• Nama peresensi    :Muh Rofiq Najih Hariri
  • Buku yang di resensi    : Berislam di Era Milenial.
  • Penulis            :Khoirul Anwar.
  • Penerbit        :eLSA Press.
  • Tebal buku        : 218 halaman.

Menghadapi tantangan di zaman milenial ini bukanlah sesuatu yang mudah terutama di bidang keagamaan. Kalau zaman dulu, mengaji atau belajar pada ulama harus secara langsung dengan mendatanginya bahkan sampai ke luar negara dengan tujuan mencari ilmu, begitu juga dengan berdakwah, mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh demi terlaksaananya tujuan mereka.

Namun, pada zaman sekarang ini sungguh terbalik, media dakwah-dakwah Islam pun semakin mengalir deras di seantero jagad karena padatnya lalu-lintas dakwah yang tersebar di media massa maupun media sosial tak terelakkan. Pesantren pun tak mau kalah dengan persaingan itu, sehingga tak sedikit pesantren yang menayangkan pengajiannya, maka tidak hanya dinikmati oleh orang yang mengaji langsung di situ, namun juga bisa dinikmati orang yang berada di manapun.

Saking derasnya media yang tersebar, sehingga banyak sekali paham-paham yang berbau radikal masuk di media itu. Maka tak heran sekarang ini banyak orang yang terhasut oleh mereka. Mereka menyuarakan jihad, mudah mengkafirkan orang lain yang tak sepaham dengan mereka. Mereka menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar. Inilah ajaran Islam yang kaku, padahal ajaran Islam itu adalah rohmatan lil alamin.

Maka buku yang bertema “Berislam di Era Milenial” ini tepat untuk menghadapi semua itu dalam perebutan wacana di atas, dan menyadarkan kepada kita bahwa Islam itu adalah mudah, lemah lembut, yang menjadi agama rohmatan lil alamin, yang artinya rohmat bagi seluruh alam semesta.

Buku yang ditulis Khoirul Anwar ini, terdapat 3 bagian, yaitu bagian 1 tentang ibadah, bagian 2 tentang hubungan antar umat beragama, bagian ke 3 tentang kebangsaan. Sehingga buku ini tidak hanya menjelaskan hubungaan vertikal antar manusia, namun juga menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan dengan Allah yang diterangkan pada bagian pertama yakni ibadah.

Pada bagian pertama, penulis menjelaskan tentang ibadah. Salah satunya adalah puasa. Dalam bagian 1 ini lebih banyak penjelasan tentang puasa, ada juga tentang barokah, dan lain-lain. Mengenai puasa, sebenarnya puasa itu bukan hanya Islam yang menjalankan, namun juga Sabi’in, Yahudi, dan Nasrani juga terlebih dahulu melakukannya. Hal ini disebabkan Arab itu tanah yang berada di antara jalur Syam dan Yaman. Pedagang-pedagang Yahudi singgah di sana dan terjadilah penyerapan kebudayaan.

Maka tak heran jika puasa itu berasal dari adopsi-adopsi agama lain meskipun puasanya orang Islam tata-caranya tidak sama persis sebagaimana puasanya orang Yahudi. Tentang ngalap barokah kiai, banyak pihak yang mengatakan bahwa barokah itu adalah musyrik. Pandangan tersebut salah, menurut Shahih Bukhori banyak riwayat yang menyatakan bahwa sahabat itu berebut barokah yang ada pada diri Nabi, baik melalui potongan rambut, mencium tubuh, keringat, dan lain-lain. Ngalap barokah bukan berarti menuhankan sesuatu, melainkan menjadikannya sebagai perantara memohon kebaikan dari Allah. 

Pada bagian kedua ini, penulis menjelaskan tentang hubungan antar umat beragama. Islam sangat menjunjung tinggi nilai toleransi antar umat beragama, sebagai bukti bahwa nabi ketika sedang duduk bersama dengan sahabat-sahabatnya, mereka dilewati jenazah Yahudi, Nabi pun berdiri sebagai bentuk penghormatan kepada mereka. Di dalam buku ini juga menyadarkan kepada kita, bahwa kita juga harus berlaku lembut meskipun kepada musuh, kecuali jika keadaan mendesak itupun hanya sebagai pembelaan bukan pembalasan.

