Kepemimpinan Bocah Angon

0
99
Sumber: Azizalmuftaromwordpresscom

Oleh: Haidar Latif

Pemimpin menurut Robert Tanembaum adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan tertentu. Dapat dikatakan pemimpin adalah tuhan bagi bawahan-bawahanya, pemimpin seakan menjadi penentu kegiatan, apa yang harus dilakukan dan larangan apa yang harus ditinggalkan jika dia masih ingin hidup dibawah kepemimpinanya.

Sementara kata angon identik dengan penggembala, penggembala yang sering diremehkan mayoritas insan, pekerjaan yang dianggap keterbelakangan, dan orang yang tidak mempunyai kesibukan. Yang kita lihat penggembala hanya mejadi pelayan binatang telanjang yang tak protes jika tak dilayani. Bahkan mereka bisa mencara kebutuhan perutnya sendiri tanpa kehadiran penggembala dan silakan mengatakan bergembala adalah pekerjaan yang bodoh.

Tak Ada Korelasi?

Bocah angon tidak mungkin menjadi pemimpin. Bocah angon tidak bisa menjadi pemimpin. Bocah angon tidak ada jiwa pemimpin, sama sekali tidak ada hubungannya antara pemimpin dan bocah angon pemimpin berada di kantor dan terhindar dari tempat yang kotor. Bocah angon berada di desa dan bergaul dengan domba-domba misalnya. Semua gagasan itu ada dalam pikiran orang yang seharusnya tidak dipilih untuk menjadi pemimpin.

Ada korelasi yang dapat kita temukan antara pemimpin dengan bocah angon. Jangan kita lihat sisi eksplisitnya saja. Namun kita harus juga mencari sisi implisitnya juga, sebenarnya jiwa kepemimpinan itu ada dalam diri bocah angon. Bocah angon setia menemani dan pantang meninggalkan angonannya mencari penghidupan menyusuri jalanan lalu dengan sabar memilihkan mana rumput yang layak dikunyah oleh teman berjalannya tadi.

Setelah itu mencari air segar untuk menyempurnakan asupan dari angonannya. Tidak cukup sampai di situ, setelah dirasa cukup kemudian bocah angon dengan sabar memandikan angonannya agar kebersihanya tetap terjaga. Ketika sakitpun selalu siap untuk mengusahakan kesembuhan dengan berbagai jalan.

Terpampang sifat tanggung jawab pada diri bocah angon sekalipun yang diayomi hanyalah hayawan yang tidak memiliki akal dan pikiran namun tetap diperlakukan dengan sebaik-baiknya perlakuan dan tindakan.

Bocah Angon sebagai Pemimipin

Sunan Kalijaga sejak zaman dahulu sudah memberikan gambaran bagaimana bocah angon dalam tembang yang dikarangnya, yakni Lir-ilir. Meminjam pemikiran Simbah Emha Ainun Najib mengenai bocah angon, dalam tembang Lir-ilir ada kalimat: bocah angon-bocah angon, penekno blimbing kuwi, lunyu- lunyu penekno.

Dalam kutipan lirik tersebut dijelaskan bahwa harus ada yang memanjat pohon yang licin itu agar Blimbing yang ada di atas pohon tersebut dapat tercapai, dan yang memanjat adalah bocah angon yang mempunyai kapasitas yang cukup karena dalam dirinya sudah terbentuk kecekatanan sehingga dapat memanjat pohon sekalipun pohon itu licin.

Selanjutnya kita dapat mengqiyaskan kutipan lirik tersebut dalam hal kemepimpinan, harus ada yang berani menghadapi, menyelesaikan, dan bertanggun jawab terhadap banyaknya masalah-masalah yang natinya pasti akan menghampiri dan tentunya tidak cukup hanya sekali masalah itu dihadapi karena akan datang bertubi-tubi dan berbagai macam jenis masalah yang ada.

Oleh karenanya perlu seseorang yang tangguh dan kebal dalam menghadapi segala problematika yang nantinya akan menjadi penghalang. Oleh karenanya butuh sosok pemimpin yang benar-benar kompeten dalam segala hal  yang siap dan sigap dalam segala situasi, atau bisa disebut dengan bocah angon tadi.

“Tentu saja dia boleh seorang doktor, seorang insinyur, seorang jendral atau siapapun itu, namun yang terpenting adalah orang tersebut harus memiliki daya angon, daya mengembala meliputi kesanggupan untuk merawat semua pihak, karakter untuk merangkul dan memesari siapa saja sesama saudara sebangsa, determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama, memancarkan kasih sayang yang yang dibutuhkan dan diterima semua warna, semua golongan, semua kecenderungan bocah angon adalah seoarang pemimpin nasional, bukan bukan tokoh ulung atau pemuka suatu golongan,” kata Simbah Emha Ainun Najib.

Pada dasarnya setiap orang mempunyai kesempatan yang sama dalam menjadi pemimpin terlepas dari latar belakang apa yang ada di belakangnya, asalkan dia mempunyai daya angon yang disebutkan di atas tadi maka dia layak untuk menjadi pemimpin. Bahkan setiap orangpun sejatinya menjadi pemimpin atas dirinya sendiri.

Dengan begitu setiap orang harus mampu merawat dan mengayomi dirinya sendiri. Harus mampu memilah dan memilih apa yang baik dan yang buruk untuk dirinya dan pada akhirnya dapat membuat dirinya dapat berinteraksi dan bergaul dengan sesama dengan baik. Sehingga menimbulkan kecocokan dan kenyamanan banyak orang terhadap dirinya karena sikap yang dipancarkan oleh dirinya karena kepemimpinan atas dirinya sendiri. Jadilah bocah angon.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here