Kritik Nalar Abed Al-Jabiri terhadap Dunia Peradaban Ilmu

0
277
Gambar: Risalah hikmah

Oleh Sonia Khotmi Rosalina

Terdapat empat sumber hukum Islam. Pertama, Al-Quran yang merupakan wahyu dari Allah SWT. Kedua, As-Sunah yang merupakan dari sikap, tindakan, ucapan, dan cara Rasulullah menjalankan tradisi hidupnya. Ketiga, Ijma’ yang merupakan kesepakatan para ulama dalam menetapkan sebuah hukum dalam agama yang bersumber kepada Al-Quran dan Hadist dalam suatu perkara yang terjadi.

Keempat, Qiyas yang berarti menggabungkan atau memadankan dalam menetapkan hukum suatu perkara yang baru dan belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalam sebab, manfaat, bahaya, dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu sehingga dijatuhi hukuman yang sama.

Dalam pemikiran Al-Jabiri, hukum Islam yang terdapat dalam fiqh dianggap banyak yang tidak rasional. Salah satu contohnya yaitu dalam fiqh siyasah mengenai saksi dalam sebuah perkara. Apabila saksi tersebut adalah seorang wanita, maka minimal harus dua saksi mata wanita. Jika tidak, maka saksi tersebut tidak akan dianggap. Hal ini terjadi di zaman dahulu di mana seorang wanita seolah-seolah tidak dapat dipercaya dan diremehkan.

Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab seorang Al-Jabiri mengeluarkan kritik nalar berupa pemikirannya. Al-Jabiri adalah salah satu pemikir Islam kontemporer yang berasal dari Maroko. Kritik Nalar Arab oleh Al-Jabiri disebabkan ketidakpuasan hati membaca diskursus pemikiran Arab dalam masa seratus tahun yang lampau yang tidak menampakkan hasil yang dapat diubah. Dengan kata lain bersifat tetap sehingga pemikiran itu tidak dapat berkembang sesuai perkembangan zaman.

Hal ini menyebabkan kemunduran terhadap peradaban Islam terutama dalam bidang keilmuan. Al-Jabiri menganggap bahwa masyarakat semenanjung Arab hanya mempertahankan apa yang ada dan menjadi malas-malasan sehingga keilmuan di dunia Arab tidak berkembang sesuai zaman.

Al-Jabiri beranggapan bahwa tidak seharusnya masyarakat Arab selalu memandang ke masa lalu, seharusnya masyarakat Arab hanya menghadirkan masa lalu untuk dijadikan pelajaran untuk masa yang akan datang. Dalam hal ini, Al-Jabiri menawarkan tiga metodologi epistemologis, yaitu bayani yang bersifat teks, irfani yang bersifat intuisi dan burhani yang bersifat rasional.

Ketiga epistemologi di atas disiapkan oleh Al-Jabiri sebagai solusi dalam menghadapi modernitas Barat.

Epistemologi bayani merupakan pendekatan dengan cara menganalisis teks. Maka sumber dari epistemologi bayani adalah sebuah teks. Dalam studi Islam terdapat dua sumber teks, yaitu teks nash yang terdiri dari Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, dan teks non nash yang berupa karya para ulama.

Banyak pemahaman yang menyatakan bahwa epistemologi bayani adalah pendekatan untuk memahami dan menganalisis teks guna menemukan atau mendapatkan makna yang terkandung dalam sebuah lafadz.

Kemudian, epistemologi burhani. Ialah pengetahuan yang diperoleh dari indera dan percobaan untuk mengukur kebenaran tertentu berdasarkan atas kemampuan alamiah manusia berupa pengalaman dan akal sehat. Sehingga epistemologi ini bersifat rasional. Maka, sumber dari nalar burhani adalah realitas dan empiris yang berkaitan dengan alam, sosial, dan kemanusiaan.

Artinya, ilmu adalah hasil dari penelitian, hasil percobaan, dan hasil eksperimen baik di laboratorium maupun di lapangan.

Sedangkan, epistemologi irfani adalah ilmu yang dihasilkan dari sebuah insting dan batin yang ada dalam pemikiran manusia. Ilmu ditemukan dengan menggunakan metode untuk menyingkap dan menemukan rahasia pengetahuan melalui analogi-analogi. Salah satu contoh konkretnya ialah pengalaman batin yang pernah dialami oleh Rasulullah SAW dalam menerima wahyu Al-Quran.

Sehingga, bisa ditarik ibrahnya, bahwa sikap yang harus diambil untuk ketiga epistemologi di atas yaitu, menyatukan ketiganya sehingga akan muncul ilmu Islam yang komprehensif dan relevan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang ada sekarang maupun di masa yang akan datang. Al-Quran dalam hal ini juga tidak lepas terhadap ke tiga epistemologi ilmu tersebut di atas karena Al-Quran memang tidak bisa dilepaskan dari konteks di mana Al-Quran itu diturunkan.