Antara benci dan rindu
Dari waktu ke waktu penganutmu di dunia kian bertambah
Seolah-olah kau menjelma sebagai sosok malaikat penolong manusia, sehingga aku, kami, dan kita tak sadar, lalu menikmatinya.
Tak kusadari, ternyata aku juga menjadi hambamu yang terkadang selalu merindu
Agama bumi, ya seperti itu analogisnya
Apapun agamamu, Kapitalisme ideologinya slogan tersebut mungkin akan semakin tegak paripurna dan menjadi slogan baru bagi dunia yang semakin terasa s
empit

Ramalan Karl Marx tentang akan runtuhnya sistem kapitalisme, sepertinya mustahil terjadi. Tidak ada tanda-tanda tentang kiamatnya ideologi tersebut, makin tua usia bumi ini, malah semakin merajalela.

Bukan sebuah kajian baru, jika perempuan dijadikan objek kapitalis. Jebakan-jebakan kapitalis modern semakin meluas karena kebutuhan perempuan yang sangat kompleks dan luas. Tak dapat dipungkiri, dalam hal jumlah perempuan adalah mangsa yang lebih menjanjikan dibanding laki-laki.

Perempuan tidak saja unggul dalam jumlah, namun identik juga dengan budaya konsumtifnya yang gemar memburu diskonan di mall, memborong skincare routine yang sedang viral di kalangan beauty vlogger, dan juga pastinya dalam dunia per-make-up-an yang rela mengeluarkan uang berpuluhan juta.

Mungkin lebih tepatnya lagi di mana banyak aplikasi-aplikasi belanja online yg menawarkan berbagai macam barang dan aksesoris wanita dijual dengan harga yang begitu terjangkau, sehingga bagi umat mageran dapat berpetualang ria dalam permainan kapitalis berbasis online shop. Cerdas juga ya.

Terlihat begitu keren, perempuan dibuat tidak sadar bahwa mereka, kami, telah digiring memasuki lingkaran setan kapitalis, kemudian diiming-imingi, dan akhirnya tergiur berdasarkan konstruksi iklan. Perempuan berkulit putih, berwajah mulus tanpa terlihat sedikitpun pori-pori dan komedo, tak ada jerawat dan nodanya, kinclong, seakan telah dipermanenkan oleh kaum kapitalis sebagai The Perfect Woman. Lalu, mulailah mereka memproduksi barang yang mengarahkan pada pendeskripsian tersebut.

Bagi perempuan yang belum masuk dalam kategori The Perfect Woman mereka mulai tidak percaya diri, dan memberanikan diri dengan tekad yang begitu kuat, terkadang hingga kerja keras mati-matian untuk dapat mengonsumsi produk yang ditawarkan oleh kapitalis sebagai jalan keluar untuk masuk dalam kategori The Perfect Woman.

Apakah Semua Perempuan yang Memburu Make Up termasuk kapitalis?

Berbicara tentang make up di kalangan perempuan tidak akan ada habisnya. Make up berbeda dengan skincare routine, make up lebih dominan ke arah eksternal yang berguna untuk menggambar atau bahasa halusnya merias wajah, sedangkan skincare routine lebih mengarah pada internal, di mana produk tersebut berfungsi untuk merawat kulit wajah menjadi sehat, cerah, dan hampir sempurna dari dalam maupun luar.

Pada situs The Outliners, pernyataan oleh Krithika Varagur, ia mengatakan jika skincare routine adalah sebuah penipuan, dan jebakan kapitalisme. Menurut saya, tidak sepenuhnya dunia per-wanitaan adalah sebuah jebakan kapitalis, ya pernyataan seperti itu akan membuat perasaan skeptis bagi sebagian perempuan yang mungkin wawasan akan kapitalis kurang.

Manusia diberi anugrah oleh Allah SWT. wajah yang Alhamdulillah utuh, badan lengkap, kita sebagai manusia sudah seharusnya berterima kasih dan mensyukurinya, dengan cara merawatnya yang benar.

