Sragen, Justisia.com – Adat istiadat serta tradisi yang ada pada setiap daerah di Indonesia merupakan sebuah kekayaan yang perlu dijaga serta dilestarikan. Setiap daerah memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing. Selain itu banyak dari Kebudayaan yang ada tidak saja adat semata tanpa ada maksud dan tujuan, akan tetapi memiliki nilai adiluhung dan memiliki filosofi nilai yang amat dalam.

Kebudayaan yang ada tidak hanya mencakup acara ritual dalam memperingati suatu peristiwa. Namun, adat istiadat juga masuk dalam prosesi pernikahan, serta acara yang sakral bagi kehidupan. Dengan adanya adat istiadat yang ada bukan mengubah maksud dan kesakralan acara-acara tersebut, tapi menambah kesakralan dan nilai yang ada dalam tersebut.

Seperti pada prosesi pernikahan, setiap daerah memiliki ciri yang berbeda dan keunikan yang menjadi identitas dari daerah tersebut. Termasuk juga adat istiadat yang ada di Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen.

Kecamatan yang terletak di ujung timur Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Jawa Timur ini memiliki tradisi, adat istiadat yang kaya akan nilai dan ciri khas daerah tersebut. Dalam resepsi pernikahan di daerah tersebut memiliki banyak ciri khas dan adat yang masih dijaga hingga sekarang. Mulai dari malam sebelum acara resepsi yang biasa disebut Midodareni hingga pasca resepsi yang dinamai nyelapani (memperingati 35 hari setelah pernikahan).

Dan juga pada acara resepsi tersebut ada berbagai acara yang sangat kental dengan budaya jawanya. Menurut Simbah Suwarno salah satu sesepuh daerah tersebut mengungkapkan bahwa adat istiadat yang ada merupakan pengadopsian dari Kesunana Surakarta yang merupakan hasil dari pemikiran dari Sunan Kalijaga yang dahulunya diterapkan di Kerajaan Demak Bintara. Dan juga di daerah sekitar Kasunanan rata-rata memiliki budaya seperti itu dengan pakaian sarimbitan.

Sejarah Mbubak Kawak

Yang menjadi menarik dan membedakan daerah Sragen Timur khususnya di Dukuh Toro Desa Kaliwedi, Kecamatan Gondang dalam prosesi resepsi adalah mbubak kawak. Mbubak Kawak tersusun dari dua kata mbubak yang memiliki arti kata membuka dan kawak  yang memiliki arti tua sekali, atau bisa diartikan sebagai babat alas membuka jalan.

Mbubak Kawak merupakan adat tradisi yang sudah dilakukan oleh warga dukuh Toro sejak dahulu. Untuk pertama kali melakukan prosesi mbubak kawak belum diketahui tepatnya. Namun, menurut sesepuh dukuh Toro, Mbah Su adat seperti itu sudah dilakukan sejak beliau masih kecil. Serta sudah menjadi acara wajib saat warga di Dukuh tersebut melakukan resepsi pernikahan anak perempuannya.

Acara Mbubak Kawak dilakukan pada pernikahan anak perempuan sulung ataupun bungsu. Menurut warga dukuh Toro, Gimin mengatakan, “acara Mbubak Kawak wajib dilakukan sekali seumur hidup entah di anak perempuan yang pertama, tengah atau bungsu, yang jelas harus melakukannya. Namun, umumnya dilakukan pada pernikahan anak yang pertama.”

Menurut sesepuh dukuh Toro tersebut asal muasal dari Mbubak Kawak ini adalah buah pikiran dari Sunan Kalijaga yang dahulu menerapkan prosesi demikian saat pernikahan di Keraton Demak Bintoro, yang juga menjadi salah satu jalan dakwah yang dilakukan Sunan Kalijaga karena menyisipi budaya asli Jawa dengan Islam. Dan menurut Mbah Su juga, pada zaman keraton Demak Bintoro dahulu saat pernikahan ada acara Mbubak Kawak begitupun yang dilakukan di Kasunanan Surakarta.

Tata Cara

Acara ini dilakukan di akhir prosesi resepsi setelah melakukan sesi foto keluarga dan sebelum acara hiburan. Sebelum acara dimulai dilakukanlah persiapan alat dan bahan untuk prosesi mbubak kawak. Dimana alat dan bahan yang disiapkan antara lain, meja sebanyak lima yang ditujukan untukkedua mempelai, tuan rumah dan berjonggo.

