Kau datang tanpa permisi..
Menyisakan rasa yang amat membelenggu..

Sungguh nahas..
Memang sekilas indah..
Namun sebenarnya sangat menyakitkan..

Tegakah kau menyiksaku..
Dengan rasa yang tak kunjung hilang..
Dengan hujan yang tak kunjung reda..
Tanpa ada tangan yang mengusap..

Wahai hati..
Janganlah terperangkap olehnya..
Kau harus kuat..
Kau harus bisa melawan..
Kokohkan bentengmu..
Jangan sampai goyah..
Sungguh jajahan yang tak bisa ku elak..
Melawan arus yang sangat deras..
Melawan rasa yang sangat pekat..
Sebesar apapun tantangan..
Sebanyak apapun kolonial rasa yang menyerang..

Kamu harus melawannya..
Mungkin logikamu mengatakan tidak..
Namun bagaimana dengan hatimu..
Pastinya tak bisa berbohong..
Nikmati jika kau mau..
Hilangkan jika kau merasa berat..

Wahai Tuhan..
Tak bisa kupungkiri..
Aku sangat..
Sangat merindukannya..
Merindukan canda tawanya..
Merindukan perhatianya..
Merindukan kasih sayangnya..

Namun apa daya..
Aku hanya bisa terdiam..
Dalam rasa yang sangat menggebu..
Yang tak kunjung terobati..
Dan hanya do’a yang bisa kukirimkan untuknya..
Karena ketidakmampuanku menyampaikan padanya..

Tuhan..
Tolonglah makhlukmu yang lemah ini..
Tolong sampaikan rinduku padanya..
Tolong sampaikan bahwa aku butuh penawar atas semua ini..

Semua yang sudah terjadi..

Penulis : Dokik Indah S. [kontributor Justisia.com dan mahasiswa semester 2 Jurusan Ilmu Falak UIN Walisongo]

Editor : A. M

BAGIKAN
Berita sebelumyaMila
Berita berikutnyaPersebaya (Tak) Menua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here