Kembali pada niat awal ketika kita akan membeli skincare tersebut. Ketika kita melakukan rutinitas skincare sebenarnya itu adalah salah satu cara kita untuk merelaksasikan serta meditasi kulit wajah, iya tergantung niat masing-masing.

Begitu juga dengan make up, ada yang menggunakannya untuk merias diri agar terlihat anggun di depan umum, adapula yang menggunakannya sebagai kesenian serta mengambil untung dari jasa yang mereka tawarkan untuk acara-acara tertentu, atau terkenal dengan istilah MUA (Make Up Artist).

Tidak hanya itu, di era yang begitu millennial ini, banyak kaum muda-mudi yang kini berprofesi sebagai youtubers, selebgram, maupun beauty vloggers. Kebanyakan konten-konten yang mereka hidangkan adalah all about make up.

Pendapat saya mengenai pemburu-pemburu make up tidak semuanya adalah Hamba dari Sang Kapitalis. Namun ada beberapa momen-momen tertentu dimana seorang content creator make up entah itu di youtube, instagram, dan media sosial lainnya, menjadi seorang jutawan sekaligus umat kapitalis yang mereka sebenarnya tidak sadar telah terperangkap trap of capitalism.

Contoh, seorang youtuber make up membuat konten make up challenge, prank, betapa mubadzirnya produk-produk tersebut digunakan hanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat demi mendapatkan viewers, comment, dan subscriber yang fantastis.

Hal lain, yang bisa dikatakan jebakan kapitalisme ketika ada sebuah produk make up terbaru, sedang viral , atau kalian tidak ingin ketinggalan jaman, lalu dikonstruksikkan oleh seorang youtuber terkenal, seringkali banyak masyarakat yang penasaran dengan produk tersebut. Akhirnya mereka membeli produk tersebut. Seperti itulah permainan kapitalisme di era digital.

Make Up adalah Sebuah Seni

Pembahasan di atas, merupakan make up dalam sisi negatif. Sekarang penulis akan membawakan make up dalam sisi yang positif. Teringat ketika saya belajar make up di rumah tante, yang kebetulan beliau adalah seorang owner wedding organizer sekaligus MUA, beliau berkata tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar dalam dunia per-make-up-an, karena make up adalah sebuah seni begitu singkatnya.

Setiap MUA mempunyai khas nya masing-masing. Begitu interested-nya saya menggeluti bidang make up karena saya suka sekali dengan kesenian. Mau dikatakan terjebak dalam permainan kapitalis, menurut saya salah besar. Karena dengan membeli produk-produk make up dengan beragam harganya, dari situlah seorang MUA atau perias mendapatkan keuntungan yang besar, bukan suatu hal yang menjuru pada budaya konsumtif.

Lumayan besar loh ternyata penghasilan dari seorang MUA, apalagi di UIN Walisongo dalam setahun bisa meluluskan mahasiswanya menjadi empat kloter. Jika banyak mahasiswi yg akan diwisuda, make up bisa jadi ladang usaha loh. Selain wisuda, adalah pernikahan. Pernikahan merupakan acara yang sakral, di mana pengantin wanita nya ingin tampil cantik di depan para tamu undangan. Jasa dari perias pengantin inilah yang sangat utama dalam susunan acara tersebut. Mulai dari make up, mengarahkan apa saja yang akan dilaksanakan saat proses resepsi berlangsung. Untuk harga make up jika menggunakan adat Jawa saja sekitar 6 juta, itu pernyataan dari seorang MUA kondang.

Jadi, make up tidak semuanya merupakan jebakan kapitalisme. Mereka yang memaknai make up dalam satu sudut pandang saja tidak akan tahu bagaimana sudut pandang yang positifnya. Kembali pada niat awal, jika saya, kami, dan kita membeli produk make up hanya untuk tidak ketinggalan jaman berarti kami telah tertipu, dan secara tidak sadar telah terparangkap dalam jeratan kapitalisme. Namun, jika make up dimaknai sebuah seni dan self-love yang lebih menguntungkan diri kita, berarti kita mampu memilah dan memilih mana sesuatu yang bersifat kapitalis maupun bukan.

Penulis: Nisrina Khairunnisa

Editor: Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here