Mila, memandang nanar pada langit biru pagi itu. Sembari mendengarkan lagu ”cinta luar biasa” cipta Admesh Kamaleng yang begitu merdu, romantis, dan menyentuh hati. Udara segar pagi ini yang diiringi lagu itu membuat Mila membayangkan sosok lelaki yang benar-benar tulus mencintainya. Seperti dalam lagu itu, ia bayangkan seorang lelaki yang mencintainya yang punya hati yang setia.

Ya, Mila memang hanya menginginkan lelaki yang benar-benar mencintainya tanpa pamrih, tak peduli lelaki itu tak punya bunga juga tak punya harta, yang terpenting bagi Mila adalah ketulusan cinta lelaki itu. Jika benar-benar ada seorang lelaki seperti yang digambarkan dalam lagu itu, Mila sudah memastikan dirinya akan mencintainya.

Mila juga telah berjanji pada dirinya sendiri, hanya lelaki seperti itu saja yang mau ia nikahi. Lalu bagaimana jika Mila tidak menemukan lelaki seperti itu? Mila tidak mau menikah! Ya, begitu jawabannya demi memelihara hatinya yang suci.

Semenjak lulus sekolah dasar, Mila tidak melanjutkan belajarnya ke jenjang yang lebih tinggi. Bukan berarti karena tidak mampu, bukan! Bapaknya adalah orang terpandang di kampungnya, selain sebagai seorang muslim yang terlihat taat, bapaknya juga seorang pegusaha sembako yang sukses. Kalau hanya sekedar menyekolahkan Mila, setinggi-tinggi sekolahnya, hartan itu masih sisa banyak. Bagaimana tidak? Mila hanya anak semata wayang dalam keluarganya.

Namun sangat disayangkan,bapaknya yang tergolong kaya itu tak mengijinkannya melanjutkan sekolah hanya karena Mila perempuan! Apa salahnya perempuan kalau sekolah? Bukankah kalau Mila bersekolah bisa mengangkat derajat orang tuanya? Bukankah kalau Mila bersekolah bisa membantu orang-orang kampung memajukan kampungnya? Bukankah kalau Mila melanjutkan sekolah, ke SMP, ke SMA, ke perguruan tinggi, Mila akan menjadi wanita yang hebat di kampungnya? Lalu Mila akan dihujani pujian oleh orang-orang kampungnya? Dan bukankah pujian adalah suatu yang selalau diharap-harapkan bapakanya?

”Kamu itu perempuan, ndak usah sekolah-sekolah segala, sekolah saja sama ibumu. Belajar masak, nyuci, dan mengurus urusan rumah tangga. Hanya itu tugasmu ketika menjadi seorang istri nanti!” Ketika mengingat kata-kata itu, Mila pasti menangis. Hanya lagu-lagu favoritnya yang bisa melupakannya dari kejadian di masa lalu yang menyedihkan itu. Namun ketika mendengar lagu-lagu cinta yang begitu romantis dan mampu membuatnya tersenyum-senyum sendiri itu, ia harus memutarnya setelah bapak berangkat ke toko.

Ya, karena bapaknya melarang keras Mila mengdengarkan musik atau lagu semacam itu, haram! Katanya. Mila hanya boleh mendengarkan lagu-lagu berlirik Arab yang ia dan bapaknya tak tahu apa arti dan siapa penyanyinya. Beruntung, selama ini ketika Mila mendengarkan lagu-lagu favoritnya belum pernah bapaknya mengetahui. Entah bagaimana jadinya jika bapaknya tahu saat ini Mila sedang mendengarkan lagu-lagu itu.

Memang, sebagai anak tunggal, Mila begitu dimanjakan, apa yang ia inginkan seringkali diberikan oleh orang tuanya. Ya, kecuali pendidikan, musik, dan apapun yang tak disukai bapaknya. Ibunya pun tak berani membantah apa yang dikata dan dilakukan suaminya.

***

Pagi itu, dalam riuh, bau, dan hingar-bingarnya pasar, Mila sedang menemani ibunya berbelanja. Di sebuah warung bakso Mila melihat seorang pengamen, berambut gondrong, dandanannya compang-camping, dengan membawa gitar, ia menyanyikan salah satu lagu favorit Mila.

