Justisia.com – Meski terjadi aksi dorong dan cekcok, Wakil Rektor III Suparman Syukur mengijinkan massa aksi jilid II hapuskan “SK. Rektor No. Un.10.0/R/PP.00.9/754/2016” untuk masuk ke rapat rektor lantai II UIN Walisongo Semarang, Senin (6/05/2019) pagi.

Wakil Rektor III Suparman Syukur hanya memperbolehkan lima perwakilan mahasiswa guna bertemu Rektor, Wakil Rektor I, II, III, dan seluruh Dekan se-UIN Walisongo.

“Didengarkan tidak mungkin semuanya. Perwakilan lima orang dari massa aksi,” katanya kepada massa aksinya.

Koordinator aksi Ahmad Nur Fadlullah berulangkali berdialog dengan petugas keamanan UIN Walisongo Semarang.

“Kami akan baik, jika dipersilahkan baik-baik oleh satpam,” ungkapnya.

Salah satu petugas keamanan berusaha menenangkan massa.  Ia berulangkali mengajak mahasiswa untuk sabar dan akan dipersilahkan masuk.

“Tolong sabar. Pintu sudah akan dibuka,” tuturnya.

Namun pintu yang dijaga ketat oleh lima satpam. Akhirnya aksi dorong-mendorong dan cekcok massa aksi dengan petugas keamanan.

Sempat salah satu petugas keamananan menantang salah satu mahasiswa untuk saling berhadapan. Hal ini menyulut massa aksi memanas kembali.

Aksi menuntut penghapusan SK Rektor No. Un.10.0/R/PP.00.9/754/2016 karena syarat kelulusan mata kuliah PIB dihapuskan. Imbasnya mahasiswa harus berebut kuota yang disediakan PPB. (Rep:As/Ed:Fm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here