Justisia.com – Salvataro Djibran Edwiarka, koodinator Forum Silaturahmi Antar Daerah (Forsida) Silaturrahmi Daerah tanggapi isu kemacetan di kawasan Juras antara kampus 2 dengan kampus 3 UIN Walisongo Semarang.

Kemacetan tersebut tidak lain disebabkan oleh beberapa mahasiswa aktivis organisasi daerah (orda) yang menghentikan para maba yang melewati kawasan tersebut.

Penghentian tersebut dilakukan karena semata-mata ingin merekrut generasi penerus. Sebab orda cukup melemah dibandingkan dengan beberapa UKM yang ingin merekrut generasi penerusnya pada saat sebelum dan sesudah PBAK.

“Kalau momennya itu PBAK maka itu dimanfaatkan oleh UKM dan orda. kalau ukm tuh jelas ada exponya untuk merekrut maba-maba, tetapi kalau orda itu tidak ada, jadi ada yang nyegati di luar kendali. Tetapi semua itu dilakukan semata-mata demi memaksimalkan pengkaderan dan perekrutan mereka”, ujar Djibran.

Dari Dema sendiri menawarkan dua opsi untuk penempatan stan-stan orda yaitu di depan Ushuluddin dan di juras tersebut.

“Saya minta di Juras, yakni mulai belakang perpus sampai belakang Ushuluddin, dikarenakan tempat tersebut lebih efektif untuk perekrutan maba, karena semua maba pasti lewat situ semua”, ungkapnya ketika diwawacarai salah satu reporter Justisia, Sabtu pagi (24/08).

Tempat tersebut adalah tempat yang cukup efektif karena selain tempat tersebut hanya bisa dilewati dua mobil tempat tersebut pasti dilewati oleh semua maba yang mengendarai motor. Seningga semua maba pada waktu itu diberhentikan sesuai nomor plat daerah masing-masing demi membimbing maba dan agar bisa menjadi generasi penerus.

“Buktinya pada tahun lalu, orda paling hanya bisa merekrut 90 an maba. Namun setelah orda ditempatkan di tempat Juras tersebut menjadi meningkat besar, misalnya KMPP mendapatkan maba sebanyak 180an, apalagi Kendal mendapat 200an maba”, tandasnya.

Meskipun pada awalnya para maba jengkel karena dicegat, namun pada akhirnya mereka ngobrol dan tertawa ria bersama para kating mereka.

Tepat hari kedua PBAK (20/08) merupakan kemacetan yang cukup ribet .
“kalau selasa itu memang saya mengurus pagelaran budaya, mereka gak terkontrol, ditambah lagi ada 2 mobil yang simpangan yang tidak mau mundur”, kata mahasiswa asal Pekalongan tersebut.

“Namun hari Senin, Rabu, Kamis cukup efektif dan rapi, karena masyaraat UIN tidak ada yang complain, karena saya sendiri terjun ke tkp dan mengintruksikan supaya motor-motor ditaruh di dekat gedung Ushuluddin atau belakang gedung O, sehingga tidak ada motor yang ditaruh di jalanan meskipun ada yang ditaruh di atas trotoar. Kita juga bekerja sama dengan keamanan kampus”, tambahnya.

“Ya kita mainnya sistem plat sih, karena plat menunjukkan identitas sebuah daerah, misalnya plat K, maka ia akan dicegat aktifis KMPP”, tambah mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum ini. Beberapa maba pun nampak senang karena menambah keakraban sesama daerah asal.

Melihat hal ini, ia menyarankan agar tidak perlu dipermasalahkan terlalu serius.

“Ya jangan terlalu didramatisir atau dipanas-panasi masalah tersebut, kalau masalah PBAK (jalan) macet, berarti justru itu sukses PBAK-nya karena kampus sukses menampug mahasiswa sebanyak 4000 lebih”, ungkapnya sambil tertawa saat diwawancarai salah satu reporter Justisia.

Reporter : Najih dan Afan.
Penulis : Najih
Editor: Harly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here