Justisia.com – Aksi menolak lupa atas terbunuhnya Marsinah, seorang perempuan buruh pabrik  tersebut telah memberi inspirasi bagi masyarakat untuk melawan segala penindasan yang menganiaya para pekerja.

Ketua Kongres Aliansi Sarekat Buruh Indonesia (KASBI), Mulyono, mengatakan, Marsinah cermin insiprasi dari buruh sebagai rakyat tertindas yang berani melawan kesewenang-wenang.

“Kita harus melakukan gerakan-gerakan ke depan untuk mengubah cara hidup rakyat dan buruh, agar hidupnya lebih baik lagi seperti dicita-citakan Marsinah,” ajaknya saat ditemui di lokasi Aksi depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Selasa (7/5/2019).

Penindasan terhadap buruh dan juga rakyat yang mengalami penggusuran, Mulyono berharap supaya terus dilakukan pengawalan bersama-sama dalam aliansi gerakan rakyat menggugat.

Dalam aksi tersebut, Mulyono bersama massa aksi yang tergabung dalam setiap elemen menuntut pada pemerintah untuk memperhatikan terhadap buruh yang selama ini banyak peraturan yang dilanggar oleh perusahaan maupun oleh pemerintah, dalam hal ini pengawas.

“Mereka belum bekerja maksimal, kita lihat banyak persoalan-persoalan buruh yang sebenarnya menjadi kerja-kerja mereka, tapi mereka sengaja melakukan pembiaran, sehingga banyak sekali buruh diintimidasi, diberi upah murah. Nanti itu yang menjadi kerja kita dalam gerakan rakyat menggugat,” imbuhnya.

Mulyono bercerita, bahwa sarekat KASBI yang ia dirikan bersama kawan-kawanya, selalu ada intimidasi dari pihak pengusaha. Intimidasi tersebut dipicu karena nilai kritisnya dari sarekat KASBI sendiri.

“Kekritisan ini yang memang pengusaha tidak suka, beda dengan sarekat lain yang tumbuh subur. kita harus memulai babak baru, bahwa sarikat itu tidak harus selalu mendekatkan diri pada pengusaha,” kata pria usia 48 tersebut.

Aksi menolak lupa pada Selasa malam itu merupakan aksi lanjutan dari aksi Hari buruh pada Minggu (5/5/2019). (Rep:INK/Red:Am)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here