Habib Anis: Hadir di Dunia Sejatinya Untuk Menemukan Jati Diri

0
252

Semarang, justisia.com-Acara yang diselenggarakan DEMA FSH di Auditorium 2 kampus 3 UIN Walisongo Semarang Mengundang salah satu narasumber yang berasal dari Pati yaitu Habib Anis Soleh Ba’asyin, Dalam rangka mengisi acara Gelombang Kaweruh dengan Tema Patah Tumbuh.

“Kita hadir di dunia sebenarnya untuk menemukan siapa diri kita atau untuk mengetahui dunia?,” tanya pria yang kerap disapa Bib Anis kepada audiens.

Menurut pria berhidung mancung tersebut kita hadir di dunia ini sejatinya untuk menemukan siapa diri kita dan dunia adalah alat untuk menemukan jati diri manusia.

Orang masuk pesantren memang untuk belajar ilmu agama, akan tapi sebenarnya ilmu agama adalah sarana untuk menemukan dirinya.

Permasalahannya banyak orang sekarang yang keliru, agama tidak dijadikan sarana melainkan manusianya yang menjadi sarana agama itu sendiri.

“Agama itu seperti pisau, pisau pada umumnya itu adalah alat untuk masak, namun ketika ada perampok masuk ke rumah kita pisau itu bisa saja menjadi senjata. Artinya agama bisa dipakai untuk melawan dalam kehidupan sosial,” imbuhnya.

Baca juga:  PBAK 2018: Dana Minimalis, Tapi Fantastis

Akan tetapi, menurutnya, sangat penting menjadi perhatian kita semua bahwa misalnya ketika belajar silat yang harus kita kuasai terlebih dahulu adalah kuda-kudanya. Karena itu merupakan dasaran atau pondasi yang membuat anda kukuh dan tidak mudah roboh.

“Iman itu ibarat dengan pondasi, jadi harus kuat dahulu agar tidak mudah roboh dan dirobohkan,” ungkapnya.

“Ketika anda di Indonesia, anda akan menemukan negara Indonesia atau anda akan menemukan diri anda yang sedang mempelajari Indonesia?,” tanya pria berkacamata itu kepada audiens.

Ia kemudian menjelaskan setiap manusia itu sejatinya memiliki identitas yang sama, yaitu sama-sama manusia. Namun terkadang orang itu sendiri yang membeda-bedakan dirinya satu sama lain. Contohnya Suku Jawa, Sunda, Batak, Bugis dan lain sebagainya, Itu cuma baju.

“Wong sing gak nduwe wedi, gak duwe susah, tekanan, kui sing jenenge wong seneng. Yang membuatmu tertekan, buang! Maka kau akan bahagia,” pungkasnya.

Reporter: Yusuf
Penulis: Yusuf
Editor: Harly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here