Minah Anak Warsih

0
166
Foto: metropolitan.id

Oleh: Sadad Aldiyansyah

Minah baru mengerti jika ia terlahir di kamar mandi. Selama ibunya masih hidup, ia tidak pernah mendengar cerita tentang itu sebelumnya. Dan kini Warto yang memberitahunya, Setelah mendengarnya Minah berjanji tidak akan pergi ke kamar mandi.

Di sisi lain, dia harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan penting manusia; mandi, buang air besar, kencing yang semua dilakukan di sana.

Namun itu semua tidak dilirik Minah setelah ia mndengar cerita seputar kelahirannya yang membuat dirinya terluka. Cerita Warto kepadanya begini; bermula saat Warsih, ibu Minah, bekerja di Gang Remang, salah satu gang yang dikenal dengan bisnis prostitusi.

Suatu waktu sepulang bekerja, di jalan sepi yang cukup jauh dari rumah, Warsih dicegat beberapa remaja berandalan. Ia dibawa ke sebuah kamar mandi dan diperkosa berramai-ramai.

Memang, Warsih adalah perempuan idaman di Gang Remang. Karena tak punya uang, remaja berandalan nekat berbuat keji kepadanya.

Berhari-hari setelah kejadian pemerkosaan itu, Warsih didakwa hamil. Ia bingung dan merasa takut sendiri. Beberapa cara untuk menggugurkan kandungan ia lakukan. Puluhan pil yang katanya manjur tidak berhasil menggugurkan janin. Bahkan dia sengaja tidak makan agar bayi dalam perut itu mati. Dengan berat dia tetap mengandung bayi itu.

Perut Warsih kian membesar. Dia memutuskan tidak bekerja ke Gang Remang. Karena tidak ada lekaki yang mau mencumbui wanita hamil. Sumber kehidupan ekonomi Warsih hanya didapat di Gang Remang, kini Warsih mendadak melarat karena uang yang didapat habis untuk membeli pil aborsi. Belum memikirkan biaya melahirkan.

Di suatu malam Warsih pergi dari rumahnya. Dia berjalan ke arah barat, di tengah perjalanan perutnya sangat sakit. Tetapi ia tetap memaksa berjalan meski susah payah. Tangannya memegang perutnya sembari kesakitan.

Dia berharap ada orang yang membantunya, lalu membawanya ke Rumah Sakit. Namun setelah berjalan beberapa lama tidak ada satu orang pun yang mau membantunya. Lagi pula memang jalanan agak sepi, hanya bebrapa motor yang ngebut dan pasti tak melihatnya.

Rumah-rumah di sekitar jalan pun sudah gelap dengan pintu tertutup rapat, sepertinya Tuhan sudah merencanakan kejadian ini.

Warsih terus berjalan dengan rasa sakit yang amat perih. Sesampai di ruas jalan terdapat deretan toilet umum yang suwung dengan lampu kuning 5 watt. Terkesan angker.

Dia putuskan berjalan memasuki salah satu toilet umum itu kemudian duduk dan menyandarkan tubuhnya di dinding seperti tidak ada harapan lagi. Erangan tak tertahankan. Ia cukup lama berusaha mengeluarkan bayi yang ada di perutnya.

Bayi pun meluncur dari rahim dan menemui sang ibu. Suara tangis itu begitu kencang di malam yang hening itu.

Tangisan itulah yang didengar Warto yang sedang berjalan pulang mendorong gerobak setelah jualan roti bakar di Gang Remang. Lelaki itu pun terpengah mendengar tangis bayi yang menggelegar.

Tanpa pikir panjang Warto berjalan menghampiri sumber suara. Alangkah terkejutnya, ternyata Warsih. Seorang wanita dengan bayaran yang amat tinggi melahirkan anak.

Beberapa minggu Warsih sepanjang hari merawat Minah. Sampai mulai bekerja seperti biasa, pergi ke Gang Remang, mulai bersolek dan berdagang lagi. Tak butuh waktu lama lelaki bermobil mewah nan berdompet tebal langsung tertarik dengan Warsih.

Ketika bekerja di waktu malam, Warsih meninggalkan Minah sendirian di rumah, ia tak peduli akan nasib Minah, kala meminta susu atau takut kegelapan. Hal itu terus berulang hingga Minah tumbuh menjadi anak tak terurus. Omelan-omelan terucap dari Warsih kerap membuatnya takut.

‘’Dasar anak sial! Goblok, tak berguna!, tak tahu untung, bikin sengsara!’’

Omelan seperti itu terucap begitu fasih dari mulut Warsih. Namun Minah tak betul faham karena ia masih kecil. Namun bagaimanapun ia merasakan kala ibunya dengan nada keras pertanda keadaan tidak baik atau kehadirannya tidak diterima sepenuhnya.

Minah telah berumur 20 tahun. Ibunya telah meninggal di usia tak begitu tua. Kabarnya ia bunuh diri di kamar mandi dan merasakan over dosis akibat obat yang dikonsumsi berlebihan. Hanya Warto yang dekat dengannya. Warto mengaku sebagai teman karib ibunya.

Selama ini tidak ada kisah menyedihkan tentang kamar mandi dalam hidup Minah. Namun dengar cerita Warto Minah berniat membalaskan dendam terhadap takdir. Ia tidak ingin dan tidak akan pergi ke kamar mandi. Baginya tempat itu tempat kesengsaraan sehingga tak pantas ditemui.

Suatu malam sehabis hujan deras, Minah pulang dari rumah Warto yang tidak jauh dari rumahnya. Udara saat itu begitu dingin. Jalanan becek, gelap, dan sepi. Ia berjalan sendirian. Namun dari belakang , ia kaget dengan kehadiran tiga remaja yang membuntuti, ia menoleh ke belakang terlihat tatapan tiga remaja yang penuh nafsu binatang buas.

Merasa curiga, Minah berlari sekencang mungkin, namun remaja tersebut tak kalah kencang berlari. Keluar masuk gang yang berkelok-kelok, hingga bertemu gang buntu dan jalanan begitu sepi.

Lebih sepi dari jalanan yang dilewati sebelumnya. Minah kehilangan pikiran, meski jarak antara dirinya dengan para remaja buas tersebut cukup jauh, ia harus mencari tempat untuk bersembunyi. Dan ia memutuskan berlari lagi.

Minah pun melihat ada gang kecil di sebelah kiri, tak pikir panjang ternyata terdapat pintu kecil yang mengaga di sisi gang buntu yang dikelilingi barang rongsokan. Minah memutuskan untuk masuk kedalam untuk bersembunyi, bau sengak tercium segera, decit tikus kabur membuat geli. Ia melihat keran dan bak air di ruang itu.

Minah berada di ruangan itu cukup lama, sepertinya para lelaki tidak berhasil mencium tempat persembunyian itu. Namun hati Minah ragu untuk keluar. Minah masih mewanti-wanti diri untuk tidak keluar dulu, dia berdiam diri. Sendiri. sepi, lalu dia teringat akan janji dan kejadian tentang semua itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here