Oleh: Wahyudi Nur Pratama Justisia
(Aqidah Filsafat Islam, Ushuluddin)

Tak perlu kau sanjung aku sebab cantik,
Karena tak selamanya aku menarik.
Layaknya ikan yang tak selalu bersisik,
Terkadang wanita cantik tak selalu asik.
Hentikan lagakmu yang sok-asik,
Jika pada akhirnya akan mengusik.

Jangan bilang aku eksotik,
Jika dalam fikirmu erotik.
Percuma gemar membelai dengan lentik,
Padahal tak segan tuk mencekik.

Kau suka dekatiku dengan cerdik,
Berharap tuk menjadi hak milik,
Lalu kau buang aku bak sampah organik.

Dasar lelaki picik,
Suka resah pada wajah yang tak resik,
Sebab ia tak pandai pakai kosmetik,
Apalagi tak punya style yg apik,
Hanya suka berbusana batik.

Lalu kau bilang udik,
Padahal membuatnya tercabik.

Dasar licik, munafik, membuat jijik..!

***
Hanya cuitan sarkas yg merepresentasikan celoteh dalam benak kaum hawa. Yang bertubi-tubi menghadapi budaya patriarki, yang tidak manusiawi. Semua ini memang tak pernah sekalipun dikehendaki, bahkan dihindari, sayang jarang yang mengerti. 

Di Bumi cuman ada dua jenis makhluk yang bestari. Kenapa yang satu jenis ingin menang sendiri. Harusnya saling menyadari, bukan malah meniduri. Membela tidak harus selalu menuturi, tapi memberi arti. 
Jangan mengotori, supaya tetap lestari, lalu akan menjadi berseri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here