Kebersamaan Antar Umat Beragama di bawah Atap Klenteng Ling Hok Bio

0
56
Sumber foto: Freedomsiana

Oleh: Adetya Pramandira

Siang itu (3/2) udara terasa panas. Jalanan pasar Imlek Semawis yang terletak di Jalan Gang Warung No. 50, Kauman, Kota Semarang tampak ramai. Aku memisahkan diri dari rombongan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman, kemudian berjalan menyusuri pasar. Ada berbagai barang yang dijual. Mulai dari makanan, pakaian, aksesoris, bunga, hingga berbagai seni pertunjukan ditampilkan. Banyak pengunjunng dari berbagai etnis dan agama memadati lokasi. Semua membaur menikmati perayaan menjelang hari raya Imlek.

Suasana panas tiba-tiba berubah menjadi sejuk ketika aku masuk ke dalam Klenteng. Seorang pria yang semula menyapu tiba-tiba berhenti ketika melihat aku datang. Pria paruh baya itu berjalan pelan menghampiriku. “Silahkan masuk neng”, ujar pria itu seraya meletakkan sapunya.

Aku terkejut. Aku yang saat itu berbusana muslim disambut hangat dan diperbolehkan masuk ke dalam tempat peribadatan mereka. Sesaat kemudian kedua rekanku datang. Sebelum masuk kami duduk di pelataran Klenteng dan berbincang-bincang.

“Klenteng ini namanya Ling Hok Bio. Klenteng ini didirikan tahun 1886. Sudah 154 tahun berdiri”, ujar pria bernama Bedjo Santosa itu seraya mengusap keningnya.

Angin yang bertiup menggoyangkan lampion yang terpasang menggantung di atap klenteng. Ukiran huruf Cina memenuhi dinding bangunan berwarna merah tersebut. Gambar naga dan harimau menambah khas Klenteng Ling Hok Bio.

“Harimau ini menggambarkan Raja Hutan yang menguasai alam dan warna merah ini menyimbolkan kebahagiaan”, jelas Bedjo sambil menunjuk patung harimau di belakangnya.

“Biasanya perayaan Imlek begini apa yang disiapkan pak?”, tanya salah seorang temanku yang kerap disapa Nafi.

“Ooo.. kalo perayaan khusus kami tidak ada. Biasanya kami membersihkan Klenteng ini setelah Dewa-Dewa naik, kalo gampangnya naik menuju Tuhannya. Sesudah naik kami bersih-bersih Klenteng, kemarin kita melaksanakannya, hari Sabtu”, tutur pria pengelola Klenteng itu.

“Kalo di sini perayaan Imlekknya yaaa pasar Semawis ini, ada kuliner-kuliner, pertunjukkan, dan perlombaan. Kalo di klenteng tidak ada perayaan khusus. Perayaan khusunya kalo kelahiran Hok Tek Ching Sin atau Dewa Bumi kalo tanggalan Imlek jatuhnya tanggal 2, bulan 2”, lanjut Bedjo seraya membenarkan tempat duduknya.

“Di sini dulu ditutup mbak pada masa Orde Baru, tapi sejak Presiden Gus Dur ini dibuka kembali. Di sini toleransi antar warga begitu terjalin. Di sini juga ada pekerja kami yang beragama Islam. Juga ada kantin kebajikan setiap hari Jumat. Pada perayaan Idul Fitri, Bulan Ramadhan kami sering bagi-bagi takjil. Begitupun kalo perayaan kami, umat Islam begitu antusias membantu”, ujar Bedjo begitu bersemangat.

Anak-anak berkejaran di jalanan Pasar Imlek Semawis. Suara musik pertunjukkan mengalun menambah ramai suasana pasar. Semerbak aroma khas kue merah bercampur dengan harum aroma dupa menyelimuti pasar sepanjang 500 meter tersebut.

“Mau masuk kedalam?”, tutur pria dengan nama asli The Hok Gie itu memecah keheningan.

Kami berempat masuk kedalam Klenteng. Patung Dewa-Dewa tersusun rapi di sebuah meja dengan panjang empat meter. Lilin-lilin menyala terang. Di depan pintu kami disambut oleh Dewa Pintu. Dalam ruangan yang cukup luas ini terdapat lima dewa, ada Dewa Bumi sebagai Tuan rumah yang berada di tengah. Di samping kanan Dewa Bumi ada Dewa Rejeki serta Dewa Kebenaran dan Keadilan. Di samping kiri Dewa Bumi ada Dewa Pengobatan dan Dewa Ilmu Hitam.

Setelah mengelilingi ruangan, aku berjalan keluar meninggalkan kedua temanku dan Pak Bedjo. Beruntung aku melihat Pak Supardi, salah satu pekerja muslim di Klenteng ini duduk bersandar di dinding Klenteng. Aku menghampirinya. Berbincang-bincang cukup lama.

“Wahhh saya di sini sudah sebelas tahun mbak, sejak Tahun 2007 saya kerja disini. Dan itu tidak jadi masalah”, tutur pria yang akrab disapa Begog.

“Kalo di sini kerjanya apa saja pak?”, tanyaku.

“Di sini enak mbak setiap ada acara keluar kota saya pasti diajak, membantu menata dekorasi atau hanya ikut membantu menurunkan barang-barang festival. Di sini kebersamaan sangat tinggi mbak, tidak pernah membeda-bedakan. Makan bersama dalam satu meja, itu sering. Mau makan apa tinggal milih, mau apa sesukamu”, jelas Pria berusia 54 Tahun itu dengan wajah berseri.

Sedikit ragu aku bertanya, “Mohon maaf bapak, kalau hidangannya babi bagaimana?”, tanyaku dengan penuh kehati-hatian. Setelah meminum secangkir kopi yang ada di sampingnya, ia menjawab.

“Tenang mbak selama saya bekerja di sini tidak pernah hanya menghidangkan satu makanan, hanya babi gitu ndak pernah. Pasti ada menu lain, ada ayam, ada sayur. Waah macem-macem. Kalau ada sisa banyak pasti suruh bawa pulang, bagikan dengan waga sekitar dan merekapun menerima”, katanya.

Hari menjelang sore, pengunjung pasar Semawis semakin ramai. Sayup-sayup terdengar suara adzan ashar di kejauhan. Timbul pertanyaan dalam benakku, bagaimana ketika masuk waktu sholat apakah juga diperbolehkan sholat?. Belum sempat aku bertanya. Rupanya pak Begog bisa menebak apa yang aku pikirkan.

“Di sini kalo adzan berkumandang pekerjaan pasti dihentikan sesaat. Yang mau sholat silahkan sholat yang nggak ya silahkan istirahat. Pokok asik mbak, tidak ada pertentangan dan tidak dikekang”, jelas pria itu sembari mengeluarkan rokok dari saku celananya.

Setelah duduk berbincang sekian lama, akhirnya aku pamit untuk melanjutkan perjalanan menyelusuri Pasar Semawis. Udara panas berganti sejuk. Ditambah cahaya senja yang menerobos melalui celah gedung dan perumahan menjadikan suasana pasar Semawis sore ini menjadi begitu syahdu. Melihat warga dari berbagai latar belakang merayakan Imlek bersama turut membuat suasana sore ini begitu damai.