Konsep Negara Joker dan Indonesia

0
481

Akhir-akhir ini beranda media sosial di berbagai jaringan dipenuhi dengan postingan deskripsi tentang film fenomenal Joker. Bahkan tidak sedikit yang membuat caption “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”.

Dari deskripsi singkat ini munculah meme unik yang dipelintir untuk kelompok-kelompok tertentu; contohnya orang jahat adalah orang baik yang salah milih ustaz. Bahkan sampai dipelintir ke dalam urusan politik, ibaratnya orang jahat adalah orang yang ada di sekeliling Jokowi.

Dengan hal ini membuktikan bahwasanya film tersebut sangat diminati oleh masyarakat Indonesia. Opini yang mengangkat tentang film ini pun sangat banyak sekali dengan memandang berbagai aspek, juga tidak sedikit analisis analisis mengenainya, misalnya menyoal tentang negara.

JOKER sebagai simbol perlawanan

Film Joker kali ini menampilkan Joaquin Phoenix sebagai Arthur Fleck nama asli Joker. Memang karakter yang dimainkan tidak jauh berbeda dengan Joker yang pernah diperankan dalam film-film sebelumnya.

Film yang sedang ramai ini, menampilkan kondisi rakyat yang tertindas di bawah sistem pemerintahan yang buruk hingga memanggil hati nurani mereka untuk menuntut keadilan. Dari sini karakter Arthur Fleck terlihat sebagai orang yang tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah.

Di samping itu karena Arthur Fleck (Joaquin Phoenix), seorang warga miskin di sebuah kota yang berjuang untuk bertahan hidup bersama ibunya. Dia bekerja sebagai badut. Ia selalu mengingat pesan ibunya untuk selalu membuat orang tertawa meskipun dirinya untuk senyum saja susah.

Dalam catatan keseharianya, ia menulis bahwa kematianku lebih masuk akal daripada hidupku. Sayangnya, Arthur Fleck selalu bernasib kurang beruntung. Ia punya penyakit yang timbul karena kerusakan otak, yaitu, bisa tertawa tiba-tiba tanpa alasan yang jelas dan dalam waktu yang lama.

Baca juga:  Pelecehan Seksual Kerah Putih

Selalu kalah dalam kehidupan, dipermalukan sebagai komika yang buruk di hadapan TV nasional, diputus jaminan kesehatannya untuk mendapatkan obat penenang, dan pada akhirnya, harapan satu-satunya untuk menjadi orang dibanting sedemikian keras oleh Thomas Wayne. Ya, Ayah Bruce Wayne, sosok Batman yang kelak menjadi nemesis-nya.

Kemudian dia mencoba tampil sebagai komika pada malam hari, tetapi lelucon yang Arthur Fleck buat selalu berbalik kepadanya. Kemalangan bertubi-tubi dari internal dan eksternal dirinya lambat laun membentuk Athur Fleck menjadi sosok Joker, simbol perlawanan. Sosok Joker sebagai badut menyebar ke seluruh kota dan menciptakan kericuhan yang sangat besar sampai berhasil menurunkan elite pemerintah.

Memang secara kepribadian dan kejiwaan seseorang akan bisa menjadi sangat jahat bila ketenangannya diganggu dan hak-haknya dikorupsi. Selain itu saya teringat dengan salah satu pemikir Inggris abad ke-16 yang sangat terkenal, Thommas Hobbes. Identifikasi masyarakat sekarang mempunyai banyak teori yang membenarkannya. Contohnya, Thommas Hobbes menyebutkan bahwa pada dasarnya manusia itu bersifat buruk. Penuh kekerasan. Ia membuat istilah yang sangat terkenal: Homo homini lupus. Manusia adalah serigala bagi yang lainnya. Makanya, dibutuhkan sebuah instrumen untuk mengatur agar manusia tak saling bantai. Itulah cikal bakal negara.

Motif brutal yang diperankan Arthur Fleck bisa dinilai sangat wajar karena untuk menumpas lingkaran oligarkhi dan mengingatkan bahwa pentingnya menghargai perasaan satu sama lain. Namun dalam sikapnya yang membunuh setiap orang yang menyakitinya itu adalah proses pembuatan negara baru dan sebagian orang akan menilainya sebagai kebrutalan yang luar biasa.