Pada awal-awal Islam, orang yang masuk Islam akan ditindas dan disiksa bahkan sampai mati. Para sahabat pun tetap pada keimannnya. Misalnya, Bilal bin Rabah yang disiksa dengan dilepas pakaian yang dijemur di terik matahari dan badannya ditumpuk dengan batu besar; ada juga sahabat Nabi yang kakinya diikat dengan kuda, lalu disabetlah kuda itu sehingga kuda itu berlari-Lari kencang sambil menyeretnya; dan masih banyak lagi kedzaliman-kedzaliman yang dilakukan kafir quraisy, hingga ada yang disiksa sampai meninggal dunia.

Sahabat pun tak ingin tinggal diam ingin membalas perbuatan kafir quraisy yang sangat kejam itu, nabi melarangnya dan justru mendoakannya. Ini lah salah satu akhlak dari nabi, meskipun didzalimi Nabi tetap berlaku lembut dan tidak membalasnya meskipun kepada musuh-Nya. Untuk lebih lengkapnya bisa dibaca langsung buku ini.

Pada bagian 3, buku ini membahas tentang kebangsaan. Kita sebagai orang muslim Indonesia harus bangga dengan Pancasila. Beberapa tahun lalu pancasila ini dikejutkan dengan HTI, sebuah ormas Islam garis keras yang menganggap pancasila keluar dari ajaran Islam, atau dalam bahasa mereka menyebut pancasila sebagai ajaran thoghut.

Padahal jika dikaji dengan pendekatan Qur’ani, tidak ada yang sila yang bertentangan dengan al-Qur’an, untuk lebih jelasnya bisa dibuka sendiri buku ini, bahwa masing-masing sila ada dasar al-Qur’annya. Masa sekarang ini banyak bermunculan ormas-ormas Islam yang bergaris keras dan radikal, yang mana jika tidak sependapat dengan dia maka akan diperangi. Padahal al-Qur’an secara eksplisit memberikan kebebasan beragama (lihat QS. Al-Baqoroh 256; Yunus 108; al-Isra’ 15).

Mereka mengobarkan jihad. Kemlopok jihadis ini mudah memerangi meskipun kepada orang muslim sendiri yang tidak sependapat dengannya. Dalam sejarah, Nabi melakukan jihad atau perang dalam rangka pembelaan, seperti orang-orang kafir Quraisy mendzalimi Nabi dan para pengikutnya dengan cara menyiksa, mengejek, mengusir bahkan ingin membunuh Nabi. Untuk menghindari hal itu Nabi tidak langsung memerangi, namun beliau hijrah terlebih dahulu ke Madinah.

Meskipun Nabi sudah hijrah ke Madinah, namun mereka masih saja berencana dzalim. Akhirnya Nabi pun terpaksa harus perang demi membela dari kedzaliman. Perang ini dilakukan sebagai bentuk pembelaan bukan pembalasan, dan Nabi tidak pernah memulai peperangan. Jihad sendiri tidak harus berupa perang, tetapi juga menahan hawa nafsu itu merupakan bagian dari jihad. 

Dalam bagian ketiga ini juga disinggung tentang pemaknaan kata hijrah. Belakangan ini hijrah menjadi bahasa yang khas yang digunakan untuk sebagian muslim yang berusaha merubah dirinya lebih baik taat, dan bertaqwa. Ungkapan tersebut salah kaprah. Ungkapan untuk orang yang berusaha memperbaiki dirinya adalah taubat, bukan hijrah.

Kelebihan buku “Berislam di Era Milenial” karya Khoirul Anwar: 

  • Buku ini isinya sesuai dengan judulnya (berislam di era milenial).
  • Buku ini sangat tepat untuk dibaca menghadapi situasi zaman sekarang.
  • Buku ini menunjukkan bahwa Islam itu agama rohmatan lil alamin, tidak radikal dan keras.
  • Di dalamnya terdapat sejarah, ditinjau dari fiqh, dan disertai referensi-referensi, baik dari al-Qur’an, Hadis atau perkataan ulama, sehingga kebenaran dalam buku ini cukup berbobot.
  • Bahasanya mudah dipahami sehingga bisa dinikmati semua kalangan.
  • Sampul dan kertasnya bagus, sehingga menarik orang untuk membaca.

Kekurangan buku “Berislam di Era Milenial” karya Khoirul Anwar:

Rata-rata refrensi di dalamnya tidak dituliskan dalilnya, namun hanya disebut secara eksplisit, misalnya “QS. Al-Baqarah 256” saja, tanpa menuliskan ayatnya, sehingga jika pembaca ingin mengetahui ayatnya, harus repot-repot buka Al-qur’an lebih dahulu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here