Bahasa sebagai salah satu media interaksi antar manusia memiliki banyak fungsi. Fungsi-fungsi tersebut kebanyakan sama entah bahasa apapun itu. Akan tetapi, setiap bahasa memiliki karakteristiknya sendiri, dan karakteristik ini mencerminkan kebudayaan masyarakat yang memakai bahasa tersebut.

Menurut penjelasan Tedi Kholiluddin seperti yang dikutip Shidik dalam artikelnya Bahasa dalam Perspektif Logika, indikasi kebenaran suatu bahasa dibagi menjadi 3 macam: ideational, referensial, dan behavioral.

Teori ideational menitikberatkan kebenaran dalam ide, baru kemudian diturunkan kedalam bahasa. Teori referensial memakai logika sebagai acuan, selama antara bahasa dan objek terdapat relasi yang logis, maka bahasa itu benar. Teori behavioral memandang efek dari bahasa, jika suatu bahasa bisa mempengaruhi pendengarnya maka bahasa itu dianggap benar.

Teori-teori diatas yang dikemukakan oleh I.R. Poedjawijatna dalam Logika Filsafat berfikir (1992) perlu ditelaah dari sudut pandang lain. Pembahasan “kebenaran” bahasa cenderung tercampur dengan “kejujuran”.

Seringkali pemakaian kata “jujur” dan “benar” dihubungkan dengan fakta, akan tetapi penggunaan kata “kejujuran” terkadang dikaitkan dengan keyakinan si pembicara. Contohnya seseorang berkata “aku membeli buku di toko cendekia”, ternyata nama toko tersebut bukan cendekia tapi merana. Jika si pembicara mengatakan ucapan tersebut dengan kesadaran bahwa ucapannya tidak sesuai kenyataan maka bisa dianggap berbohong, tapi jika ia tidak tahu maka bisakah kita langsung menganggap ucapannya sebagai kebohongan ? Lalu apakah ada dampak nyata dari kebenaran atau kejujuran ini ?

Makna kebenaran dan kejujuran

Kejujuran dan kebenaran mempunyai banyak persamaan. KBBI mendefinisikan “jujur” sebagai “tidak berbohong” sedangkan bohong diartikan sebagai “tidak sesuai dengan hal yang sebenarnya”. “Benar” yang bermakna “sesuai sebagaimana adanya” juga berantonim sama dengan jujur, dimana “benar” adalah “tidak bohong”.

Kedua pengertian di atas menitikberatkan kesesuaian ucapan dengan kaidah atau standar tertentu. Standar tersebut ada kalanya berupa fakta, atau peraturan yang disepakati. Seperti pada contoh yang telah disebutkan, jika ucapan tidak sesuatu dengan kenyataan maka ucapannya disebut kebohongan. Sedangkan jika suatu pernyataan tidak sesuai dengan kaidah atau aturan tertentu, maka pernyataan itu disebut tidak benar.

Disiplin ilmu balaghah, mendefinisikan kebenaran dan kejujuran dalam pembahasan khabar (berita). Musthafa al-maraghi dalam bukunya Ulum al-balaghah al-Bayan wa al-Ma’ani wa al-Badi’ (2007:43), mengemukakan definisi khabar dan standar acuan dalam kebenarannya. Khabar adalah ucapan yang memiliki potensi kebenaran dan kebohongan tanpa mempertimbangkan faktor eksternal. Artinya terlepas dari standar apapun yang digunakan sebagai acuan, maka setiap ucapan yang mengandung dua potensi diatas disebut sebagai khabar.

Musthafa menjelaskan bahwa ucapan yang dimaksud juga memasukkan pernyataan yang secara logika hanya berpotensi benar atau bohong. Contohnya seperti berita dari Allah SWT atau berita dari utusan-Nya yang menurut logika dalam Islam dipastikan kebenarannya. Sedangkan berita dari seseorang yang mengaku Nabi atau pernyataan apapun yang secara spontan bisa dipahami kebenaran atau kebohongannya juga tetap disebut sebagai khabar karena dari segi pernyataannya sudah mencakup potensi benar atau bohong.

Definisi diatas memakai fakta atau kenyataan sebagai standar kebenaran suatu pernyataan. Lebih jauh lagi ia menjelaskan bahwa di dalam suatu ucapan terdapat nisbat kalamiyah (hubungan linguistik) dan nisbat kharijiyah (hubungan kenyataan). Hubungan linguistik adalah pemahaman yang didapat dari suatu pernyataan, sedangkan hubungan kenyataan adalah fakta yang terjadi di lapangan. Ketika di antara kedua hubungan tersebut ditemukan kesesuaian, maka suatu pernyataan disebut benar. Teori ini menurut Musthafa adalah yang paling banyak diikuti oleh jumhur (mayoritas para ahli).

