Martil*

0
18
Gambar Palu. Sumber: Pixabay.com

Pagi yang hening di kampung pelangi serentak pecah oleh terikan keras mang Agus. Lelaki bujang itu berlari tunggang langgang dari arah pojokan desa paling utara. Wajahnya pucat pasi seperti habis dimarahin ibu yang tiap pagi dan sore kerjanya ngomel.

Jika dengan larinya warga tidak heran, ketika pagi hari ia sering lari-lari menghindari amukan ibunya. Dengan kebiasaan tidur setelah jamaah subuh maka tidak heran jika ibunya selalu memarahinya. Namun dengan jeritan warta yang membuat puluhan warga keluar dari rumah dan melongok dari jendela rumah.

“Ada orang tergantung! Ada orang tergantung !”

“Siapa? Di mana? Di mana?” tanya orang yang bergegas menghampirinya.

“Tergantung di pohon lo, dekat pekarangan mbok Warsih.”

“Yang benar ajah kamu?” tanya mak Minah yang masih memegang serok penggorengan.

“Ia, mak aku gax bohong.”

Lalu berbondonglah warga menuju pekarangan mbok Warsih. Setibanya di sana  lamat-lamat tampak sesosok mayat tergantung, sedikit terlindung oleh gerombolan daun. Mayat laki-laki itu terlihat berayun memilukan, dengan darah yang menetes rintik-rintik.

Melihat pemandangan itu, bukannya menolong orang-orang malah menjauh. Tidak ada keriuhan. Kerumunan kembali berangsur menyusut begitu saja. Hanya dua-tiga orang yang berusaha menurunkan mayat, sedangkan sisanya pergi tanpa bicara.

***

Satu minggu sebelum peristiwa itu terjadi, pada malam hari ketika paman Martil tertidur ada suara gedoran sepatu yang depanya berlapis besi. Maka nampaklah moncong itu menembus pintu paman martil, sontak paman Martil terbangun. Dilihatnya sepatu itu nampak asing, dan paman Martil itu juga jarang sekali melihat sepatu itu, bahkan untuk memperbaiki sepatu macam itupun tidak pernah.

Diambilah Martil yang selalu menemaninya, bersama rasa marah karena ketidaksopanannya sebuah sepatu. Dengan penuh tega maka diangkatnya tinggi-tinggi martil itu lalu dihantamkan ke arah sepatu yang menembus pintunya tanpa izin, belum sempat menarik martilnya. Ditariklah sepatu itu dan pergilah orang itu dengan menyisa teriakan keras yang menggema.

Dari hulu sampai ke hilir kampung pelangi tak ada yang tidak kenal paman Martil. Ceritanya sudah banyak yang mendengar. Pernah ada seorang pemuda yang meminta paman Martil untuk membetulkan sepatunya, ia pun bertanya heran, “Bagian tubuh mana yang mirip dengan marti ?”

Maka dengan ikhlas, untuk ke sekian kalinya paman Martil bercerita.

“… Begitulah, memang orang tua almarhumku besar cita-citanya, dididiknya aku supaya suatu saat menjadi ulama besar. Memiliki gelar haji, jadi panutan orang-orang dan yang pasti memiliki kunci surga, kata beliau almarhum. Jadi kamu bisa buka-tutup surga itu, namun yang lebih penting agar kamu bisa memasukan orang-orang yang kamu cintai ke dalam surga itu.”

Tentu sajah orang itu semakin bingung, dahinya berkerut.

“Ya memang begitu. Tetanggaku juga bercita-cita anaknya menjadi ulama besar, namun seiring tumbuh besar anak itu membuat ibunya kecewa, ia tumbuh menjadi bandit besar di kota. Mati di pergantungan. Tetanggaku yang lain begitu juga. Anak itu kabarnya menjadi sipir penjara, tiap hari kerjaanya memukuli orang. Huu… belum  mati sudah jadi raja neraka..”

“Lantas cita-cita paman sendiri, bagaimana?”

“Setiap orang kan harus punya sebuah tujuan, makanya aku punya cita-cita sendiri juga, orang tuaku boleh punya cita-cita untuku, namun aku juga punya cita-cita untuku sendiri.”

“Pasti cita-cita paman punya pabrik martil?”

“Bisa jadi, namun intinya cita-citaku ingin jadi tukang sepatu.”

“Lantas hubunganya dengan martil?.. bukannya paman sekarang memang tukang sepatu?”

“Ia, aku memang sekarang tukang sepatu, seperti cita-citaku waktu kecil. Lebih tepatnya tukang pembenar sepatu, waktu aku masih kecil… Lurah ajah pake sendal selop, sepatu pada masa itu kira-kira sama dengan payung mas bupati. Jika payung tempatnya di atas sepatu di bawah. Kalau di atas ada payung pasti di bawah ada sepatu, namun tidak sebaliknya. Jika di bawah ada sepatu belum tentu di atas ada payung, itu sudah masuk hitung yang pelik pada masa itu mas…”

“Apa hubunganya ilmu hitung, paman Martil dan tukang sepatu?”

