Kisah Mendung di Kota Mendung

0
98
foto: chita's world

oleh: Arifan

Di kota Mendung, banyak orang yang menghabiskan harinya di ladang, utamanya Desa Sidomukti. Keseharian orang-orang di sini adalah bertani. Ya, walaupun ada juga yang berdagang. Mereka bertani sayur, jagung, buah-buahan, kopi, teh, dan terkadang menanam tembakau saat musim kemarau.

Tapi baru-baru ini, cuaca Kota Mendung sedang tak menentu, kadang hujan, kadang cerah, kadang mendung. Bagaimanapun keadaan cuacanya, para petani harus tetap pergi berladang. Ya, itu harus mereka lakukan demi merawat anak yang menghidupi anak-anak dan keluarganya.

Pagi ini, warga Desa Sidomukti beramai-ramai berangkat menuju ladang mereka masing-masing. Dengan saling bergurau satu sama lain, sangat terlihat keakraban di antara mereka. Cuaca hari ini begitu cerah karena hujan sudah reda tadi malam . Meski begitu, hawa di desa tetap saja terasa sejuk. Ya, maklumlah daerah kaki gunung.

Anak-anak desa juga tak mau kalah, mereka berpawai menuju sekolah tempat mereka belajar. Para ibu tengah sibuk mencuci dan menjemur pakaian, beberapa ada yang menyapu teras dan halaman. Damai, sangat damai suasana di desa ini. Tapi tidak dengan Pak Kartono, penjual ikan asin di pasar induk kota Mendung.

“Sudah, Pak. Biar bagaimana pun, ini kecelakaan. Toh nanti pemerintah akan membantu. Seperti yang dulu-dulu,” kata Bu Sumi -istri Pak Kartono- menenangkan suaminya.

“Tapi dagangan itu adalah satu-satunya jalan rezeki kita, Buk. Kalau lapak jualan bapak dibakar seperti itu, bagaimana bapak mendapat uang untuk menghidupi ibuk dan anak-anak? Itu satu-satunya yang kita miliki, Buk. Ladang kan kita juga tidak punya,” jawab Pak Kartono masih dengan wajah yang mendung, bahkan bukan hanya mendung, hujan, badai pun turun di wajahnya.

“Pak, ini kecelakaan, Pak. Kita tunggu saja bagaimana pemerintah kabupaten menyikapinya.”

“Ini bukan kecelakaan, Buk. Ini hanya akal-akalan orang pemerintahan saja, mereka membakar pasar, lalu membangunkan lagi dan memberikan modal pada para pedagang. Biar dikira mereka bijak, padahal kan masih banyak kebijakan lain yang lebih bernilai, kalau mereka kreatif. Membangun jalan yang layak di desa kita ini, misal, biar angkutan umum bisa masuk ke desa. Tapi kenapa mereka malah membakar pasar itu?” kekecewaan dan kemarahan Pak Kartono tidak bisa ia sembunyikan lewat raut wajahnya. Lalu kembali Bu Sumi menimpali pernyataan suaminya.

“Bapak tidak boleh buruk sangka seperti itu dengan pemerintah, Pak.”

“Buk, ini bencana yang diada-adakan, Buk. Apa Ibu lupa? Lima tahun lalu, pasar itu juga dibakar dengan isu korsleting listrik, sepuluh tahun yang lalu, juga begitu. Dan setiap pergantian bupati di empat periode terakhir ini, Buk. Ini sudah jelas sekali. Apa tidak ada cara lain untuk mengharumkan nama mereka selain membakar pasar? Atau malah ada yang membayar mereka biar mau membakar pasar?”

Bu Sumi terdiam, lalu Pak Kartono pergi keluar rumah, entah ke mana ia.

***

“Hati-hati kalau bicara, Pak Kartono!” bentak Pak Jun -ketua paguyuban pedagang dan salah seorang pengurus pasar- pada Pak Kartono, lalu melanjutkan, “Bapak bicar begitu apakah ada bukti?”

“Maaf, Pak. Saya bicara begini memang tidak ada bukti, tapi apakah bapak tidak bisa mengira-ngira? Setiap kabupaten kita berganti bupati, selalu saja ada kejadian pasar kobar. Itu bisa dipastikan pak, dari dulu, pasti begitu,” dengan yakinnya Pak Kartono tetap saja membela kecurigaannya itu.

“Tapi kecurigaanmu itu tak ada bukti, Pak Kartono,” sambil mengangkat kedua tangannya, Pak Jun menimpali penjelasan Pak Kartono.