Musthafa masih dalam bukunya (2007:44) menyebutkan 2 teori lain dalam menjelaskan acuan kebenaran khabar. Teori pertama dikemukakan oleh Ibrahim al-Nidham seorang tokoh Mu’tazilah, bahwa kebenaran suatu pernyataan tergantung kepada keyakinan si pembicara walaupun jika pernyataan tersebut tidak sesuai dengan fakta. Jika seseorang mengatakan “matahari bentuknya lebih kecil dari bumi” seraya meyakini kebenaran ucapannya maka ia dianggap benar.

Teori kedua dijelaskan oleh al-Jakhith, seorang murid Ibrahim al-nidham, bahwa ruang lingkup khabar tidak hanya terbatas pada kebenaran dan kebohongan, akan tetapi ada ruang ketiga di antara keduanya.

Pembagian khabar menurut pendapat ini ada 5; pertama sesuai fakta namun diyakini ketidak benarannya, kedua sesuai fakta namun tidak diyakini sama sekali, ketiga tidak sesuai fakta namun diyakini kebenarannya, keempat tidak sesuai fakta dan tidak diyakini sama sekali, serta yang terakhir tidak dianggap benar atau bohong.

Pengaburan fakta lewat keyakinan

Sosial media sebagai salah satu ladang bertukar informasi juga menjadi ladang budaya ketidakjelasan. Adalah tidak salah niat seseorang dalam membagikan pengetahuannya kepada orang lain, namun akan timbul permasalahan jika informasi ini di sampaikan tanpa ada kejelasan tentang apa, siapa, dan dimana suatu peristiwa terjadi. Kominfo dalam situs resminya mencatat 1.731 kasus hoax yang telah ditangani dalam kurun waktu antara Agustus 2018 hingga April 2019, dengan 486 hoax terjadi pada bulan April 2019, bulan pemilu tahun ini. Dapat disimpulkan bahwa rata-rata 6 berita hoax setiap harinya yang tersebar, jelas ini jumlah yang cukup banyak.

Pengguna media sosial patut waspada karena masalah ini. Situs resmi majalah tempo memaparkan bahaya yang ditimbulkan dari kasus ini lewat illusory truth effect. Penelitian tentang kasus ini yang dilakukan sejak 1970 meminta para responden mengidentifikasi pernyataan sebagai “benar” atau “salah”.

Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan kemudian para responden kembali dalam penelitian lanjutan dan disimpulkan bahwa sebagian pernyataan tetap sama namun, sebagian yang lain benar-benar baru. Para responden cenderung beranggapan bahwa informasi yang pernah mereka lihat akan dianggap “benar” tak peduli apa isi dari informasi tersebut.

Kasus ini juga terjadi pada indera pendengaran. Pernyataan yang sama, bisa berulang kali kita dengar, maka kita akan merespons dengan lebih cepat. “Kecepatan respon ini kerap dianggap otak sebagai sinyal bahwa informasi ini adalah benar,” kata Liza Fazio. Psikolog yang meneliti tentang memori dan kerja otak di Universitas Vanderbil kepada Vox seperti dilansir tempo.co.

Lebih membahayakan lagi dari illusory truth effect, adalah kasus ini bisa terjadi pada orang yang sudah mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Misalnya, Fazio menemukan bahwa orang-orang yang sudah mengetahui bahwa “kilts adalah rok yang dipakai pria Skotlandia” akan sedikit demi sedikit meragukan pengetahuan mereka ketika membaca kalimat “sari adalah rok yang dipakai pria Skotlandia”. Keraguan ini semakin bertambah bila kalimat kedua dibaca berulang kali.

Para pengguna media sosial, terutama generasi milenial yang kesehariannya tidak bisa dilepaskan dari sarana tersebut perlu waspada. “Kebenaran” yang sudah dipaparkan diatas ternyata sangat rentan terhadap pengaburan, bahkan fakta yang sudah jelas diketahui kebenarannya bisa dimanipulasi sedikit demi sedikit tanpa kita sadari. Pengaburan fakta ini bisa berdampak buruk jika dibiarkan, contoh nyatanya adalah kasus kerusuhan 22 Mei 2019 dan kerusuhan Papua bulan September 2019 lalu. Jika dulu pendahulu kita berperang melawan kolonialisme maka perjuangan kita saat ini adalah melawan “kebohongan”.

Ditulis oleh : Abdullah Salam, Mahasiswa semester I Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo Semarang.

Editor: Hikmah

Sumber :

Poedjawijatna. I.R. 1992. Logika Filsafat Berfikir. Jakarta : Rineka Cipta.

Al-Maraghi, Musthafa. 2007. Ulum al-balaghah al-Bayan wa al-Ma’ani wa al-Badi’. Lebanon : Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah.

https://kominfo.go.id/content/detail/18440/temuan-kominfo-hoax-paling-banyak-beredar-di-april-2019/0/sorotan_media

https://newsletter.tempo.co/read/1274164/cekfakta-15-hoaks-yang-berulang-bisa-kelabui-otak-manusia/full?view=ok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here