Justisia.com – Penyitaan buku-buku milik komuitas Perpustakaan Jalanan “Vespa Literasi” oleh kepolisian di Alun-Alun Kraksaan Probolinggo, Sabtu (27/7/2019) berakhir dengan diambilnya buku-buku tersebut oleh MUI Probolinggo dengan alasan untuk dipelajari.

Dikutip dari radarbromo.jawapos.com Muhammad Alfayyadl, salah satu aktivis literasi menyesalkan tindakan tersebut sebagai sebuah tindakan yang tidak menghargai dalam dunia akademik.

“Penyitaan ini cermin minimnya penghargaan atas dunia buku dan produk intelektualitas,” ujarnya Selasa (30/7/2019).

Tapi siapa sih sebenarnya komunitas Perpustakaan Jalanan Vespa Literasi ini. Namanya cukup unik dan menjadi bahan pemberitaan media nasional dan lokal dalam beberapa hari terakhir.  

Salah satu punggawa komunitas literasi, Abdul Haq menceritakan awal mulanya ia bersama tiga teman lainnya yang pertama kali merintis Vespa Literasi ingin membuka perpustakaan jalanan beberapa tahun lalu. Namun hal itu baru bisa terwujud pertama kali membuka lapak baca gratis pada 17 Desember 2017.

“Sebenarnya kita punya keinginan seperti itu sudah lama, tapi kita baru bisa membukanya mulai 17 Desember 2017 yang lalu. Pertama kali kita berempat; saya sendiri Zainul Hasan R, Achmad Humaidi, Rony Wijaya,” ujar mahasiswa Universitas Nurul Jadid tersebut kepada Justisia.com, Kamis (1/8/2019) siang.

Menurutnya, di Probolinggo, Vespa Literasi sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat. Hampir sudah sering melihat mereka saat membuka lapak baca di alun alun kota. Keinginan sejak lama untuk membuka perpustakaan jalanan gratis tidak segera terwujud, karena keterbatasan buku yang dimiliki. Mereka juga berusaha mengumpulkan buku-buku sendiri dengan membeli buku, kolektif uang bersama, dan kadang ada yang mendonasikan bukunya untuk disumbangkan. Sehingga mereka sangat  menyayangkan tindakan kepolisian, dengan usaha kerasnya untuk mengumpulkan buku yang disita begitu saja.

Penyematan nama vespa sendiri bukan tanpa alasan, karena saat itu kendaraan yang dimilkki salah satu anggota berupa vespa. Akhirnya digunakanlah vespa untuk akomodasi membawa buku-buku setiap kali membuka lapak baca. Tidak jarang juga teman-teman vespa lainnnya di Probolinggo turut merapat ke lokasi dibukanya lapak baca.

Komunitas Vespa Literasi kadang mereka tidak cuma membuka lapak baca gratis saja, mereka sering membuka forum diskusi dan lain-lain.

“Selain bertujuan dalam hal literasi, komunitas ini juga menyediakan ruang menggambar gratis, dan diskusi pastinya. Kalau tempatnya yang kadang pindah-pindah, sesekali ada di warung kopi juga,” ujar mahasiswa asal Probolinggo tersebut.

Jadwal Vespa Literasi biasa membuka lapak baca setiap Sabtu Minggu pagi mereka membuka lapak di Kampus Institut Zainul Hasan Genggong, Sabtu Minggu sore di alun-alun Krasakan, Senin Selasa di Universitas Nurul Jadid. Kini mereka memiliki koleksi buku sekitar dua ratusan buku. Anggota mereka juga sudah bertambah menjadi sembilan orang, yang mengelola secara bersama-sama.

“Kita kelola bareng aja mas, semua sama, gak ada ketua dan lainnya,” kelakarnya.

Di beberapa tempat, komunitas perpustakaan jalanan sudah biasa dijumpai. Namun penggunaan vespa sendiri sebagai hal yang menarik buat Vespa Literasi membedakan dari komunitas yang lain. Saat hari Minggu di alun-alun Krasakan bertepatan dengan kopdar kawan-kawan Vespa Probolingo turut meramaikan lapak juga.

Kedepan, menurut Abdul Haq mereka berkeinginan lebih luas lagi dalam mengkampanyekan kegiatan literasi gratis ini. Menyinggung soal komunitas vespa mereka ingin mengajak teman-teman vespa yang secara solidaritas sudah dikenal baik, kuat, dan solid. Selain sasaran mereka juga semua elemen masyarakat yang ada.

Hal ini cukup beralasan karena keberadaan komunitas vespa adalah hal yang positif. Dengan soliditas mereka yang sudah baik, dan sudah diterima di masyarakat, semua elemen, sangat baik apabila didorong untuk kegiatan yang lebih positif lagi seperti kegiatan literasi ini.

“Kegiatan-kegiatan sosial yang lain juga bisa mereka masuki agenda yang baik. Seperti bersih-bersih pantai, menanam pohon, mengkampanyekan pelestarian lingkungan. Galang dana untuk korban bencana, dan masih banyak lagi lah,” pungkasnya.

Ia mengungkapkan bahwa setelah kejadian ini, mereka akan tetap melanjutkan kegiatan mereka membuat lapak baca literasi gratis. Ini bagian dari perjuangan menanamkan semangat baca dan melek literasi kepada masyarakat luas. (Rep:Mft/Ed:A.M)

Reporter: Mufti

Penulis: Mufti

Editor: Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here