Kritik Hadist Fatima Mernissi

0
110
Gambar: festivalmythicarts.over-blog.com

Oleh: Lina Mei Tina

Fatima Mernissi lahir di sebuah Harem pada tahun 1940 di Fez, salah satu wilayah di Maroko. Masa kanak-kanak Mernissi dilalui bersamaan dengan situasi kekacauan yang terjadi di Maroko akibat seringnya pertempuran yang terjadi antara pasukan Kristen Spanyol dan Prancis.

Mernissi memperoleh pendidikan pertama secara tidak formal dari neneknya, Lalla Yasmina. Yasmina banyak memberikan pelajaran mengenai sejarah Islam, termasuk kisah Nabi Muhammad dan kondisi-kondisi perempuan sebelum Islam hadir. Dari ajaran neneknya itulah yang membuat dia fokus terhadap kajiannya, yaitu tentang perempuan.

Adapun pendidikan formalnya diterima Mernissi di sebuah sekolah Al-Qur’an yang didirikan oleh sekelompok nasionalis sejak umur tiga tahun. Pendidikan tingkat menengahnya diselesaikan di sekolah khusus perempuan yang didanai oleh protektorat Perancis.

Mernissi melanjutkan studi perguruan tingginya di Prancis pada tahun 1957 dengan belajara Politik di Sorbone, Perancis, dan Universitas Brandeis di Amerika Serikat pada tahun 1973 dan mendapatkan gelar Doktor.

Setelah mendapatkan gelar Doktor, Mernissi melanjutkan karir sebagai Professor di Universitas Muhammad V di Rabath tahun 1974 sampai 1980.

Beberapa Karya yang telah dihasilkannya adalah :

  1. Veil and The Male Elite : A Feminist Interpretation of Women’s Right in Islam (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Menengok Kontroversi Keterlibatan Wanita dalam Politik (Surabaya: Dunia Ilmu, 1997) yang kemudian ia revisi menjadi Women and Islam : A Historical and Theological Enquiry (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia Wanita Dalam Islam, Bandung: Pustaka, 1994);

  2. The Forgotten of Queen in Islam (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Ratu-Ratu Islam Yang Terlupakan, Bandung: Mizan, 1994);

  3. Islam and Democracy fear and the modern world (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Islam dan Demokrasi : Antologi Kekuatan (Yogyakarta: LKIS,1994).

Pemikiran-pemikiran Mernissi banyak dituangkan dalam karyanya sebagai semangat dalam membangkitkan perempuan Islam dan menjauhkannya dari kejumudan atau ketidakadilan selama ini yang dialaminya. Salah satu pemikirannya adalah pemikiran Fatimah Mernissi mengenai Hadits Misogini.

Nabi Muhammad diutus oleh Allah untuk semua manusia dan sekaligus rahmat bagi seluruh alam. Hal itu berarti bahwa Nabi Muhammad membawa kebajikan dan juga sebagai rahmat bagi semua umat manusia dalam setiap waktu dan tempat. Oleh karena itu Hadits Nabi merupakan sumber utama setelah Al-Qur’an dan mengandung ajaran yang bersifat Universal.

Terdapat sejumlah hadits yang dibahas oleh Mernissi yang sangat mengganggu hatinya. Hadits-hadits itu secara tekstual sangat mendeskriminasikan perempuan sehingga munculah istilah misogini. Perseteruan Ali-Aisyah bagi Mernissi adalah awal kemunculan hadits palsu untuk mendukung pendapat masing-masing kelompok.

Hadits-hadits yang muncul merupakan senjata politik yang ampuh. Oleh karena itu, bagi Mernissi setiap hadits perlu diteliti ulang segala aspeknya, baik terhadap sabab al-wurud haditsnya, sosio-historis yang melingkupi pribadi para perawinya, maupun motif-motif yang mempengaruhi perawi dalam meriwayatkan hadis, terutama terhadap hadis-hadis yang mendeskriminasi dan merendahkan perempuan (yang disebut hadis misoginis).

