Lamongan, Justisia.com – Hari raya Idul Fitri merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim di seluruh dunia. Cara-cara untuk menyambut dan merayakan Idul Fitri pun berbeda-beda di setiap daerah, tidak terkecuali masyarakat dusun Sumberwudi, desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan.

Masyarakat dusun Sumberwudi menyambut hari raya Idul Fitri diawali dengan berziarah ke makam para leluhur: orang tua dan sanak saudara yang sudah meninggal. Kegiatan ini mengambil waktu di sore hari, yaitu antara sesudah ashar sampai maghrib tiba. Ziarah ke makam para leluhur biasa dilakukan satu hari sebelum hari raya Idul Fitri tiba, yaitu di hari ke 28 Ramadhan. Tradisi ini bertujuan untuk mengingatkan bahwa setiap manusia pasti akan kembali kepada Sang Pencipta.

Selepas maghrib warga dusun Sumberwudi yang sudah terkelompokkan oleh kelompok pengajian Jumat Wage atau Rukun Tetangga (RT) masing-masing secara bersama-sama bertolak dari satu rumah ke rumah yang lain warga anggota RT masing-masing untuk melakukan Megengan.

Di dusun Sumberwudi kegiatan Megengan sudah berlangsung sejak lama. Seperti di daerah-daerah lain yang melakukan Megengan, di dusun Sumberwudi Megengan dilakukan dalam bentuk tasyakuran juga. Namun, tidak seperti di daerah lain, di Sumberwudi Megengan tidak lagi dilakukan di masjid atau tempat ibadah lain seperti langgar atau musholla dengan masing-masing warga membawa nasi lengkap dengan lauk-pauknya yang sudah disiapkan di ceting untuk kemudian saling ditukarkan selepas tahlil. Sekarang, Megengan di Sumberwudi dilakukan di rumah warga dengan suguhan jajanan atau sejenis makanan ringan lainnya.

“Dulu kan nasi, sehingga muspro (baca: sia-sia), ada banyak yang tidak terpakai (dimakan),” jelas warga RT 03 Shohib.

Megengan merupakan kegiatan yang rutin dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas datangnya hari-hari istimewa dalam Islam seperti awal Ramadhan, hari raya Idul Fitri, dan Idul Adha. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Shohib yang juga sebagai Kepala Sekolah MI Islamiyah Sumberwudi, yang mengatakan bahwa Megengan sejatinya sebagai perwujudan rasa syukur yang diwujudkan dalam perbuatan sedekah.

“Juga bisa sodakoh, artinya memberi tetangga-tetangga seikhlasnya, bentuknya lain-lain sesuai kemampuannya,” ujar Shohib

Megengan, di Sumberwudi khusunya sudah menjadi tradisi turun-temurun. Diambil dari Bahasa Jawa: Megeng, yang berarti menahan.

Selain sebagai tanda perwujudan syukur atas datangnya Ramadhan, Idul Fitri atau Idul Adha, adanya Megengan juga merupakan suatu wadah silaturrahim antar warga terutama yang saling bertetangga. Serta yang tidak boleh lupa di dalamnya juga terdapat acara inti kirim doa kepada para leluhur yang sudah mendahului.

Karena hampir ada 12 rumah -dalam satu kelompok RT atau pengajian Jumat Wage- yang harus dikunjungi untuk dilaksanakan tahlil dan kirim doa, Megengan biasanya mengambil waktu sampai satu jam paling lama, hingga waktu Isya tiba. Namun, di dusun lain ada juga yang baru mulai setelah shalat Isya.

Selepas Isya giliran warga diajak untuk bertakbir keliling. Diawali dengan pesta kembang api dan pelepasan lampion, Takbir Keliling dilakukan dengan berjalan kaki mengitari dusun Sumberwudi.

Kegiatan Takbir Keliling sendiri bertujuan untuk ngurip-ngurip (menghidupkan) malam datangnya hari lebaran, serta untuk menyambut datangnya hari raya Idul Fitri. Karena dalam ajaran Islam menghidupkan malam hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha bernilai sunah.

“Aku pernah dengar kalau kita itu harus menghidupkan dua hari raya sama menjalankan sholat ba’da isya dan sholat witir, dan kita harus sebagai umat muslim menghidupkan dua hari raya tersebut, takbir keliling itu disunahkan sih bukan wajib,” tutur Devi mahasiswa IAIN Jember.

Nyala petasan dan kembang api menjadi penanda berakhirnya serangkaian kegiatan menyambut hari lebaran.

Pada hari raya Idul Fitri, masyarakat dusun Sumberwudi menjalankan sholat Idul Fitri. Ada dua tempat yang diperuntukkan untuk sholat idul fitri, yaitu masjid al ikhlas dan musholla Pondok Pesantren Nurul Huda. Musholla Pondok Pesantren Nurul Huda dikhususkan untuk jamaah perempuan saja. Biasanya setelah ibadah sholat idul fitri selesai dan dilanjutkan dengan bersalam-salaman antar setiap jamaah, para jamaah di musholla Pondok Pesantren Nurul Huda meneruskan silaturrahim ke rumah-rumah kyai yang ada di lingkungan pondok.

Selepas itu, masyarakat berkeliling untuk maaf-maafan dengan para tetangga yang biasanya dikenal dengan istilah pluputan. Pada malam harinya, para pemuda dan anak kecil umumnya pluputan ke guru-guru, dari guru TK sampai SMA yang bertempat tinggal di dusun Sumberwudi. Rentetan acara itu semua sudah dilakukan semenjak dahulu, tetapi seiring bertambahnya tahun mulai sedikit berubah.

“Tradisi Idul fitri dulu sama sekarang beda. Dulu jam sembilan malam ke atas itu masih ramai, di pondok pun masih ramai. Sekarang jam sembilan itu udah (mulai) sepi, pondok sepi, mungkin karena perbedaan jaman,” papar gadis berumur 20 tahun tersebut. (Rep:Ayu/Ed:Am)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here