Kaleidoskop 2019: Kilas Balik

0
261
Infografis Kaleidoskop LPM Justisia 2019 / iIlustrasi: Haidar

Banyak peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2019 bergulir. Redaksi mencatat, ada sejumlah 512 unggahan; yang terdiri dari berita, artikel -semacam opini dan esai, juga karya sastra seperti cerita bersambung (cerbung), cerita pedek (cerpen), dan puisi. Dari jumlah itu, Redaksi merangkum bahwa paling tidak ada tiga peristiwa penting yang terjadi pada 2019.

Ia adalah; pertama peristiwa penggusuran pemukiman warga Kampung Tambakrejo yang didirikan di bantaran sungai Banjirkanal Timur, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Penggusuran yang terjadi bertepatan dengan bulan Ramadhan dilakukan dengan dalih normalisasi sungai Banjirkanal Timur. Wacana pemerintah Kota Semarang serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juwana ini sejatinya sudah terdengar sejak kurang lebih dua tahun terakhir sebelum penggusuran. Namun, warga Tambakrejo tetap bersikeras mempertahankan hunian mereka -sekalipun dengan kondisi seadanya, demi akses mata pencaharian yang mereka miliki selama ini.

Warga Tambakrejo tidak sendirian. Mereka kerap mendapat bantuan solidaritas dari masyarakat, lembaga swadaya, ataupun dari kalangan akademisi. Namun, bagaimanapun kuatnya mereka mempertahankan, akhirnya hunian dan lapangan penghidupan mereka mesti mereka relakan untuk kemudian direlokasi. Meski pada pelaksanaan penggusuran, warga kerap mendapat tindakan represif dari aparat penggusur. klik di sini.

Kedua, pada bulan yang sama; Mei, Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) melalui Surat Keputusan Rektor bernomor Un. 10.0/R/PP.00.9/754/2016 tentang TOEFL (tes kebahasaan Inggris) dan IMKA (tes kebahasaan Arab) menerapkan aturan baru terkait tes dua bidang kebahasaan tersebut. Aturan yang justru menambah padat lalu lintas antrean mahasiswa untuk mendaftar. Lantaran pendaftaran yang semula dibuka tidak terbatas waktu tertentu, diubah dengan hanya satu kali pelayanan pendaftaran tes TOEFL ataupun IMKA, yakni setiap tanggal 26. Kemudian, pendaftaran yang dulu dibuka hanya bagi mahasiswa berpredikat lulus pada mata kuliah kebahasaan, diubah dengan menghilangkan standarisasi kelulusan mata kuliah kebahasaan.

Baca juga:  Buruh Tetap Gaungkan Tuntutan di Tengah Pandemi

Keputusan yang kemudian disayangkan oleh mahasiswa. Karena sama sekali tidak ada pelibatan mahasiswa dalam proses pengambilan keputusan ujian yang turut menjadi prasyarat kelulusan itu. Mahasiswa mencoba merespon; dari pemberitaan media kampus, yang berlanjut kepada pertemuan perwakilan mahasiswa dengan rektorat. Namun, ternyata langkah yang demikian tidak memiliki dampak berarti. Hingga akhirnya demonstrasi pecah telur. Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Keluarga Besar Mahasiswa Walisongo (KBMW) datang dan menduduki rektorat demi satu tujuan; ada kebijakan alih-alih perubahan terhadap aturan tes kebahasaan. klik di sini.

Ketiga, Reformasi Dikorupsi. Selain berlangsung di kota-kota besar di Indonesia; Makassar, Jakarta, Malang, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan sebagainya, Semarang juga memberi respon atas kerja kebut semalam para wakil rakyat yang duduk di kursi DPR. Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Semarang Melawan menuntut DPR untuk mencabut atau merevisi rancangan undang-undang yang dinilai tidak memberi manfaat kepada rakyat kecil, berpihak kepada koruptor, melanggengkan kekerasan seksual, dan menguntungkan korporat. klik di sini.

Tahun 2019, seperti kata pengantar Catahu LBH Semarang 2019, menjadi tahun yang penuh ujian bagi demokrasi dan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Bagaimana dengan 2020? (Redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here