Saya tergelitik untuk menanggapi wacana yang sedang menggelinding tentang perlunya mengimpor rektor untuk membenahi kampus dan agar membuat universitas-universitas di Indonesia “berkelas internasional”.

Seperti dikutip Pak Azra, Menteri Nasir menjadikan Saudi sebagai salah satu contoh negara yang “mengimpor” rektor sehingga mampu mengangkat ranking dan reputasi sejumlah kampus di kerajaan ini di tingkat internasional.

Menurut catatan QS World University Ranking, setidaknya ada dua kampus di Saudi yang masuk daftar “kampus kelas dumia” yaitu King Saud University (ranking 237) yang dikutip Pak Menteri, dan kampusku, King Fahd University of Petroleum and Minerals (ranking #199). Tetapi keliru besar kalau beranggapan, jika kedua kampus ini maju karena mengimpor rektor.

Justru karena kebijakan “Saudisasi”, para pimpinan atau top leadership di kampus-kampus (rektor, wakil, dekan, direktur, ketua departemen, dan lain sebagainya) harus dipegang oleh warga Saudi. Di Saudi, universitas yang rektornya mengimpor adalah King Abdullah University of Science and Technology. Itupun karena kampus swasta yang baru berdiri beberapa tahun lalu. Presiden kampus ini adalah Jean-Lau Chameau, seorang Prancis dan mantan Presiden California Institute of Technology (Caltech).

Kunci dari kemajuan kedua kampus di atas saya kira terletak pada para profesor dan peneliti ekspat yang memiliki produktivitas tinggi dalam menulis di jurnal-jurnal top dunia. Merekalah “ruh” atau “tulang punggung” kampus. Para profesor yang aktif riset dan produktif menulis dikurangi jam mengajarnya. Sementara itu, bagi mereka yang kurang aktif riset dan tidak produktif menulis ditambahi jam ngajarnya.

Kalau kampus-kampus di Indonesia mau “maju sedikit”, saya kira tidak ada salahnya untuk memberi ruang sebesar-besarnya bagi para tenaga pengajar yang aktif dan produktif. Tapi sepertinya ya repot sekali karena saya perhatikan para dosen di kampus-kampus di Indonesia mengalami “kelebihan muatan”: terlalu banyak mengajar sementara gajinya minim sekali.

Akhirnya para dosen saling berebutan proyek dan “ngojek” kesana-kemari untuk menjaga agar “dapur tetap mengebul”. Apalagi anak-isteri minta ini-itu ya Pak Dosen tambah stres. Problem lain, riset tidak ada dananya, selain fasilitas riset-akademik yang minim. Ya memang serba repot kalau sudah begini. Belum lagi soal intrik dan politik kampus yang aassuudahlah.

Ditangani rektor made in dalam negeri saja yang mengerti seluk-beluk rumah tangga kampus belum tentu roda pendidikan berjalan baik, apalagi “rektor impor” yo malah tambah kujur to kang

Penulis : Sumanto al-Qurtuby (Dosen di King Fahd University of Petroleum and Minerals Saudi Arabia)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here