Justisia, Palangka Raya – sebagai bentuk keprihatinan dan kegelisahan atas maraknya lahan yang terbakar di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) dan sekitarnya, puluhan warga setempat melaksanakan upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Republik Indonesia di atas lahan yang telah terbakar pada Sabtu pagi (17/8).

Sama halnya dengan upacara pada umumnya, upacara dilaksanakan dengan rangkaian pengibaran bendera merah putih, menyanyikan lagu “Indonesia Raya” ciptaan W.R. Supratman, membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan, dan pembacaan doa. Satu hal yang membuat beda dari upacara lainnya adalah dengan adanya sesi pembacaan karya puisi yang berjudul “Bhinneka Tunggal ISPA”.

Peserta yang mengikuti upacara ini adalah warga yang terkena dampak kabut asap, beberapa mahasiswa pecinta alam Palangka Raya, dan beberapa komunitas tertentu. Mereka semua mengenakan masker sebab tepat di sebelah lokasi pelaksanaan upacara tepatnya di Jalan G Obos 10, masih ada lahan yang terbakar. Bahkan, helikopter water boombing sibuk lalu lalang melintas untuk memadamkan api di sekitar lokasi yang tak jauh dari tempat pelaksanaan upacara.

Peserta upacara, Abdul Hafidz, menyampaikan bahwa secara pribadi mengikuti upacara bendera di atas lahan kebakaran hutan adalah sebagai bentuk rasa prihatin. Selain itu, aksi upacara bendera tersebut juga merupakan tindak lanjut dari aksi pembuatan video kolosan dengan judul “Hisap Asap”.

“Hutanmu tak hanya milikmu, apimu juga bukan keuntungan bagi kami, tapi kenapa asap hasilmu harus kita nikmati bersama? Berpikirlah yang bijak wahai Saudaraku. Hutanku lenyap, langitku gelap, karena dikepung asap. Malam tadi, aku bermimpi hujan, karena senangnya, aku langsung bangun dan lari keluar rumah, pengennya menghirup udara segar, tapi yang ada hanya asap yang membuatku sesak nafas, mata perih, dan entah kenapa aku melihat kondisi yang semakin parah, hijau ku hilang”, begitulah beberapa penggalan dari puisinya.

“Tujuannya kalau aku ikut upacara ini sebagai rasa kegelisahan kita jangan sampai di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-75 tahun atau 2020 nanti kita masih hisap asap”, ujar Hafidz.

Menurut Hafidz sendiri, situasi kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap di Kota Palangka Raya saat ini memang tidak separah kejadian di tahun 2015 jika kita mau flashback. Namun kabut asap tetaplah kabut asap yang pasti akan memberikan dampak yang luas, seperti mudahnya seseorang terpapar penyakit ISPA.

“Saya juga membacakan teks karya teman-teman disini yang dikasih judul ‘Bhinneka Tunggal ISPA’ jadi artinya berbeda-beda tetapi yang terkena dampak ISPA tidak mengenal golongan, baik Tua, Muda, atau anak-anak sekalipun”, imbuhnya

Pemerintah Kota Palangka Raya sudah berupaya maksimal untuk melakukan pencegahan dan pemadaman kebakaran lahan. Di antaranya dengan meliburkan sekolah TK- SMP guna menghindari anak-anak terkana ISPA. Selain itu tiap harinya beberapa helikopter water boombing sibuk hilir mudik untuk memadamkan api dan petugas Damkar yang selalu siap sedia apabila mendapat panggilan kebakaran lahan dari warga setempat.

Namun yang terpenting adalah penyadaran kepada masyarakat untuk tidak membakar lahan dengan alasan apa pun. Menikmati udara bersih dan sehat adalah hak setiap insan, dan oleh sebab itu, otak-otak proyek dalam pengelolaan lingkungan di Kalimantan Tengah harus dihapuskan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Yang terpenting harus mengutamakan keterhindaran dari bencana asap yang sudah seperti langganan ini. apalagi seperti yang kita tahu bahwasanya kota Palangka Raya menjadi salah satu kandidat sebagai calon ibu kota baru di Indonesia.

Dengan kondisi seperti ini harapan kepada pemerintah adalah bagaimana mengolah lahan gambut dan tidak membakarnya. Karena sampai sekarang banyak masyarakat yang belum mengetahui dan masih percaya bahwa membakar lahan adalah cara yang paling mudah dan murah tanpa memikirkan dampaknya kepada orang lain.

Penulis: Lia Mei Tina
Editor: Harli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here