Mernissi meneliti hadis-hadis misoginis, contohnya hadis tentang wanita, keledai, dan anjing sebagai pengganggu shalat yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dibawah ini,yang artinya;

Telah bercerita kepada kami Ishaq Ibn Ibrahim, telah mengabarkan kepada kami Al-Mahjumi, bercerita kepada kami Abdul Wahid (Ibn Ziyad), bercerita kepada kami Ubaidillah Ibn Abdillah, Ibn Al-Ashammi, “Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah SAW. bersabda: Shalat itu terputus oleh wanita, keledai, dan anjing. Dan tinggallah hal itu seperti seukuran ekor kendaraan.” (H.R. Muslim)

Atas hadist tersebut Mernissi menolak untuk percaya dengan makna literal matan hadits tersebut. Dengan melakukan kritik sejarah, Mernissi menyusun kerangka pemahamannya terlebih dahulu, ia mengkritisi kepribadian Abu Hurairah, terutama mengenai sikapnya yang ambivalen terhadap wanita. Menurut Mernissi, sikap ini didasari oleh beberapa hal yang mendasar.

Kedua, pekerjaan Abu Hurairah yang selama hidupnya sama sekali tidak mencerminkan kejantanan seorang lelaki. Berbeda dengan penduduk Madinah yang hidup dengan bertani, para imigran asal Mekkah mencurahkan energi mereka untuk berbisnis, mengatur kontrak dagang, dan bahkan mengelolanya bersamaan dengan ekspedisi-ekspedisi militer.

Adapun Abu Hurairah, ia tidak memiliki pekerjaan lain selain mengikuti Rasulullah kemanapun beliau pergi dan ketika Khalifah Umar menawarinya pekerjaan, Abu Hurairah begitu saja menolaknya tanpa terlebih dahulu mempertimbangkannya.

Dalam kasus di atas, Mernissi menggunakan metode tarjih dengan menggunakan hadits yang lebih kuat yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Marzuq dari Aisyah. Selain itu, hadits riwayat Abu Hurairah yang membuat hati terluka tersebut tidak mungkin dikatakan oleh seorang Nabi. Hadits tersebut sangat bertentangan dengan akal sehat dan fakta sejarah. Nabi Muhammad yang terkenal sebagai seorang pengasih tidak mungkin tega melukai perasaan seorang gadis cilik yang begitu dicintainya.

Beliau bukan hanya sebagai kepala Negara, tetapi beliau juga kekasih Aisyah. Amr bin Ash pernah bertanya kepada Rasulullah; “Siapa orang yang paling engkau cintai di dunia?” Beliau menjawab Aisyah. Ia terperanjat mendengar jawaban itu bahwa yang menempati posisi utama adalah seorang perempuan bukanlah laki-laki.

Dengan demikian tidak mungkin Nabi menyamakan perempuan dengan anjing dan keledai. Fatimah meyakini hadits-hadits Rasulullah SAW mengandung spirit keadilan mutlak bagi semua orang Islam baik laki-laki maupun perempuan. Karenanya, perlu dilakukan reinterpretasi terhadap hadits-hadits misoginis, kumpulan hadits tersebut tidak boleh diterima begitu saja.

Hadits-hadits tersebut tak lepas dari konteks sejarahnya (seringkali terlibat dari polemik kepentingan ekonomi dan politik) dan harus dikaji seksama. Tak hanya pemikirannya mengenai hadits misogini, pemikiran lainnya adalah mengenai jilbab dan mengenai nusyuz, yang artinya pemberontakan seorang istri terhadap kekuasaan suaminya yang muslim.

Referensi
https://www.academia.edu/32764302/Biografi_dan_Pemikiran_Fatimah_Mernissi
Jurnal Fatimah Mernissi (Pdf)
Hasil penjabaran materi oleh ibu Siti Rofiah, M.Si