Salatiga, Justisia.com – Komunitas Bela Indonesia (KBI) Jawa Tengah kembali menggelar acara yang bertajuk Pelatihan Juru Bicara Pancasila 2.0 mulai Jumat hingga Minggu (8-10 Maret 2019). Pengambilan tema acara 2.0 dimaksudkan karena tahun ini merupakan tahun yang kedua KBI mengadakan acara yang serupa. Sebelumnya, acara dengan konsep yang sama persis digelar, hanya saja perihal tempat yang membedakan. Tahun ini acara dihelat di Muria Training Center, Bugel, Sidorejo, Kota Salatiga.

Pelatihan Jubir (baca: Juru Bicara) Pancasila ini dilakukan setelah sebelumnya dilakukan seleksi peserta selama tidak lebih dari dua minggu (11-24 Februari 2019). Hingga berhasil terpilih sebanyak 30 peserta yang seluruhnya merupakan dari kalangan pelajar-mahasiswa.

“Peserta pelatihan hanya ditujukan khusus untuk mahasiswa. Karena mahasiswa adalah terpenting dalam kehidupan […]. Usia-usia antara 18 hingga 25 tahun itu adalah saat-saatnya proses pembentukan. Jadi ketika kita sukses membentuk seorang mahasiswa menjadi juru bicara Pancasila maka seterusnya mahasiswa-mahasiswa ini akan menjadi agen yang patut terus dikembangkan,” terangnya.

Menurut Ketua III KBI Muhamad Husni Mushonifin (39), indikator peserta yang lolos seleksi adalah didasarkan pada tingkat pengetahuan mereka terhadap Pancasila dan pengetahuan-pengetahuan yang terkait lainnya.

“Peserta yang mengikuti acara ini dianggap sudah mengetahui seutuhnya Pancasila,” ujarnya saat dijumpai di Aula Muria Training Center, Sabtu (9/3/2019).

Hal ini diterapkan mengingat pada hari pelatihan nanti pihak panitia tidak akan memberi lagi materi tentang Pancasila, melainkan langsung kepada cara pengaplikasiannya.

“Dari panitia tidak lagi memberikan materi tentang pancasila, tapi lebih ke skill untuk mengampanyekan pancasila,” jelas pria yang akrab disapa Bojes itu.

Pelatihan Juru Bicara Pancasila ini memberikan beberapa materi kepada peserta, di antaranya: argumen agama untuk toleransi dan anti terorisme, analisis sosial, kepenulisan, dan strategi debat.

“Dengan adanya materi seperti ini yang disajikan oleh panitia diharapkan para peserta dapat […] memberikan arahan yang baik terhadap orang-orang yang terpapar ajaran-ajaran yang anti Pancasila,” jelasnya.

Bojes menuturkan bahwa acara ini diselenggarakan dengan maksud agar ideologi Pancasila bisa senantiasa lestari di tengah maraknya isu yang menginginkan adanya penggantian ideologi. Selain itu peserta yang semuanya adalah kaum milenial diharapkan mampu memberi sosialisasi secara optimal tentang Pancasila kepada orang-orang di sekitar mereka.

“Tujuan kami […] yaitu menyampaikan semangat-semangat terhadap generasi muda untuk mengkampanyekan kembali nilai-nilai Pancasila baik melalui media sosial maupun media cetak. […] Medsos dipilih karena banyak kaum muda menjadikan medsos sebagai primadona,”.

Namun tidak hanya melalui media sosial atau media cetak, nantinya para peserta diharap bisa menjadi sumber informasi melalui berbagai perbincangan ringan ataupun melalui forum diskusi-diskusi.

“Berbicara Pancasila bukan hanya tentang toleransi dan intoleransi antar agama tetapi juga soal keadilan, pembelaan terhadap kaum minoritas, pembelaan terhadap kaum tertindas dan marajinal serta mengadvokasi masyarakat-masyarakat yang mungkin belum mendapatkan akses pelayanan maksimal dari negara,” jelasnya.

Pria kelahiran Banyumas ini mengaku puas acara dapat berlangsung dengan baik. Namun katanya, keberhasilan dari pelatihan ini baru bisa dilihat ketika para peserta memiliki ketajaman visi, tujuan, dan hal-ikhwal terkait kepancasilaan dalam berkampanye nantinya.

Selain itu, dari peserta yang juga merupakan ketua kelas di acara ini, Retma Ayu Ningtyas menilai acara yang diselenggarakan KBI Jateng yang kedua kalinya ini berjalan dengan menyenangkan.

“[…] acara ini sangat menyenangkan. […] saya merasa lebih terbuka wawasan mengenai keberagaman dan kemajemukan […] tanpa disertai diskriminasi,” tutur mahasiswi IAIN Surakarta itu.

Ketika disinggung masalah kesiapan terhadap target yang ditentukan panitia setelah acara, dengan yakin perempuan berkacamata ini mengaku siap. Perempuan keturunan Lampung ini memiliki motivasi tersendiri untuk dapat merasakan atmosfer baru di luar Solo.

Ke depan, katanya, penjaringan massa bisa diperbanyak lagi untuk memudahkan dalam mengenalkan Pancasila serta agar sosialisasi bisa lebih masif. Ia berharap pihak penyelenggara bisa mengadakan kegiatan lanjutan berupa kunjungan ke kampus-kampus agar sosialisasi dan kampanye bisa semakin meluas. (Rep:M2SP6,Hikmah/Red:Am)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here