Semarang, Justisia.com – Kamis (6/3/2019), UIN Walisongo Semarang baru saja merampungkan gelaran wisuda pertamanya di tahun 2019 ini. Wisuda kali ini merupakan pelaksanaan wisuda ke-74 bagi program sarjana,ke-42 bagi program master, ke-17 bagi program doktor, dan ke-24 bagi program ahli madya. Gelaran wisuda kali ini tidak jauh berbeda dengan wisuda sebelumnya.

“Hanya saja peserta wisuda kali ini lebih banyak yaitu sekitar 1200 an peserta yang mencakup program sarjana, master, doktor, dan ahli madya Dan wisuda sebelumnya hanya diikuti 1000 an peserta”, tutur Suparman yang menjabat sebagai Wakil Rektor III yang membidangi kemahasiswaan saat ini.

Suparman mengatakan bahwa saat ini UIN Walisongo hanya mengadakan acara wisuda sebanyak dua kali dalam satu tahun atau satu kali dalam satu semester.

“Karena beberapa alasan seperti semakin berkembang dan berkualitasnya UIN Walisongo, maka pada tahun 2020 kami berusaha untuk melaksanakan wisuda sebanyak empat kali dalam satu tahun atau dua kali dalam satu semester” imbuhnya.

Banyak pihak yang mendukung rencana ini karena dinilai lebih efektif dengan menerapkan sistem kuota sehingga para calon wisudawan tidak membutuhkan waktu lama untuk menunggu giliran wisuda dan dengan adanya penerapan kuota maka calon wisudawan tidak akan menumpuk di satu acara wisuda saja.

Kualitas Wisudawan Menjadi Perhatian

Suparman menuturkan bahwa pihak universitas saat ini tengah berupaya untuk meningkatkan kualitas para wisudawan dari yang sebelum-sebelumnya.

“Agar UIN Walisongo mampu menghasilkan kader output yang berkualitas dan mampu bersaing di dunia luar,” ujarnya.

Terkait hal ini, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kurikulum, Musahadi menyatakan bahwa pihak universitas telah menetapkan standardisasi dalam melakukan penelitian hingga penulisan skripsi. Yang mana harus sesuai dengan standar ilmiah akademis.

Hal ini tidak lain adalah untuk mewujudkan visi dan misi UIN Walisongo menuju perguruan tinggi Islam riset terdepan sehingga dapat bermanfaat dan berbuat banyak bagi kemanusiaan serta peradaban.

“Dengan adanya revolusi industri generasi 4.0 yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan informasi yang mempengaruhi seluruh bidang kehidupan saat ini, maka kita harus betul-betul mengingatkan para wisudawan, bahwa di luar itu tantangan semakin berat. Mereka yang hanya mempunyai pengetahuan teoritik dengan referensi-referensi masa lalu bisa jadi kehilangan relevansi. Sehingga mereka harus tetap update terkait dengan bagaimana dunia di sekitarnya”, tutur Musahadi saat ditemui usai prosesi wisuda.

Ia mengatakan bahwa hari ini mahasiswa terutama para wisudawan harus bisa membaca dengan baik perubahan-perubahan yang terjadi secara dramatis di sekitar kita. Terutama adalah dalam konteks cara mendefinisikan diri dalam perubahan-perubahan yang dramatis itu.

“Satu yang mendasar adalah bahwa profesi-profesi, lapangan-lapangan pekerjaan lama banyak yang musnah digantikan dengan profesi-profesi baru dan lapangan-lapangan pekerjaan baru yang  sesuai dengan tuntutan era revolusi industri generasi 4.0 itu,” jelasnya.

Senantiasa Belajar Adalah Kewajiban

Suparman Syukur berharap agar proses belajar tidak berhenti setelah dinyatakan sebagai wisudawan. Melainkan seharusnya proses belajar yang sebenarnya justru akan dimulai setelah para wisudawan menanggalkan status mahasiswanya.

Karena menurutnya wisuda merupakan langkah awal untuk perkembangan yang mendatang karena sekarang tuntutan sudah lebih tinggi dan lebih komplek jadi beliau berharap mereka selalu berusaha dan tidak pernah berhenti.

Seperti yang jamak dikatakan oleh founder Narasi Najwa Shihab bahwa agar seseorang tidak habis dimakan oleh zaman semestinya menjadi long live learner atau pelajar di sepanjang usia adalah hal yang wajib diupayakan.

Terakhir, tak lupa Suparman juga mendoakan agar para wiaudawan lekas berkiprah dalam masyarakat. (Rep:Arifan,Sonia/Red:Am)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here