Serta bahan yang digunakan adalah kwali, dan di dalamnya berisi katak, Uwi kawak, Gembili kawak, Gadung kawak, Waluh kawak, Pari kawak (Padi tua), Jagung kawak, Degan ijo, Kendi Pertolo dengan dimar (lampu), Degan, kain kafan sebagai penutup, Beras Ketan kawak, payung, dan kain jarik yang dikenakan oleh tuan rumah (putri) seperti wanita yang pulang dari pasar.

Sebelum acara Mbubak Kawak semua bahan ditutupi oleh kain kafan dan bila sudah dimulai maka dibuka saat setelah didoakan. Persiapan dilakukan oleh orang yang ditunjuk saat Kumbo Karno (rapat persiapan). Dalam acara ini dipimpin oleh Berjonggo yang dalam bahasa Indonesianya adalah Pujangga.

Dalam prosesi acara tersebut diawali dengan ucapan syukur serta dengan mengucapkan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu setelah itu melakukan prosesi mbubak kawak dengan melantunkan kalimat berbahasa jawa yang berisi tentang harapan agar kedua mempelai menjadi pasangan suami istri yang langgeng dan lebih langgeng dibandingkan dengan bahan-bahan yang ada seperti yang disebut di atas.

“Ora kawak-kawak o beras parine, kawak o manten e sak keloron. Sak kawak-kawak e Uwi Gembili kawak o manten”. Begitulah potongan dari yang dilafadzkan oleh Berjonggo dengan membuka kendi yang berisi palawija tersebut.

Lalu setelah pembacaan Degan yang telah disediakan diminum oleh tuan rumah (orang tua mempelai) dan juga kedua mempelai/manten yang berasa asin, pesing, pedas, dan segar. Setelah selesai acara Mbubak Kawak maka dilanjutkan dengan hiburan yang telah disiapkan oleh tuan rumah. Acara Mbubak Kawak harus dilakukan oleh setiap orang tua minimal sekali seumur hidup.

Tujuan dan Pengharapan Tuan Rumah

Dalam prosesi Mbubak Kawak ini dilakukan memiliki maksud, tujuan serta pengharapan dari tuan rumah. Pengharapan dari tuan rumah setelah melakukan prosesi mbubak kawak ini adalah berharap kepada Allah SWT agar menjadikan putra-putrinya menjadi suami istri yang sakinah mawadah warohmah. Serta menjadi sepasang suami istri seperti pernikahan dari Nabi Agung Muhammad SAW dengan Sayyidah Khodijatul kubro dan juga seperti pernikahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan Sayyidina Fatimah RA. Hal ini sangat jelas sebagaimana yang diucapkan oleh berjangga dalam lantunan prosesi mbubak kawak.

Selain itu dengan penyimbolan bahan-bahan yang ada dalam prosesi tersebut diharapkan kedua anaknya dapat menjadi pasangan suami istri yang bisa langgeng dan bisa kawak (sampai tua) hingga kakek nenek dan sampai ajal memisahkan.

Menurut keyakinan masyarakat dukuh Toro, dengan setelah melakukan mbubak kawak maka orang tua dan si manten semoga bisa megar (lancar) dalam rezeki, sandang, pangan dan papan. Selain itu dengan adanya prosesi Mbubak Kawak ini juga dimaksudkan untuk meminta terhadap Allah SWT agar kedua mempelai segera mendapat keturunan.

Serta dalam Mbubak Kawak ini juga memberikan pelajaran bagi para hadirin dan terkhusus terhadap manten tentang perjalanan calon jabang bayi yang hidup dalam Rahim (gua garba ibu) sampai melahirkan. Dalam prosesi ini juga menjadi perantara untuk meminta terhadap Allah SWT agar diberikan kesehatan kepada seluruh keluarga dari tuan rumah dan juga kepada mempelai yang baru saja dirayakan resepsi pernikahannya.

