Kritik Pemaknaan Teks Fazlur Rahman

0
154
ilustrasi : islamindonesia.com

Oleh: Riska Nur Fadila

Fazlur Rahman adalah salah satu pemikir Islam terkenal. Lahir di Hazara, sebuah daerah perbatasan Pakistan-India pada 21 September 1919. Sejak kecil ia telah berada pada keluarga muslim yang taat pada agama. Dalam banyak pembahasan, Fazlur Rahman dikategorikan sebagai pemikir Islam yang paling serius dan neomordenis. Beliau adalah seorang intelektual yang berkutat dengan dunia naskah dan sumber utama pemikiran.

Pendapatnya atau pemikirannya sangat kontekstual dan masih relevan untuk digunakan pada saat sekarang. Namun pemikirannya itu dulu dianggap kontroversial. Bahkan nyawanya sempat dijadikan target pembunuhan dengan jaminan penghargaan uang setimpal bagi yang bisa melakukannya.

Ia adalah yang pertama kali mencetuskan penyembelihan hewan secara mekanik menggunakan mesin.

Dalam suatu lawatannya ke Indonesia ia pernah menyebutkan tentang Islam Indonesia yang kurang lebih seperti ini, suatu saat, Insyaallah mainstream di dunia tentang islam salah satunya akan terlahir dari Indonesia. Karena Islam sendiri adalah sebuah wilayah yang didiami oleh banyak masyarakat muslim dengan tetap mempertahankan kekhasan budayanya.

Rahman bukanlah seorang tokoh yang parsial dalam aspek pemikiran Islam tertentu saja, misalnya teologi, filsafat, dan hukum islam. Tetapi ia hampir mengkaji dan menguasai segala aspek pemikiran Islam dalam porsi yang hampir merata. Keseluruhan pemikiran Rahman merupakan wujud dan kesadarannya akan krisis yang dihadapi islam dewasa ini di mana krisis tersebut sebagian berakar dalam sejarah Islam sendiri dan sebagian lagi dari tantangan modernitas.

Dengan dorongan rasa tanggungjawab terhadap Islam, umat, dan masa depan mereka di tengah-tengah modernitas, Rahman mengabdikan kemampuan intelektualnya untuk mengatasi krisis tersebut.

Ia adalah seorang pemikir yang rasionalis. Seperti contoh dalam hal pewahyuan, ia beranggapan bahwa wahyu itu tidak bersifat mekanik. Tapi dibawa oleh ruh al-amin atau oleh hati Rasul itu sendiri. Sehingga Jibril yang tugasnya menyampaikan wahyu tersebut itu tidaklah agen yang eksterior melainkan agen interior.

Menurutnya, Al-Quran sebagai wahyu Allah memiliki aspek legal spesification(ketentuan hukum) dan moral ideal(cita-cita moral). Kita ambil contoh aturan Islam mengenai harta warisan. Dalam ketentuan hukumnya seharusnya adalah 2:1 dengan lelaki mendapat bagian lebih dari perempuan.

Namun dalam hal cita-cita moralnya, pembagian harta warisan bisa dilakukan sama rata kepada anak-anaknya. Karena mengingat tujuan moral dari adanya aturan 2:1 ini adalah untuk terciptanya keadilan. Jadi ketika dilakukan pembagian harta waris secara merata tidak menimbulkan kegaduhan serta keadilan dapat tercipta maka tidak menjadi masalah untuk dilakukan.

Terkait dengan hal ini ia mengatakan, “ayat Al-Quran itu harus dimaknai dari makna yang terkandung di baliknya”. Yaitu, “meaning behind the text”.Sehingga dari sini akan diketahui apa cita-cita moral yang diinginkan oleh sebuah teks.

Lain halnya jika dalam penafsiran teks hanya menggunakan pemaknaan dari “within the text”. Hasil penafsirannya cenderung kaku, dan pemkanaan terkungkung hanya kepada teks saja. Hal ini yang akan menimbulkan kejumudan dalam berijtihad. Sedangkan persoalan setiap waktu akan terus bertambah dan bervariasi, dan teks tidak akan mengalami pertambahan. Maka di sinilah letak kritik Rahman.