Di saat ibunya sedang membeli sayuran, Mila mendekat ke warung bakso itu dan tanpa sadar ia ikut menyanyikan lagu yang dilantunkan si pengamen. Ketika pengamen itu keluar dari warung, Mila masih saja bernyanyi dan menikmati nyanyiannya sembari memejamkan mata. Sang pengamen heran pada tingkah Mila, lalu ia menegur,

”Hay, nona, suka kau dengan lagu itu?”

Mila tergelagap dan menjawab, ”Ha-hay, ya, aku menyukainya.” Sambil tersenyum tersipu, manis sekali.

”Namaku Saleh, musisi jalanan. Maksudku, pengamen, ya, pengamen.”

”Aku Mila, gadis rumahan, hanya keluar saat pergi ke pasar.” Mila langsung melanjutkan, ”Suaramu enak didengar.”

”Suaramu tak lebih buruk dari suaraku. Kau suka bernyanyi?”

”Terimakasih. Ya, aku suka bernyanyi, setiap hari, sebagai penghilang sedih. Ia adalah penawar perih bagiku.”

”Setiap hari? Setiap hari kau bersedih?”

Belum sempat Mila menjawab, ibunya memanggil dari kejauhan. Ia langsung menghampiri ibunya dan sesekali menoleh pada Saleh. Saleh melambai pada Mila, lalu dibalas dengan anggukan dan senyuman. Ya, senyum yang manis sekali. Tak mau buang-buang waktu, ibunya bertanya,

”Siapa laki-laki dekil tadi?”

”Saleh, Bu.”

”Nama yang tak sesuai dengan orangnya. Temanmu?”

”I-iya, Bu.”

”Jangan terlalu dekat dengan orang seperti dia, tampang gelandangan seperti itu pasti tak disukai bapakmu.”

”Tapi dia baik, Bu.”

”Ah, Mila, dari mana kau tahu dia orang baik?”

”Dari suaranya, ia begitu baik dalam bernyanyi, suaranya membawaku terbang ke perasaan penuh harapan.”

”Ah, Mila, kau sudah gila.”

”Iya, Bu, aku memang gila sejak dulu, mungkin itu alasan bapak tidak mau menyekolahkanku.”

”Mila!” bentak ibu dengan mata membelalak.

”Maaf, Bu.”

Mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang.

***

Sampai di rumah, bapak Mila sudah menunggu di kursi depan rumah, dengan tergopoh-gopoh bapaknya menghampiri ibu dan Mila untuk membantu membawakan belanjaan. Tidak biasanya bapak Mila sudah di rumah pagi-pagi menjelang siang seperti ini, biasanya ia pulang dari toko sore hari. Dengan wajah berseri sambil masuk ke dalam rumah, ia berkata,

”Ada kabar baik buat kita sekeluarga, Bu, buat Mila utamanya.”

Ibu Mila kebingungan, begitu juga dengan Mila. Lalu, ”kabar gembira bagaimana, Pak?”

”Ibu tahu haji Salim, kan?”

”Haji Salim yang tinggal di kampung sebelah?”

”Iya, benar.”

”Yang banyak hartanya itu? tuan tanah di kampung itu? yang haji sampai tiga kali? yang punya isteri tiga?”

”Iya, benar.”

”Siapa yang tak tahu dia, Pak..pak..”

”Nah, itu, itu..”

”Itu itu bagaimana, Pak?”

”Sini-sini, duduk dulu tenang-tenang.” Mereka duduk di ruang tamu, dan bapak Mila menyampaikan berita gembiranya itu, ”tadi, dia belanja ke toko, sehabis belanja, ia mengatakan hendak menikahi Mila dengan mahar yang begitu banyak, ia melamar Mila, Bu.” Mila begitu kaget mendengar itu, matanya membelalak, kepalanya menegak sebentar, lalu menunduk kembali, dan bapaknya melanjutkan, ”itu sebabnya Bapak pulang lebih awal dari biasanya. Kita akan punya menantu orang kaya, orang terpandang!”

”Sebentar sebentar, memangnya Bapak sudah menerima lamaran itu?”

”Ya belumlah, Bu. Bapak pulang untuk mengabari kalian, biar kalian tahu dulu. Nanti sore Bapak pergi ke rumah haji Salim untuk menyampaikan jawaban sekaligus menentukan tanggal pernikahannya. Kamu pasti mau kan, Mila?”

