Hakim Boleh Ketawa dan Sedikit Ngejoke Saat Sidang

0
347
Hakim Mahkamah Konstitusi Saldi Isra, Arief Hidayat, dan Manahan MP (secara berurutan dari kiri ke kanan) / Foto: Nasional Kompas

Oleh: M. Ali Masruri

Dulu, ketika saya hendak moot court (peradilan semu) tahun 2018 yang dipanitiai oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam (HMJ HKI), saya ingat betul pembimbing atau pelatih mewanti-wanti saya yang berperan sebagai Hakim untuk tidak tertawa dan/atau guyonan sebab dapat mengurangi “marwah” atau wibawa pengadilan. Catat itu.

Pada Pasal 3 Peraturan Bersama Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia dan Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia Nomor: 02/PB/MA/IX/2012/02/PB/P.KY/09/2012 Tentang Panduan Penegakan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim menjelaskan kewajiban hakim dalam menjaga kode etik profesi hakim salah satunya yaitu berintegritas tinggi, kemudian dijelaskan pada Pasal 9 ayat (1) yaitu “Berperilaku berintegritas tinggi bermakna memiliki sikap dan kepribadian yang utuh, berwibawa, jujur dan tidak tergoyahkan”.

Mungkin dari kata “berwibawa” ini, sehingga saya diperintah agar tidak guyonan ataupun tertawa saat melakukan peran sebagai hakim dalam moot crout itu dengan dalih menjaga marwah pengadilan. Alhasil, saya pun melaksanakan tugas sebagai pemeran hakim dengan wibawa ala pelatih, yaitu tegang, pakem, dan kaku. Hampir tidak lagi terlihat seperti manusia, melainkan lebih cocok disebut robot atau mesin.

Baca juga:  Fazlur Rahman: Mamahami Al-qur'an Hendaknya Mengedepankan Sisi Moral Ideal.

Setelah itu, saya benar-benar merasa bahwa menjadi hakim berarti tidak hanya berubah dalam profesi saja dari pemuda banyak acara (mahasiwa) menjadi penegak hukum semata. Namun juga berubah dari manusia menjadi sebuah mesin penentu kebenaran. Saya sampai berpikir, lalu bagaimana dengan orang-orang yang seperti Gus Dur, Jokes sejati yang bercita ingin menegakkan keadilan melalui jalur litigasi atau menjadi hakim.

Namun, kegelisahan itu sirna seketika saat saya melihat siaran langsung Sidang Sengketa Pilpres oleh Mahkamah Konstitusi (MK) yang disiarkan seharian dari pagi hingga petang oleh berbagai media. Kalian para pencerah suasana (jokes) tak perlu berkecil hati. Karena kalian masih punya kesempatan untuk bercita-cita menjadi hakim.

Hakim MK, Arief Hidayat adalah pemeran jokes saat memberikan izin mondar-mandir kepada saksi nomer urut dua tim hukum Prabowo Sandi, Idham Amiruddin, saat menampilkan bukti pelanggaran batas usia pemilih yang katanya masih berumur satu tahun. Kemudian dengan alasan penglihatan yang kurang jelas, ia meminta izin untuk mendekat pada layar. “Boleh saya mendekati Yang Mulia, saya tidak terlalu melihat yang mulia,” pinta Idham.

Jawaban izin dari Hakim MK, Arief Hidayat cukup mencairkan suasana dan menggugah tawa hadirin sidang. “Sambil jalan boleh supaya di tv-kan pak, bagus suasananya,” kelakarnya. Jawaban tersebut sontak membuat ketawa hadirin sidang MK, dengan dibumbuhi ekspresi wajah Idham saat mendengar jawaban Hakim Arief. Seorang hakim yang mestinya serius, dan pakem berbicara soal masuk tv dalam acara seserius sidang sengketa pilpres MK.

Baca juga:  Sastra Tangan Kanan Tuhan Untuk Polemik Agraria

Entah fenomena apa yang sedang ditampilkan dalam sidang sengketa pilpres ini. Tidak hanya izin jalan-jalan (mondar-mandir), Idham pun juga izin ke toilet dengan didahului ekspresi semacam pantomim menahan kebelet layaknya seorang murid yang malu ketika hendak izin kepada gurunya saat pelajaran di kelas. Hakim tertawa, Advokat, hadirin lain juga tertawa, luar biasa cair dan nampak santai sekali persidangan ini, jauh dari kata seram dan menakutkan.

Sesaat saya berpikir, apakah sikap Hakim Arief Hidayat, saat persidangan disebut sebagai tindakan yang kurang berintegritas (wibawa)? Kemudian bisa disebut “salah”. Ataukah tidak, sebab Hakim juga manusia yang membutuhkan upgrading ketenangan. Madan Kataria, seorang dokter dari India yang juga pendiri Laughter Yoga Movement, sebuah aliran yoga meyakini bahwa tertawa adalah media efektif mencapai ketenangan jiwa. Salah satu cara agar tertawa adalah membuat joke.

Menurut saya “berwibawa” tidak akan hilang hanya dengan melakukan joke atau tertawa. Sebab menurut penelitian dari University of Vienna menunjukkan bahwa penggemar lelucon yang buruk cenderung mempunyai skor lebih tinggi pada kecerdasan verbal dan nonverbal. Penelitian dari 159 orang dewasa untuk mengetahui rating tingkat humoris yang diukur dengan menggunakan kecerdasan standar dan tes psikologi. Para peneliti mengemukakan, “Hasil ini mendukung hipotesis bahwa pengolahan humor melibatkan kognitif serta komponen afektif,” (tempo.co).

Baca juga:  Hilangnya Esensi Hukum dalam Agenda Politik

Konklusinya adalah jika selera humor merupakan salah satu indikasi kecerdasan seseorang, kenapa kemudian sebuah indikasi kecerdasan tersebut dapat merendahkan wibawa atau marwah pengadilan? Tentu seharusnya tidak. Atau mungkin yang dikehendaki adalah guyonan yang keterlaluan sehingga mencerminkan sifat kekanak-kanakan. Maqalah Arab mengatakan: idza tamma aqlu al-mar’i qalla kalamuhu. Ketika telah sempurna akal seseorang maka akan sedikit bicaranya. Maksudnya adalah jika seseorang telah dewasa bicaranya dapat dipegang, dalam arti tidak cengengesan, guyonan tanpa aturan. Humor boleh asal jangan kebablasan. Silahkan memberikan standarisasi sendiri guyonan seperti apa yang disebut kebablasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here