat sekitar, karena letaknya yang strategis berdekatan dengan pelabuhan dan kampung nelayan.

”Yah beginilah keadaan monumen ini, banyak kerusakan disana-sini, pintu untuk masuk kedalam monumen inipun sudah rusak” Ujar salah seorang Karyawan Pelindo yang sedang beristirahat disekitar monumen yang enggan disebutkan namanya. (Rep:Lina Mei/Red:Sasti)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here