”Tidak, Pak, Mila tidak mau.”

”Lhoh, kenapa begitu? Kamu harus mau, Mila, kamu harus mengikuti apa perintah bapakmu!” dengan suara meninggi.

”Maafkan Mila, Pak, tapi Mila sama sekali tidak mencintai orang itu, tahu saja tidak.”

”Ahh, Mila, tahu apa kau tentang cinta? Cinta tidak bisa menghidupimu, yang bisa menghidupimu adalah harta, orang hidup itu pakai harta! Hidupmu akan terjamin kalau kau menikah dengan haji Salim!”

”Tidak, Bapak!” sekali dalam hidupnya Mila berkata keras pada bapaknya. ”Mila sama sekali tidak mencintainya, Mila tidak mau!”

”Membentak? Kau berani membentak bapakmu? Kau berani menyangkal bapakmu?”

”Menikah tanpa dasar cinta itu hanya akan membuat orang sengsara, Pak, Mila juga punya hak untuk memilih lelaki mana yang Mila inginkan sebagai suami.” Entah mengapa tiba-tiba Mila berani berkata demikian pada bapaknya.

”Ahh!, omong kosong!” suara itu mengiringi pukulan pada kepala Mila. Tubuh Mila terkapar, menangis ia sejadi-jadinya, namun bapaknya tak menghiraukan. Ia justru memaksa dan memaksa. Dengan kepala sekeras baja, hati nurani dan akal sehat yang tertutup kabut, bapaknya tetap memutuskan hendak ke rumah haji Salim untuk menerima lamaran dan menentukan hari pernikahan.

Ibunya hanya diam, tak ada pembelaan, hanya menemani Mila menangis dan tak berkata-kata sama sekali. Barangkali ia bingung harus bagaimana ia membela atau ia takut karena memang begitulah watak bapak Mila. Mungkin perlakuan semacam itu juga sering dialaminya, namun yang tahu hanyalah dia dan sang suami. O iya, satu lagi, Ia Yang Maha Tahu.

***

Pernikahan Mila sudah berjalan enam bulan. Semenjak ia dinikahi haji Salim, hubungan dengan keluarganya terputus atau mungkin memang sengaja diputus. Selama enam bulan itu, berat badannya selalu menurun, begitu juga kesehatannya. Haji Salim terlalu menyepelekannya setelah dua minggu pernikahan.

Apalagi ketiga istrinya, juga selalu mendiami Mila, entah karena cemburu atau apa, tapi haji Salim sama sekali tidak pernah mengajak Mila jalan-jalan, lebih-lebih berbelanja barang-barang mahal. Haji Salim akan mendekati Mila hanya ketika ia ingin bercinta—ya, meskipun tanpa cinta.

Mila sudah tidak betah dengan keadaannya di rumah haji Salim. Suatu ketika, orang-orang rumah, haji Salim dan ketiga istrinya sedang bepergian entah ke mana, Mila menemukan ide tentang kebebasan! Ya, Mila berpikir untuk kabur dari neraka berselimut surga itu.

Benar, Mila benar-benar akan pergi, pergi sejauh-jauhnya dari haji Salim dan istri-istrinya. Tak mungkin ia kembali ke rumah orang tuanya, ia takut akan mendapat amukan lagi dari bapaknya. Lalu ke mana ia mau pergi? Ke mana saja, ia akan mencari kedamaian dan kebebasan menurut versinya sendiri.

Saat itu juga Mila pergi dari rumah haji Salim, ia kemasi barang-barangnya secukupnya dan uang seadanya. Mila juga masih menyimpan perhiasan yang diberi haji Salim waktu menikahinya. Pikirnya perhiasan itu bisa ia jual ketika di perjalanan nanti ia kehabisan uang.

Entah ke mana tujuan Mila ia tak tahu, tapi ada satu pikiran yang menurut Mila menjadi tujuan. Saleh, ya, Saleh si pengamen gondrong itu. Diam-diam Mila menaruh hati pada lelaki itu, walau hanya bertemu satu kali Mila merasakan ada suatu kenyamanan pada lelaki itu. Entah apa, Mila pun tak tahu.

