Dewasa ini, kecintaan seseorang terhadap negara Indonesia sedikit memudar. Entah dipengaruhi faktor internal maupun eksternal. Kenyataannya kedua fator tersebut sama-sama berpengaruh terhadap pribadi setiap orang. Menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa sendiri seyogiyanya dimulai dari memahami bangsa tersebut. Memahami keadaan, kondisi, serta latar belakang bangsa itu.

Menurut Kaelan dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Kewarganegaraan, Wawasan Nasional merupakan bentuk kecintaan terhadap negaranya guna menjamin kelangsungan hidup dan keutuhan bangsa dan wilayahnya. Dari penjelasan Kaelan tersebut, mencintai bangsa bukan hanya diartikan dengan menjamin kesejahteraan, namun lebih dari itu yaitu anjuran untuk menjaga wilayah bangsa tersebut. Bukan diartikan dengan menjaga batas-batas negara yang ada di laut, darat, dan udara. Namun, juga berperan aktif untuk menjaga lingkungan. 

Apabila anak-anak di kota besar memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengeyam pendidikan yang tinggi, sehingga mereka mampu memahami wawasan nasional lebih dalam, lantas bagaimana dengan nasib anak-anak di pelosok kota kecil atau mereka yang berada pada keterbatasan dana untuk mengenyam pendidikan tinggi. Karena pada dasarnya pendidikan menjadi hal yang sangat vital bagi manusia.

Bukan hanya anak desa, namun banyak pula dari anak-anak di kota besar yang tidak bisa memiliki pendidikan yang tinggi. Biasanya hal ini dilatarbelakangi oleh kendala finansial. Lalu apakah kendala tersebut dapat menghalangi seseorang untuk mencintai negerinya?

Setiap orang tentu memiliki garis kehidupan masing-masing. Ada mereka yang ditugaskan untuk mengurusi pemerintahan, mengurusi pengadilan, mengurusi agama, dan tentu ada juga yang bertugas menjadi petani atau nelayan. Mengajarkan mereka yang tidak berkesempatan untuk mencintai Indonesia, mulai dari tanahnya hingga keutuhan suatu bangsa tidak bisa dengan cara yang instan. Namun, bisa dilakukan dengan cara yang sederhana. Karena hal tersebut tumbuh dengan kebiasaan yang ada. 

Sebagai Mahasiswa yang memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan di universitas, sudah selayaknya mencintai bangsa diterapkan dan dicontohkan kepada teman-teman yang tidak memiliki kesempatan yang sama. Perilaku ini merupakan hal kecil yang sangat bermanfaat untuk negara kita. Perilaku itu adalah dengan membuang sampah pada tempatnya. Membudayakan membuang sampah pada tempatnya sedikit demi sedikit akan menyadarkan mereka bahwa bumi ini sudah terlalu tua untuk menampung sampah.

Di manapun, sampah akan menjadi sumber masalah bagi negeri ini. Bagi mereka yang berada di area pegunungan, sampah akan mengganggu perkebunan atau pertanian. Mengundang tikus dan hama lainnya. Sampah juga mencemari lingkungan yang asri di sekitar pegunungan. 

Berbeda dengan mereka yang letak geografisnya desa berdekatan dengan laut. Membuang sampah di laut tentu merugikan banyak pihak. Dapat menyebabkan banjir, merusak habitat ikan, dan mengotori laut. Tak hanya itu, sampah juga menyebabkan timbulnya nyamuk di daerah yang rendah. Dengan membudayakan membuang sampah pada tempatnya, anak-anak akan menjadikan itu suatu kebiasaan dan mulai mencintai lingkungan di sekitarnya. 

Perasaan cinta tanah air tidak selalu digambarkan dengan orasi di depan publik. Tak jarang mereka yang berorasi di depan banyak orang dan berkoar-koar mencintai negeri ini kerap meninggalkan sampah setelah acara selesai. Menuntut pemerintah menuntaskan banjir, tetapi justru mereka yang menyebabkan banjir. 

Saat ini kita berada pada fase disruption, fase di mana keadaan menjadi serba tidak pasti. Generasi pun disebut dengan millennials. Generasi yang ditandai dengan pergantian tahun millenium (tahun 2000) baik orang yang memasuki usia 18 tahun pada saat itu atau anak yang lahir di tahun itu. Dari penjelasan Renald Kasali dalam bukunya yang berjudul Disruption, saat inilah yang dinamakan generasi millennial. 

Maka karena ketidakpastian tersebut, sebagai generasi muda kita wajib mengobarkan semangat kepekaan terhadap lingkungkan kepada siapapun. Mencintai Indonesia bisa kita mulai dengan mencintai lingkungan sekitar. Dan apabila terlalu sulit merangkul semua orang untuk menjaga keutuhan bangsa, maka mulailah dengan menjaga keutuhan lingkungan. Semua hal positif, lambat laun akan menjadi hal yang sangat bermanfaat dikemudian hari.

Penulis: Sayyida Mahmuda
Editor: Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here