Jenis Kelamin Bukan Penentu Keadilan

0
251
Gambar: Shaukar Ajmeri

Oleh: Ayu Rahma

Asghar Ali Engineer lahir pada 10 Maret 1939 di Salumba, Rajasthan, India. Ayahnya bernama Syeh Qurban Husain yang memiliki pemikiran liberal dan dari ayahnya Asghar belajar bahasa Arab dan beberapa pelajaran islam. Pemikir muslim satu ini berpendapat bahwa teologi pembebasan seharusnya mampu mendorong sikap kritis terhadap sesuatu yang sudah baku dan secara konstan menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru.

Asghar Ali berpendapat bahwa Islam dalam arti teknis adalah sebauh agama di samping sebagai suatu revolusi sosial yang menghendaki perubahan dan menentang penindasan menurut konteks negara Arab dahulu. Islam lahir atas dasar persaudaraan universal, persamaan, dan keadilan sosial. Karena itulah muncul pemikiran beliau tentang teori pembebasan, apalagi untuk wanita.

Menurut Asghar, wanita dapat ikut serta atas persoalan perdata, tetapi tidak boleh dalam persoalan pidana. Wanita juga berhak atas segala sesuatu seperti kaum Adam. Karena setiap manusia berhak menuntut perlakuan yang adil bagi dirinya masing-masing dan dalam Islam pun sudah dijelaskan bahwa semua makhluk itu sama derajatnya di hadapan Allah, yang membedakan hanyalah ketaqwaannya saja seperti dalam QS. Al-Hujarat ayat 13.

Secara umum, hak-hak perempuan dianggap telah mendapat signifikansi yang kuat di masa modern, dan khususnya di dunia islam. Namun secara historis Asghar berpendapat bahwa perempuan masih tetap di bawah kungkungan kuasa laki-laki, sehingga kaum Hawa ini termarginalkan dan kadang dianggap sebagai pelengkap laki-laki tanpa bisa berdiri sendiri.

Pandangan Asghar Ali tentang dasar hukum bertumpu pada dua istilah dari Al-Quran, yaitu; maruf dan munkar, yang menghadirkan kembali substansi moralitas Islam tanpa dirusak oleh kendala-kendala ruang dan waktu. Maruf adalah sesuatu yang umumnya dapat diterima masyrakat dan munkar adalah sesuatu yang ditolak masyarakat demi menjaga tertib moral.

Meski begitu, Asghar berpendapat bahwa Al-Quran itu bersifat normatif sekaligus pragmatis. Ajaran-ajarannya memilik relevansi dengan jaman sekarang. Seharusnya ajaran ajaran tersebut tidak dipandang dari sifat normatisnya saja. Sebaliknya, malah harus dilihat dari konteks dimana ajaran tersebut diterapkan. Agar tidak menimbulkan pendiskriminasian terhadap perempuan.

Semangat revolusi Asghar cenderung bersifat praktis ketimbang teoritis dan lebih cenderung ke teologi pembebasan. Dalam pandangan Asghar, agama mesti dilepaskan dari aspek-aspek teologis yang bersifat filososfis dan justru mendukung kelompok penindas.

Sumbangan Asghar dalam keilmuan Islam adalah konsep hudud (hukuman) mengandung banyak polemik dan kontroversi. Asghar juga berpendapat bahwa negara-negara islam fundamental telah mencampakkan nilai-nilai filosofis Islam dan cenderung menerapkan hududini secara mekanis.

Asghar menegaskan bahwa hukuman bisa menjadi petaka jika harus diterapkan dalam masyarakat yang plural. Hukuman di masa sekarang seakan melupakan amar maruf nahi munkar dan menempatkan hukuman pada prioritas utama. Padahal itu sangat bertentangan dengan Al-Quran. Sedangkan,intisari sebuah hukum adalah keadilan, dan keadilan tidak pernah memandang derajat apalagi jenis kelamin.