Makam: Nama Desa Laiknya Kuburan

0
193
Gambar: Arifsae.com

Justisia.com – Sawah membentang luas dengan tanaman padinya yang segera menguning. Pemandangan gunung Slamet serta bukit yang mengitarinya begitu elok dan menyejukan. Jam menunjukan pukul 06.45 pagi, Sementara jalanan dipenuhi banyak orang lalu lalang dengan sepeda motornya.

Banyak yang mereka lakukan, seperti berangkat bekerja, mengantar anak berangkat sekolah, pergi ke pasar. Tak hanya motor yang memenuhi jalan, bahkan angkot desa berwarna biru juga memenuhi jalan sekitar depan pasar dan sering membuat kemacetan karena berhenti tanpa aturan. Sedangkan kendaraan tradisional bernama becak sekarang sangat jarang digunakan. Ketika terdapat becak berkeliaran, itupun hanya satu dua saja.

Keramaian ini terjadi di sebuah desa yang terletak di  kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga Jawa tengah. Desa yang orang menganggap aneh namanya, bahkan sering kali dibuat guyonan. Desa Makam. Sudah pasti ketika orang mendengar nama ini, mereka beranggapan bahwa nama makam adalah kuburan.

Hal tersebut pun dikatakan pula oleh sesepuh Desa Makam, yang terkenal dengan sebutan Mbah Wira.

“Jika bercerita tentang Desa Makam, satu minggu pun tidak akan selesai,” ucapnya diiringi tawa lepas.

Di usianya yang ke 79 tahun ini, mbah Wira tergolong orang yang masih enerjik. Ia dengan semangat menjelaskan bagaimana lahirnya desa yang berawal dari daerah perdikan hingga menjadi sebuah desa yang bernama Makam.

Awal  mula dari makam adalah daerah perdikan yang dipimpin oleh tiga orang yaitu, kepala, mantri, dan umbul. Namun perdikan dihapus dan diganti menjadi kademangan: 21 demang, dengan Peraturan dalam Negeri No IX th 1954. Perubahan tersebut terjadi dari hasil politik Belanda.

Daerah perdikan ini dikuasai oleh para demang untuk kepentingannya sendiri sehingga rakyat hidup serba kekurangan. Penghapusan desa-desa perdikan telah mengubah status tanah dari keputihan menjadi tanah pamajegan atau tanah negara.

Perdikan cahyana adalah tanah-tanah bebas pajak yang diluluskan oleh Sultan Demak dan dilestarikan oleh para Raja Jawa dan pemerintah kolonial Belanda untuk pemeliharaan makam-makam orang-orang suci atau para wali lokal yang berjasa dalam penyebaran agama Islam.

“Perdikan ini bernama Cahyana. Jadi makam cahyana yang artinya bercahaya. Namun karena pemerintah yang sentimen, maka cahyana tersebut tidak ditulis atau disahkan. Maka dari itu tersisa nama Makam, yang kesannya adalah kuburan,” tutur simbah yang memiliki lima anak ini.

Dari sejarah tersebut, desa ini pun memiliki mitos yang sudah dianggap sebagai aturan Desa Makam. Di antaranya adalah pantangan yang menyatakan bahwa penduduk perdikan tidak boleh menjual nasi (beras, padi, atau ketupat). Nasi dan sirih hanya boleh disajikan untuk para tamu saat jamuan.

Bahkan jika masyarakat ingin mencari harta-kekayaan, ia harus mencarinya di luar perdikan. Ungkapan itu bahkan telah memotivasi para penduduk untuk berwiraswasta ke luar daerahnya.

“Yen kowe nerima mangan wedhi krikil, ora susah lunga-lunga ing wengkonku. Ini nasihat agar penduduk petani tidak boleh memperkaya diri,” ujar mbah Wira sembari memberbaiki kaca matanya.

Ada hal yang menarik lagi ketika salah seorang masyarakat perdikan yang meninggal dunia. Masyarakat perdikan terutama perempuan akan nembang dengan diiringi terbang. Tradisi ini dinamakan Braen. Tradisi salawatan ini hanya ada di daerah Perdikan Cahyana.

Dulu, braen ini dilakukan untuk memberikan semangat atau peringatan atas perjuangan para tentara yang berjuang untuk melawan Padjajaran. Sebab dulu Padjajaran tidak senang dengan daerah Cahyana.

Karena berlainan pandangan di mana Padjajaran menganut agama Hindu sedangkan daerah Cahyana menganut Islam. Dulu braen ini dinyanyikan oleh laki-laki. Namun, tak selang beberapa waktu tradisi ini justru dilakukan oleh perempuan.

Tulung natulung, tulung Tuan,
Para wali lilirna njawa nira
Lilirna ing jagate kelawan si Allah
Para wali bukakna lawang ing sepangat
Nabi lawan sepangat Allah

Islam yang berkembang pesat di Desa Makam ini memberikan pengaruh yang sangat besar bagi keadaan desa tersebut. Masjid-masjid besar telah dibangun, bahkan pemikiran-pemikiran mengenai Islam semakin pesat berkembang. (Rep:Riska/Red:Am)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here