Baca juga:  Kebijakan Pengurangan UKT Dibatalkan, SEMA PTKIN Nasional Keluarkan Surat Pernyataan Sikap

Makanya, ketika Joker membunuh tiga karyawan Thomas Wayne (representasi dari yang berkuasa) yang berusaha mem-bully seorang perempuan di sebuah trem, timbullah gelombang aksi demonstrasi di seluruh Gotham City.

Massa kemudian mengidentikkan diri sebagai Joker, dan membuat kerusuhan di mana-mana serta menuntut penjungkirbalikan sistem dan melawan oligarkhi. Ya, kira-kira semacam pelesetan lagu Didi Kempot: Tak tandur pari, jebule sing tukul oligarkhi.

Indonesia akan munculkan sosok Joker

Datangnya film ini di layar kaca Indonesia ibarat kiriman angin segar tentang gambaran negara yang rakyatnya sedang frustasi besar-besaran, dan ini sangat cocok sekali di tengah ramainya demonstrasi yang terjadi di berbagai kota besar Indonesia sebagian besar mereka menuntut keadilan tentang nasib rakyat di bawah kekuasaan DPR yang mencoba mengesahkan RKUHP yang kontroversial ,itu diantara tuntutan sebagian demonstrasi kemarin.

Bahkan ditengah ruwetnya persoalan bangsa ini ,muncul sekelompok masyarakat muda yang selama ini dianggap hanya berbuat keonaran nyatanya memiliki empati untuk memperjuangkan hak hak rakyat. Mereka adalah anak anak Sekolah Teknik Menengah (STM) yang mencoba menyumbang aspirasi rakyat biarpun sebagian dari mereka tidak mengerti apa apa.

Gambaran rasa frustrasi yang dialami banyak orang di antara kita sekarang. Harga kebutuhan yang selalu tak terkejar, hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi. Kesulitan ekonomi struktural. Yang tidak bisa diatasi dengan kita hanya menjadi lebih rajin belaka. Tapi, kesulitan yang didapat karena adanya ketidakadilan persaingan dalam industri sekarang. Yang sistem sekarang tak banyak menawarkan kesempatan kepada yang bukan siapa-siapa untuk memperbaiki hidupnya.

Baca juga:  Pemerintah Kota Semarang Gelar Peringatan Pertempuran Lima Hari

Sistem buruk yang terpuruk

Film ini juga dianggap kontroversial. Sebab film ini menggambarkan sebuah realita kehidupan dalam pemerintahan yang gagal, kota yang dianggap mustahil untuk membayangkan keadilan terlahir dari sistem ini karena kebenaran hanyalah milik mereka yang sedang berkuasa.

Arthur Fleck adalah gambaran kecil rakyat miskin kota yang berani menantang oligarkhi sebuah tatanan sistem pemerintah yang buruk. Kisah ini bisa dilanjutkan di indonesia saat ini, menjelang Hajat Negara yang sangat bergengsi yaitu pesta pelantikan kepala negara.

Muncul masalah-masalah baru yang motifnya adalah perlawanan terhadap penguasa, kemarin baru saja terjadi insiden penusukan terhadap Menkopolhukam Jenderal (purnawirawan) Wiranto di Banten. Bisa jadi ini adalah bentuk perlawanan bagi kelompok tertentu yang sudah muak dengan keabadian dan kemunafikan sosok Wiranto.

Bila sebuah Negara sudah dikuasai para kapitalis dan semua hukum dimonopoli oleh orang-orang yang berkuasa sehingga yang kuat semakin kuat. Hingga terbentuknya kelas menengah ke bawah muak dengan para konglomerat yang mencoba menguasai pejabat public maka tunggulah munculnya Joker Joker yang baru. Gelombang protes rakyat miskin kota tidak mudah dibendung bila sudah benci dengan oligarkhi.

Penulis : Abdullah Faiz

Editor : Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here