Oleh: Haidar Latief.

Indonesia memang negara penuh budaya, penuh tradisi, penuh kebiasaan di luar kebiasaan yang dilakukan oleh kebanyakan orang di negara lain. Semua keadaan tersebut menjadi sangat kental dan hal yang mutlak di negeri ini.

Salah satu budaya yang paling ditunggu dan banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia terkhusus pada bulan Syawal mengiringi momen Idul Fitri adalah halal bi halal setelah satu bulan penuh kita di godog di kawah Ramadhan berupa puasa yang tidak hanya puasa dzohir seperti menahan diri dari makan dan minum saja, namun lebih dari itu yakni juga melatih nafsu yang ada pada diri sendiri agar hati tidak terserang penyakit-penyakit yang membahayakan hari seperti sifat iri, sombong, dengki dan lain sebagainya.

Namun pembersihan diri sendiri dianggap belum cukup untuk membuat diri kita kembali menjadi suci. Juga perlu adanya pembersihan diri atas kesalahan kita terhadap orang lain karena kita manusia didakwa sebagai makhluk sosial yang pasti membutuhkan bantuan dari orang lain.

Setiap hari kita saling berinteraksi dengan orang lain, maka sebagai makhluk yang dilekati mahallul khoto’ wannis yaan yakni tempatnya salah dan lupa, sangat mungkin jika kita kita melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Maka dari itu, selain kita menggembleng diri kita dengan rangkaian ibadah yang melatih hawa nafsu, juga kita imbangi dengan kebersihan diri kita dari kesalahan yang pernah kita lakukan pada orang lain.

Halal bi halal sejatinya merupakan kebudayaan khas Indonesia yang belum tentu dimiliki oleh negara-negara lain. Kebanyakan negara lain hanya menganggap hari raya Idul Fitri hanya sebuah perayan hari raya saja. Namun tidak dengan Indonesia, dimana dari sejak malam hari raya sudah ada perayaan takbir keliling yang banyak diisi oleh berbagai macam properti buah dari kreatifitas masyarakat kita, ditambah lagi juga ada pesta kembang api yang menambah semarak pada malam Idul Fitri tersebut. Lalu selepas shalat Idul Fitri pun masyarakat berlomba-lomba meminta maaf, menyusuri dari rumah satu ke rumah yang lain antar tetangga hingga acara halal bi halal.

Begitulah di Indonesia. Hari raya Idul Fitri tidak hanya sebatas seremonial belaka, namun juga kita mengisi di dalamnya berbagai kegiatan yang bernilai budaya sangat tinggi, karena hasil perkawinan antara Islam dan budaya yang ada di Indonesia.

Idul Fitri merupakan momen yang tepat bagi kita untuk kembali menjadi fitri, apalagi masa-masa ini adalah tahun politik yang kita ketahui bagaimana keriuhan pada masa ini yang sempat mengganggu hubungan antar manusia seperti penuturan kyai Miftahul Huda.

“Idul Fitri merupakan momen yang tepat bagi kita untuk saling bermaaf-maafan, saling memaafkan apalagi kita baru saja melewati tahun politik yang pada saat tahun politik menyebabkan kita pecah persaudaraan dan pecah pertemanan”, ujarnya.

Ketika pada saat masa-masa politik kita menganggap yang berbeda partai atau yang berbeda golongan dengan kita adalah musuh, maka di momen inilah saat yang tepat untuk merubah itu semuanya untuk mempererat kembali persaudaraan.

“Dulu waktu pada masa tahun politik ketika kita beranggapan bahwa yang berbeda partai dengan saya, yang berbeda pilihan dengan saya adalah musuh maka mari pada momen yang tepat ini kita saling bermaaf-maafan, mari kita hilangkan perbedaan antar sesama dan mari kita jalin kembali ukhuwah kita, ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah“, tambahnya.

Senada dengan kyai Miftahul Huda, Pak Chudrin pun juga mengatakan jika Idul fitri merupakan momen yang tepat bagi kita untuk saling memaafkan, dan menyebutkan jika halal bi halal yang rutin dilaksanakan masyarakat Indonesia adalah sarana, karena tidak mungkin jika kita harus meminta maaf kepada banyak orang namun berada ditempat yang berbeda-beda dan berjarak cukup jauh juga, karena tentunya hal ini juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

“Semoga kita bisa melanggengkan acara halal bi halal. Acara ini sangat penting sekali, sebagai momen untuk saling bersilaturrahim, juga untuk saling berkenalan antar keluarga yang mungkin kita belum mengenalnya karena mungkin kita jarang bertemu dan juga karena faktor jarak yang berjauhan. Maka halal bi halal menjadi solusi karena sangat efektif sekali, dimana kita tidak perlu kesana kemari berpindah tempat untuk bersilaturrahim dan meminta maaf, cukup dikumpulkan dalam satu majelis dalam satu acara saja”, ucapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here