“Pak …” Belum sempat Pak Kartono melanjutkan, Pak Jun sudah menghentikannya lebih dulu. “Sudahlah Pak Kartono, bilang saja kalau bapak ingin segera meminta jatah ganti modal. Sudah-sudah, silakan bapak kembali ke rumah dulu, saya harus segera pergi ke kantor Dinas perdagangan untuk menanyakan tindak lanjut pasar ke depannya.” Sungguh perkataan yang tak menyenangkan hati Pak Kartono.

Pak kartono tidak mau tinggal diam, dan ia berkata “apa jangan-jangan bapak terlibat dalam pembakaran pasar itu?”

“Pak Kartono… Pak Kartono, anda ini memang sukanya berburuk sangka saja. Sudah-sudah, saya harus pergi sekarang.”

Dengan wajah geram dan tangan mengepal, Pak Kartono pergi meninggalkan kantor paguyuban. Sampai di luar, karena ia sudah tidak tahan dengan kekesalannya, lantas menendang tong sampah di depan kantor sambil mengumpat, “Diancuk!”.

Pak Kartono begitu yakin dengan kecurigaannya. Ia berharap bisa menguak kasus tersebut. Tapi ia bukan siapa-siapa, seorang pedagang ikan asin yang perkataannya hanya dianggap angin lalu oleh banyak orang. Dan lagi, sikap Pak Jun padanya tadi juga semakin menambah kecurigaannya. Tapi apakah Pak Jun setega itu pada para pedagang? Ahh, kalau seandainya itu demi uang, atau kekuasaan, siapapun bisa sebangsat itu. Pikiran-pikiran seperti ini selalu saja terngiang dalam benak Pak Kartono.

***

Suara gangsir dan tonggeret mulai terdengar dari dalam rumah. Masih saja Pak Kartono memikirkan apa sebenarnya penyebab kebakaran pasar. Mungkin hanya dia yang memikirkan hal itu. Orang lain? Tak ada yang memikirkan seperti itu, bagi mereka kabar yang beredar di masyarakat ya itu yang benar. Ya, kebakaran karena korsleting listrik itu yang beredar di masyarakat.

Kesedihan dan kecurigaan Pak Kartono semakin ia yakini, tadi siang, di jalan, Pak Kartono dihadang oleh tiga orang preman, mereka mengancam Pak Kartono. Seandainya ia masih saja mengungkit-ungkit apa kiranya penyebab kebakaran itu, ia diancam tidak akan mendapat lapak sementara dan uang ganti modal.

Seketika itu pula, Pak Kartono memikirkan bagaimana ia akan  menghidupi keluarganya nanti jika tidak mendapatkan itu. Terus saja Pak kartono dipaksa bungkam oleh preman-preman itu, hingga dengan terpaksa, ia benar-benar bungkam.

Pak Kartono melamun, masih memikirkan kejadian tadi siang. Di samping itu, ia juga mendengarkan radio, berharap ada berita kebijakan dari pemerintah kabupaten terkait kebakaran pasar malam ini.

Dan benar, dari radio tersiar kabar bahwa pemerintah kabupaten akan segera membangun pasar darurat terlebih dahulu untuk sementara waktu, sembari menunggu pembangunan pasar induk yang baru. Pemerintah juga menjanjikan uang ganti modal bagi para pedagang yang lapaknya terkena kebakaran. Yaa, sekitar 2.800 pedagang lah.

Lega benar hati Pak Kartono. Ia langsung memeluk istri dan anak-anaknya setelah mendengar kabar tersebut. Keluarga yang hampir saja tidak bisa ia hidupi jika ia membeberkan rahasia busuk itu.

Malam semakin larut, desa semakin sepi, hanya suara burung Daradasih yang terdengar malam itu. Suaranya yang meninggi di awal, lalu semakin pelan, semakin pelan, dan menghilang. Hingga hening malam itu membuat Pak Kartono sekeluarga terlelap.

***

Satu bulan pasca kebakaran, pasar darurat pun selesai dibangun. Dengan kayu balok sebagai kerangka, lalu papan kayu sebagai sekat dan lantai lapak, serta seng sebagai atapnya. Bangunan sementara itu dibangun dengan model rumah panggung, dengan tinggi kaki sekitar 30 cm. dan dibangun berderet di sepanjang jalan utara kota. Dekat alun-alun.

Seminggu, satu bulan, dua bulan, dan sampai sekarang lima tahun berjalan, para pedagang mengeluh pembeli mereka tidak seramai ketika mereka berada di pasar yang dulu. Janji-janji pemerintah kabupaten untuk membangun pasar baru benar-benar hanya janji.

Belum ada tanda-tanda penggarapan pasar, hanya lahan lapang bekas bangunan yang dirobohkan saja yang tampak. Padahal Pak Kartono sudah berusaha melupakan kecurigaannya pada pemerintah.