“Masa tidak tahu?,itu Namanya ilmu hitung zaman mas, dimana payung dilambangkan sebagai kekuasaan. Ada payung ada kekuasaan, ada sepatu ada uang. Saya tidak butuh kekuasaan, yang saya butuhkan hanya uang untuk hidup. Karenanya aku memilih sepatu, setelah bertahun-tahun aku menjadi tukan sepatu hanya martil ini yang aku punya mas…”

Begitulah cerita yang melegenda itu, cerita yang selalu terulang ketika orang menanyakan tentang paman Martil. Seorang tukang sepatu keliling kampung pelangi bernama paman Martil.

Paman Martil tinggal di sebuah rumah berpetak lima puluh meter dari ujung kampung pelangi, ia disana tinggal dengan dua orang anak yang, dia sendiri lupa anak itu telah jadi bagian hidupnya. Yang di ingat paman Martil hanyalah ketika sore tiba, anak itu akan pulang ke rumah kontrakanya.

Paman Martil mengontrak kepada janda tua, rumah warisan dari suaminya yang meninggal dalam usia 40 tahun. Namun kematianya juga sangat misterius, dengan leher yang terikat kepala tertutup karung dan darah mengalir dari dada sebelah kiri.

Malam itu paman Martil yang sedang tidak dalam kondisi baik, ia tidak kelihatan ramah kepada dua anak yang ia adopsi. Makan malam yang di tutup dengan perintah tegas agar anak-anak itu belajar membaca, setidaknya dia tidak menjadi orang bodoh dengan bekal bisa membaca.

“Paman kenapa?” tanya seorang.

“Sudah belajar baca-tulis!!!” ia memerintah dengan kasar. Kedua anak itu menjadi sangat ketakutan.

“Kenapa takut?, seharusnya kau harus mencintai orang seperti aku, sahabatku. Orang-orang yang mesti kau benci adalah kontra-revolusi, musuh-musuh kita. Tidak ada yang mesti kau takuti!!”

Tetapi paman Martil tidak mengajar mereka hanya termenung seperti kehilangan sesuatu yang tak akan pernah kembali. Pikiranya menelisik jauh kepada perdebatan tadi siang dengan tetangga yang bernama Maria Proletar.

“Kau tau siapa yang membobol pintumu?”

“Anjing-anjing keparat itu”

“Namampaknya kita sudah tidak aman, alangkah baiknya kita pindah dari sini.”

“Pindah? Sekalipun anjing-anjing itu datang kesini semua. Paling-paling aku mampus!”

Dengan cepat Maria membungkan mulut paman Martil, namun secepat dan sekuat tenaga yang dikerahkan, kemarahn paman martil telah memecah angkasa.

“Pemimpin kita telah ajarkan kita untuk berjuang, kita harus melawan Kapitalisme-imperialisme serta antek-anteknya. Sekalipun kita kalah….”

Kembali nyonya Maria mencoba mendiamkan paman Martil. Kembali lagi ia tidak berhasil.

“…. Kalau kita kalah, kita Cuma kehilangan belenggu kita. Tidak akan rugi ! lihat pemimpin kita telah mereka bunuh, banyak anak-anak yang kehilangan orang tuanya, banyak orang tua yang harus kehilangan anaknya. Keparat! Keparat kapitalisme yang bikin dunia seperti ini… aku tidak bisa diam, hanya ada satu tujuan hidupku lawan..!!”

Tak ada yang lebih tepat dari pilihan untuk lari bagi Nyonya Proletar, ia bersama keluarganya pergi meninggalkan kampung. Tetangga melihat suami Maria Proletar mengangkuti barang-barangnya meninggalkan kampung. Tak ada yang tahu mereka pergi kemana.

Malam semakin larut, anak-anak telah terlarut dalam mimpi, namun paman martil masih terjaga. Dipegangnya martil yang sudah puluhan tahun menemaninya.

“Hanya martil ini yang aku punya…”

Derr…, pintu terbuka. Tiga orang telah masuk ruangnya, sambil membopong senapan dan mengarahkan moncong senapan ke kepala paman Martil, dan dua yang lainya langsung mencekal leher dua anak yang sedang tertidur pulas, siap untuk diadu kepalanya hingga pecah.

“Sudah aku duga, kalau badan gede mesti menang?,” dengan cepat ia pegang martilnya.

Seorang yang tumbuh tinggi langsung menyeret paman Martil tanpa peduli, melaraknya keluar dari rumahnya, memukulinya, mengikat lehernya pada pelepah pohon,

“Til! kau komusin keparat bukan?”

Melesatlah salah satu pelor dari moncong senapan menembus pelipis paman Martil, darahnya mengalir pelan namun penuh arti, melewati lengan turun kebawah, menjamah martil yang di genggamnya hingga akhirnya menjilat tanah.

Oleh: Ahmad Zainul Fuad

*) Terinspirasi dari cerpen Pram