Habib Ali Zainal Abidin: Kemanusiaan Harus Mendahului Keberagamaan

1
347

Semarang, justisia.com-UIN Walisongo mengadakan acara ramah tamah dan bedah buku yang dihadiri oleh Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman al-Jufry dan hadir pula beberapa habib beserta ulama’ di auditorium kampus 1 pada rabu 04/12.

Buku yang dibedah yaitu “al-insani qabla at-tadayyun” karya beliau sendiri, alur acara berjalan dengan dialog tanya-jawab.
Sebelum dimulainya sesi dialog, Habib Ali sedikit memaparkan intisari yang terkandung dalam kitab tersebut.

“Sekarang kita hidup di zaman di mana istilah-istilah sudah bercampur aduk sehingga bagi orang yang awam sulit membedakan antara al-insaniyah (kemanusiaan) dan humanisme,” papar beliau.

Padahal makna dari keduanya jelas sangat berbeda dari segi historisitas dan konteksnya.

“Yang dimaksud insaniyah di sini ialah sifat fitrah atau natural manusia semenjak diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk, tidak lebih. Konsep ini sangat bertolak belakang dengan konsep humanisme yang lahir pasca-revolusi Perancis, konsep humanisme mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang mampu melakukan segala-galanya, ” lanjut dzurriyah rasul yang datang dari Yaman.

Baca juga:  Si Jek, Lebih Baik Membuat Aplikasi daripada Membeli

Menurut Habib Ali, Konteks humanisme yang tercetus pasca revolusi Perancis akibat kejengahan manusia terhadap gereja yang berpihak pada pemerintah sebagai alat penindas akhirnya yang terjadi ialah sikap sekuler, memisahkan agama dari sendi kehidupan bermasyarakat maupun bernegara.

Habib Ali juga mengkaitkan kemanusiaan dengan dimensi keagamaan.

“Sedangkan kemanusiaan ini harus mendahului keberagamaan ingat, bukan agama tapi keberagamaan atau ungkapan religiusitas. Jika tidak, maka keberagamaan kita akan nyeleweng”.

Beliau juga menukil kisah Sayyidina Ali yang dibunuh oleh Abdur Rahman bin Muljam.

“Abdur Rahman bin Muljam itu orangnya kurang apa? Dia sholat malam sampai kakinya bengkak, di dahinya ada bekas sujud, hafal Qur’an dan bisa dikatakan ahli ibadah kala itu, tapi dia adalah orang yang membunuh Sayyidina Ali, sebab dia tidak mendahulukan peri kemanusiaan dari pada ungkapan keberagamaan yang ingin merebut tahta kekuasaan khalifah saat itu, karena Sayyidina Ali dianggap tak sepaham dengannya,” ungkap pria yang berperawakan tinggi gagah (04/12).

Dalam forum tersebut Habib Ali menegaskan pentingnya merawat kemanusiaan dari pada ribut soal perbedaan pendapat keagamaan dan juga membedakan konsep setiap kata atau istilah supaya diperoleh pemahaman yang benar.

Baca juga:  WR III : "Pengumuman dan Pencairan Dana Muawanah Tak Sampai Seminggu Lagi"

Reporter: Rusda Khoiruz
Penulis: Rusda Khoiruz
Editor: Nur Hikmah

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here