Sidrap, Justisia.com – Ma’ Baca-Baca berarti membacakan doa di hadapan makanan yang menjadi sebuah tradisi suku Bugis-makassar, masih dilestarikan hingga kini. Salah satunya di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.

Ma’ Baca-Baca umumnya dilakukan masyarakat saat Lebaran maupun dalam rangkaian acara ritual adat Bugis-Makassar, baik itu perkawinan, aqiqah, sunatan, hingga ketika ingin memasuki tempat tinggal baru. Ritual Ma’ Baca-Baca ini biasanya dilakukan oleh orang yang dianggap sesepuh atau tokoh masyarakat dalam sebuah tempat atau orang yang dituakan dalam sebuah keluarga.

Di mana, di hadapan sesepuh akan dihidangkan makanan yang telah ditata dalam sebuah nampan yang orang Bugis menyebutnya Bakik, dilengkapi dengan tungku kecil yang disebut dupa-dupa yang berisikan bara api. Nantinya bara api tersebut akan ditaburi bubuk berwarna merah sehingga menghasilkan asap yang berbau menyengat. Di situlah sesepuh memulai Ma’ Baca-Baca.

Baca juga : Merindu di Sewindu Guru Bangsa

Ritual ini sendiri bagi kalangan suku Bugis-Makassar tidak dianggap sebagai sebuah kesyirikan. Mengingat doa yang dipanjatkan bukanlah berupa mantera, melainkan salawat dan ayat-ayat al-Qur’an yang ditujukan kepada Allah SWT. Di mana, di Suku Bugis sendiri tradisi ini memunculkan sebuah kolaborasi antara adat istiadat dengan Islam. Kalimat-kalimat ayat suci diucapkan oleh sesepuh kampung saat melakukan Baca-baca. Satu-persatu nampan berisikan makanan tersebut dibacakan doa.

“Tradisi ini sudah jadi keyakinan turun temurun masyarakat Bugis-Makassar dari nenek moyang. Terlebih lagi orang Sidrap,” ungkap Rezky saat ditanya melalui telepon, Minggu (7/7/2019).

Di setiap nampan berisi lauk-pauk yang beragam dan juga tidak ketinggalan beras ketan putih ataupun hitam yang disebut “Sokko” atau orang bugis menyebutnya “Songkolo“. Selain Songkolo, juga ada makanan khas Bugis-Makassar lainnya, yakni Buras atau Burasa.

Makanan khas Bugis-Makassar ini menyerupai lontong, hanya saja selain bahan utamanya beras, Buras menggunakan santan yang membuat rasanya gurih dan dibungkus dengan daun pisang. Tidak ketinggalan pula kelapa muda dan pisang turut disajikan dalam wadah yang terpisah.

Baca juga : Perjuangan Masyarakat Surokonto Sah Menurut Syariat

Cara orang mengimplementasikan rasa syukurnya tentu berbeda-beda. Di suku Bugis sendiri, bentuk implementasi dari rasa syukur tidak hanya dengan sebuah ucapan, melainkan dengan sebuah tindakan. Dengan melakukan Ma’ Baca-baca menjadi salah satu wujud ungkapan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT atas limpahan rezeki yang diberikan selama ini.

Muhammad Rezky, adalah teman akrab saya yang sudah sejak dulu kala tinggal di Sidrap dan rutin melakukan Ma’ Baca-baca, bahkan nyaris tidak pernah melewatkan momentum tradisi tersebut.

“Tidak boleh kalau tidak dilakukan, ini bentuk rasa syukur kita kepada Allah (Puang Allah Ta’ala),” ucapnya dengan logat Bugis yang kental. 

Hidangan yang telah di baca-baca dengan doa tersebut wajib disantap bersama-sama, baik itu keluarga hingga memanggil tetangga, selain berbagi nikmat, makan bersama ini juga dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahim dalam kehidupan bertetangga.

“Ayo ke rumah, sudah di baca-baca makanan, panggil semua yang ada disitu,” jelas Rezky saat mengajak tetangga untuk makan bersama.

Begitulah adat istiadat masyarakat Bugis-Makassar yang akan tetap dilestarikan dengan alas an tidak bertentangan dengan syari’at Islam. (Rep:Yusuf/Ed:A.M)

Reporter: Yusuf N.Q.
Penulis: Yusuf N.Q.
Editor: A.M

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here