Ada lagi kepercayaan yang diyakini masyarakat setempat, bahwasanya seseorang yang telah melakukan Mbubak Kawak ini maka apabila memiliki ilmu, ilmu tersebut baru benar-benar bisa digunakan dan dimanfaatkan. Kemudian, orang yang telah melakukan mbubak kawak ini barulah disebut pernah mantu (menikahkan) anaknya. Maka, dengan ini setiap orang yang memiliki anak dianjurkan untuk mengadakan Mbubak Kawak.

Isi Mbubak Kawak

Seperti yang dijelaskan di atas bahwa dalam kebudayaan orang Jawa, acara atau prosesi seperti itu memiliki nilai yang sangat kental. Dalam Mbubak Kawak pun demikian. Nilai yang ada dikemas dan digambarkan dalam isi prosesi Mbubak Kawak. Isi yang ada dalam mbubak kawak adalah tentang perjalanan orang tua Membabat Alas (berjuang) untuk hidup dan menghidup anaknya dari dalam kandungan hingga dewasa bahkan sampai menikah.

Ini digambarkan dari air Degan yang memiliki rasa yang bermacam-macam dalam satu Degan. Pada tegukan pertama rasanya segar, ini disimbolkan bahwa sebelum adanya calon jabang bayi ada di dalam kandungan maka orang tua masih merasa bugar tanggungannya belum bertambah.

Lalu tegukan kedua berasa pedas sebagai gambaran bagaimana susahnya mencari sandang pangan. Lalu tegukan yang ketiga asin dan pesing merupakan gambaran bagaimana si jabang bayi sudah dilahirkan dan masih bayi sering-ngompol.

Bukan hanya itu, isi dalam lafadz yang diucapkan oleh Berjangga juga mengkiaskan tentang kisah penggambaran dunia sebelum diciptakannya Nabi Adam dan Sayyidati Hawa, lalu Nabi Adam dan Sayyidati Hawa yang diturunkan di bumi karena memakan buah Khuldi. Yang mana Nabi Adam AS diturunkan di bumi bagian timur dan Ibu Hawa diturunkan di bumi bagian barat. Dan saling mencari kearah barat dan timur dalam keadaan bumi yang masih gelap. Pada akhirnya keduanya bertemu di Jabal Rohmah lalu bertobat dan meminta bumi untuk diterangkan.

Hal ini sebagai pengiasan bagaimana sepasang suami istri yang sedang dalam pelaminan bertemu, dimana mereka saling mencari dan pada akhirnya bertemu di pelaminan. Seperti bertemunya Nabi Adam AS dengan Sayyidati Hawa.

Mbubak Kawak Menurut Islam

Semakin berjalannya waktu perkembangan penerapan ajaran Islam sangatlah masif dan sangat progresif. Dengan didukung canggihnya teknologi yang terus berkembang, pengaplikasian Islam sangat bervariatif bahkan ada juga yang menolak apa yang menjadi budaya daerah. Namun, melihat apa yang ada dalam Mbubak Kawak dari sejarah, maksud, dan isinya tidaklah menyimpang dari ajaran islam.

Bahkan adanya Mbubak Kawak merupakan berasal dari buah pikiran Sunan Kalijaga salah satu Walisongo yang begitu sukses menyiarkan agama Islam di Indonesia. Begitu juga pengakuan dari salah satu Ustadz desa Kaliwedi alumni Ponpes Lirboyo, Muhammad Jailani, “Semua adat istiadat jika di situ masih meminta kepada Allah SWT mengharap pertolongan dari Allah SWT diperbolehkan dan itu tidak musyrik.”

Dengan adanya prosesi seperti Mbubak Kawak sebenarnya menambah kekayaan nilai dan dapat mengingatkan bagi para orang yang mau mencari tahu dan berfikir. Adanya kita menolak apa yang menjadi adat istiadat ini disebabkan karena pada dasarnya kita belum mengetahui secara mendalam apa maksud dari adat yang ada.

Menurut salah satu dalang menjelaskan, “Bahwa Jawa merupakan peradaban yang banyak menggunakan simbol dan hampir budaya yang ada menjadi kiasan/penggambaran dunia nyata serta banyak memiliki makna konotatif. Jadi, dengan demikian adanya mbubak kawak perlu dijaga, dilestarikan, dan diuri-uri keberadaannya. Karena tidak bertentangan dengan agama dan tidak musyrik.” (Rep:Sidik/Ed:Am)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here