Langit mendung, hujan mengguyur Jombang sejak pagi tadi. Membuatku tak bisa beranjak dari kantor pondok untuk pergi ke pasar. Bahan dapur habis, emak-emak dapur juga nganggur menunggu bahan makanan yang biasanya kubelanjakan. Baru saja pintu kantor akan kututup biar tempias hujan tak masuk. Lut seorang keamanan pondok berlari tergopoh-gopoh ke arahku.

“Kak Naa, kak Naa”

“Opo to lut, onok sing kabur maneh ta?”

“Mboten, sampean ndang ke ndalem kak. Ditimbali Ibuk”

“Lah, onok opo maneh lut? Aku mau wes bar sowan. Arek ribath sa’adah iku mau takziran e jum’at depan. Pas enten Ning Fida”

“Mboten kak Naa, niku loh Ustadz Harun. Teng ndalem matur Ibuk nyuwun sampean”

Aku terdiam, ternyata benar apa yang diucapkannya padaku kemarin di kantor madin.

“Kak Na kok malah mendel mawon. Pun ndang ke ndalem kak. Aku mbek arek-arek wes patah hati iki, mundur alon alon. Ustadz Harun pun milih kak Naa, heuheu” ucapnya sambil menggodaku.

Aku hanya tersenyum “Yawis aku tak ke ndalem. Suwun wes dikandani ya”.

****

“Ustadzah, sampun”

“Oh iya nduk, taruh meja mawon nggih”

Ucapku sambil menenangkan kekagetan barusan.

Aku melamun lagi, sudah 2 minggu sejak Ustadz Harun melamarku, namun jawaban tak kunjung kuberi. Perkara yang dulunya kukira akan sangat membahagiakan ternyata menjadi sangat runyam jika yang yang melamarmu bukan dia yang kau tunggu, sementara pihak ndalem terus memintaku untuk menerimanya. Orang tua? Akan ikut keputusan ndalem.

“Sela, minta tolong nanti kalau rencang-rencange sampun selesai ngerjakan soal dibeto ke kantor madin nggih. Saya harus ke kantor pondok, ada wali santri mau ketemu,” ucapku pada ketua kelas 1 Ula A.

“Nggih, ustadzah”

Kepalaku pening, aku berjalan dan menuruni tangga dengan langkah gontai. Aku lupa sudah dua hari ini tidak makan nasi. Entah mengapa, sejak dilamar 2 minggu lalu aku malah kehilangan diriku sendiri. Ada sesuatu yang salah, tapi aku tidak tau.

“Kak Na, kok pucet. Sampean sakit?” tanya Lut, sembari mengecek surat perkara takziran seorang santri yang kabur kemarin malam.

“Ndak nduk, eh tadi wali santri siapa yang nyari aku nduk?”

“Ibunya lare kelas setunggal aliyah kak Na, Pun biar kulo temui mawon. Sampean istirahat, mantun niki sampean enten jadwal nyemak lare lare mu’allimat setoran alfiyyah loh”.

“Masya Allah iya nduk, aku lali. Yawis minta tolong ditemui ya wali santrine. Sirahku mumet banget. Tak gletak diluk, ben engko iso nyemak arek-arek”

Kaki baru kuselonjorkan ketika Mila berteriak memanggilku. “Mbak Naaaaaa,” ucapnya seperti biasa dengan wajah riang.

“Mila, aku nang ngarepmu. Ora nang halaman pondok,” ucapku sambil mengerutkan dahi, kepalaku semakin sakit mendengar lengkingan suaranya.

“Hehe iya mbak iya, Guyon. Calon ning e Pasuruan kok pucet sih? Mengke Gus Harun duko ningali calon e cemberut terus,” ucap Mila sambil mengerlingkan mata, terkekeh.

“Opo sih mil, ora” ucapku sambil merebahkan diri.

“Temenan iki mbak, sampean gak nompo lamaran e Gus Harun?”

“Embuh lah, ngelu aku mil” lalu kututup kepalaku dengan selimut.

“Ehh mbak, sek tah dijawab sek. Lah nopo kok nggak sampean tompo ae? Kurang opo sih mbak Gus Harun? Ngalim mbak, sinaune sampek nang Turki. Bondo wis gausah bingung. Ganteng yoan nentremno ati, haha. Sampean sing diarep arep ngewangi Gus Harun ngeramut pondok e nang Pasuruan. Kabeh wong mafhum mbak, piye telaten e sampean ngeramut arek-arek pondok. Prestasi ne sampean selama 7 tahun nang kene. Wes mbak, ndang ditompo,” mila berkata dengan begitu meyakinkan sambil menyingkap selimut yang menutupi kepalaku.

“Gak iso mil, masalah e gak sepenak kui”

“Kenapa sih mbak, kan sampean sendiri yang pernah ngomong ingin jadi menantunya Kyai Usman,” Mila masih mendesakku.

“Iya nduk. Mantune Yai Usman, tapi bukan sama mas Harun,” akhirnya yang kutahan selama ini kuucapkan pada Mila.

“Bagaimana bisa nduk, aku jadi mbak ipar e wong sing selama 4 tahun terakhir ini kuharapkan jadi suamiku?” ucapku akhirnya dengan mata berkaca.

Mila terdiam, mungkin paham bagaimana kebingunganku.

Mas Harun, dia mengenalku bahkan sejak aku masih bayi. Usianya terpaut 5 tahun di atasku. Setahun kemarin menamatkan S2 nya di Instanbul University.

Walaupun seorang Gus, Mas Harun sangat nakal pada awal masa mondoknya. Bahkan beberapa kali terkena takziran berat karena kabur dan nonton konser.

Mas Harun memang punya grup band yang berisikan dia beserta teman-teman geng motornya. Jiwa seni mengalir dalam darahnya, mulai vokal, orgen sampai gitar dikuasainya.

Masih dekat dalam ingatan kala Bu Imah, menangisi Mas Harun yang hilang selama 3 hari dari pondok Sirojuth Tholibin, Brabo Tanggungharjo Semarang. Waktu itu aku masih MI dan mendengarkan percakapan antara Ibuku dan bu Imah.

Sedangkan adiknya, Fatih adalah temanku sejak sebelum masuk Taman Kanak Kanak. Bersama dalam waktu yang lama membuatku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku menganggapnya lebih dari teman. Aku juga dekat dengan Mas Harun, tapi sebenarnya itu jalanku untuk bisa lebih dekat dengan Fatih.

“Besok hari Rabu Mil, waktu di mana aku berjanji akan memberikan jawaban atas lamaran Mas Harun,” ucapku dengan mata menerawang.

“Istirahat mbak, kersane mangke dalu saget melek. Lare-lare Mu’allimat biar syawir mawon. Percuma sampean nerima setoran kalau keadaan e ngeten niki,” ucap Mila dengan suara rendah.

Aku merasa dia ikut murung. Entah apa yang menyebabkan demikian, agaknya berlebihan bila hanya karena mendengar ceritaku barusan.

“Aku pamit mbak, mau jaga koperasi. Sampean ndang sehat ya. Ben gak sedih aku delok e, oiya iku mau tak gawekno wedang jahe. Hawane adem mbak. Ben gak tambah masuk angin sampean,” ucapnya sambil beranjak meninggalkan kamarku.

“Iya mil, suwun ya”

Pintu dan tirai tertutup. Kuputuskan meminum sedikit wedang jahe buatan Mila, kehangatan segera menjalar. Ada hal yang semakin aneh kurasakan. Kuputuskan untuk tidur, pikiranku sedang tidak baik baik saja.

To be continued…

Penulis: Fia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here