Kudus, Justisia.com – Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) telah menginjak usia sebelas yang kembali di gelar di Indonesia. Kali ini kota Kudus yang menjadi tempat diselenggarakannya acara rutin dua tahunan ini, Jumat hingga Minggu, (28-30/6/2019).

“Kami memilih kota Kudus karena Kudus mempunyai ikon toleransi yang sangat besar, yaitu Masjid Menara,” tutur sastrawan dan budayawan Sosiawan Leak pasca kegiatan pembacaan puisi, Sabtu (29/6/2019) malam.

“Kebetulan temanya pas yaitu Puisi untuk Kemanusiaan dan Persaudaraan,” terang pria kelahiran Surakarta tersebut.

Alasan ke dua yaitu karena kebetulan acara tersebut mendapat dukungan dari Djarum Foundation yang mana markasnya di Kudus. Tapi yang paling utama adalah karena ikon dari kota Kudus sendiri.

Sosiawan Leak menilai PPN kali ini sangat bagus, karena bukan hanya baca puisi-puisi saja pada tanggal 29 Juni malam, namun digelar selama tiga hari, yaitu tanggal 28-30 Juni 2019.

Pada hari pertama diadakan seminar, diskusi buku antologi yang ditulis para penyair, dan penerbitan buku, serta workshop teknik membaca puisi untuk guru-guru di Kudus.

Pria berumur 51 tahun ini melanjutkan, “lalu hari ke dua ada malam pembacaan karya, dan hari ke tiga ada acara City Tour. Itu keliling kota Kudus dan mengunjungi tempat-tempat yang bersejarah di Kudus; seperti Masjid Menara, Museum Kretek, dan lain sebagainya”.

Harapan Sosiawan Budi Sulistyo di PPN Malaysia nanti adalah peserta yang terlibat semakin banyak, dan bertema terkait problem kehidupan saat ini yang telah dikaji dan didiskusikan.

“Jadi, puisi punya kontribusi terhadap kehidupan yang terjadi sekarang,” ujar sastrawan yang dikenal sebagai penyair sosial itu.

Untuk menjadi peserta PPN tidak harus penyair yang sudah berpengalaman, asalkan si penyair karyanya bagus, berkualitas, dan yang utama lulus seleksi karya.

“Jadi, berangkatnya dari karya, tidak harus yang sudah berpengalaman ataupun punya buku”, pungkasnya.

Acara Pertemuan Penyair Nusantara ini tidak hanya dihadiri penyair dari dalam negeri saja seperti penyair senior Sutardji Calzoum Bachri, KH. A. Musthofa Bisri, ataupun KH. D. Zawawi Imron dan Thomas Budi Santoso melainkan juga dihadiri beberapa penyair dari negara tetangga seperti Saleeh Rahmad dari Malaysia dan beberapa penyair dari Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand. (Rep:Arifan/Ed:A.M)

Reporter: Arifan
Penulis: Arifan
Editor: A.M.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here