Keluh Kesah, Berebut Jatah Kursi Tes Bahasa

0
541
Website | + posts

Rasa kesal bercampur greget pasti pernah di alami oleh setiap pendaftar TOEFL dan IMKA. Setiap tanggal 26 mengakses laman ppb.walisongo.ac.id serentak demi mendapatkan kursi tes di bulan berikutnya. Menunggu berjam-jam di depan layar  gawai hingga pergi ke warung internet (warnet) demi mendapatkan kursi test.

Pihak pengelola bahasa telah menyediakan kuota sejumlah 420 dengan rincian  untuk TOEFL sejumlah 180 dan  240 kursi untuk IMKA. Ribuan mahasiswa berebut kuota yang telah ditentukan di tanggal itu dan berebut kursi kosong  di layar komputer dan gawai masing-masing. Ada yang riang gembira mendapatkan jatah. Juga yang murung karena melihat notifikasi kuota habis di laman pendaftaran.

Meliana Ummi Rofiah, salah satu dari ribuan mahasiswa yang kecewa tidak bisa mendaftar tes  karena kuota habis. Perempuan yang kini menempuh semester delapan di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, mengaku belum pernah mengikuti tes karena setiap membuka laman ppb.walisongo.ac.id jatah kursi sudah kosong.

“Aku sengaja pergi ke warung internet dari jam 7.30 pagi. Tapi tetap tidak dapat kelas. Padahal jatah masih utuh dan setiap daftar pasti gak kebagian kelas,” ungkapnya saat diwawancarai reporter justisia.com, Selasa (26/02/2019) pagi.

Beda cerita dengan Meli, sapaan akrab Meliiana Ummi Rofiah. Desi Pradita mengalami keanehan saat dirinya mengakses laman ppb.walisongo.ac.id selalu kehilangan sinyal.

“Setiap buka web PPB itu sinyale ilang, tapi pas buka instagram lancar jaya itu kan sebuah keanehan. (Selain itu) jatah test untuk bulan depan minim daripada bulan-bulan sebelumnya,” tutur Dita.

Dita dan Meli menyesalkan kebijakan PPB yang memperbolehkan kesempatan kepada mahasiswa di bawah semester 7 mengikuti test. Padahal kebijakan ini berbeda ketika keduanya masih duduk di semester dua.

“Seharusnya menunggu semester tua (semester 7 dst) dulu baru semester baru. Menurutku kebijakan itu tidak bijak,” ujar kedua orang itu.

Cerita mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum, Hakim Maghfur  yang nyaris mendapatkan kelas namun tiba-tiba tidak bisa klik kuota kelas. Kejadian itu berulang selama dua kali daftar dan tidak mendapatkan jatah kelas.

“Aku sudah stand-by dari setengah 7. Sama seperti dua bulan yang lalu tidak masuk. Padahal tinggal klik kelas, lho. Akhirnya menunggu bulan berikutnya,” kata Hakim.

Rompi (bukan nama sebenarnya) juga mengalami nasib sama seperti Hakim Magfur. Sudah mendaftar tiga kali IMKA dan begadang demi mendapatkan giliran test di bulan berikutnya. Hasilnya tetap sama, kuota habis.

“Saki tapi gak keluar darah,” komentarnya.

Kendala over acces di alami oleh Odinar (bukan nama sebenarnya) saat mengakses laman pendaftara tes. Saat masuk ke laman justru buffering dan tidak bisa melihat sisa kuota.

“Jengkel banget kalau begini. Padahal ikut tes biar bisa daftar ujian komprehensif di bulan depan,” katanya.

Karta (bukan nama sebenarnya) justru pendaftaran IMKA dan TOEFL di pagi hari mengganggu jadwal tidur kebanyakan mahasiswa. Pasalnya pukul 08.00 pagi masih banyak belum bangun.

“Gregetnya jam 8 itu biasanya masih pada tidur. Eh, mau tuh pada begadang demi dapat (jatah) flash sale TOEFL atau IMKA,” tukasnya disertai senyum.

Keluhan-keluhan demikian bukan saja didengarkan oleh pihak penyelenggara sebagai laporan atau kritikan. Perbaikan sistem adalah kerja nyata sebelum keluh kesah demikian mengada dan berlipat ganda.  

Baca juga:  Merayakan Idul Fitri di Dusun Sumberwudi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here