Akhirnya Mila berpikir untuk mencari Saleh, tapi ke mana ia harus mencari? Apakah ke pasar tempat mereka berjumpa kala itu? tidak tidak, kalau Mila pergi ke sana ia takut akan bertemu ibunya dan disuruh kembali ke rumah haji Saleh atau pulang ke rumah orang tuanya. Ia akan kembali lagi pada kungkungan dan kesewenang-wenangan itu. Lalu ke mana ia harus mencari Saleh?

”Aku akan pergi ke mana saja dan aku harus menemukannya!”, kata Mila dalam hati.

Berhari-hari Mila menyusuri jalanan, sambil sesekali singgah di emperan toko ketika malam hari hendak istirahat. Ia sebenarnya mampu membayar kos, namun tak ada kosan yang mau menerimanya lantaran hamil tanpa membawa seorang suami.

Mila terus berjalan, kandungannya pun semakin membesar, bekal yang ia bawa sudah menipis, perhiasan-perhiasannya sudah ia jual semua, tinggal ada satu harta yang paling berharga baginya, yaitu makhluk kecil yang suci yang berada di dalam perutnya.

”Aku harus menyelamatkan anakku, ya, ini anakku, aku harus membebaskannya. Membebaskannya dari kungkungan yang kejam, membebaskannya dari seluruh kesewenang-wenangan, membebaskannya dari kehidupan yang kelam. Ia harus menjadi manusia bebas! Ia anakku, anakku yang akan memberontak pada kungkungan itu.”Kembali Mila berkata-kata dengan rasanya. Semangat Mila selalu bertambah ketika mengingat anaknya sambil mengelus-elus perut yang semakin membesar itu.

Suatu hari, di bawah teriknya matahari, Mila begitu lemas, bukan lemas lantaran lapar, tapi ia hendak melahirkan. Mila sudah tak kuat lagi berjalan, ia meminta tolong pada orang-orang di sekitarnya dan beberapa orang mendekat. Mereka tahu Mila hendak melahirkan, beruntung, mereka langsung membawa Mila ke rumah sakit.

Sampai di rumah sakit, sempat terjadi penolakan karena kamar bersalin terlalu penuh, namun pada akhirnya Mila tetap diperbolehkan bersalin di rumah sakit itu. Di tempat bersalin Mila langsung ditangani, dengan sisa tenaganya yang begitu lemah, mau tidak mau Mila harus tetap melahirkan. Keringatnya bercucuran deras, tarik nafas, keluarkan nafas, ia ulang berkali-kali untuk mengumpulkan tenaganya.

Ia berusaha mengeluarkan bayinya dengan sekuat tenaga. Tak hanya keringat yang mengalir, air matanya juga ikut mengalir. Air mata perjuangan demi memerdekakan makhluk sucinya. Susah payahnya terbayar dengan suara tangis yang begitu melengking dan menggema.

Seusai dokter menyeka anaknya, diberikanlah anak itu pada Mila, bayi itu perempuan. Mila tersenyum pada anaknya, senyum kelelahan, senyum kebahagiaan, senyum kesengsaraan, semua keadaan menyatu dalam senyumnya itu, lalu ia berkata pada anaknya,

”selamat datang, anakku, selamat datang di dunia barumu. Kau akan menjadi makhluk yang bebas, yang menentukan perjalanan hidupmu sendiri. Dengarkan ibumu baik-baik, jangan biarkan orang lain merampas kebebasan dan kebahagiaanmu, jika ada, kau harus melawannya, melawan dengan tindakan, jika tak bisa, lawanlah dengan mulutmu, jika itu masih tak bisa, paling tidak kau harus melawan dengan hatimu! Jangan diamkan mereka!”, bayi itu tersenyum, Mila pun tersenyum.

Dengan senyum itulah Mila diantarkan, diantarkan pulang ke rumah Sang Kuasa, rumah kebebasannya, rumah terindahnya, rumah yang sama sekali belum pernah ia tempati, dan ia akan menempati rumah itu selamanya bersama penciptanya. Ya, inilah kebebasan versi Mila. Kegagalan cintanya tak menghalangi kebebasannya. Satu hal lagi, Mila sudah melawan, dan perlawanan akan berlanjut dengan lahirnya calon pelawan yang suci.

Penulis: Arifan
Editor: Sasti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here