Judul : Samudra Kezuhudan Gus Dur
Pengarang : KH Husein Muhammad
Penerbit : DIVA Press
Tahun Terbit : Juli 2019
Tebal Buku : 300 hlm; 20cm
Peresensi : Nur Khasanah

Buku karangan KH Husein Muhammad kali ini adalah buku yang sangat menarik bagi masyarakat Indonesia. Berbeda dengan penulis lain yang menceritakan tentang keberhasilan Gus Dur, KH Husein lebih menceritakan tentang spiritualitas Gus Dur yang selalu melakukan kezuhudan berdasarkan nilai-nilai luhur.

Sebagai masyarakat Indonesia, siapa sih yang tidak mengenal Gus Dur. Sebagian besar masyarakat pasti mengenal beliau. Meskipun beliau sudah wafat, tetapi jasa-jasanya, karya-karyanya, sejarah kehidupannya, terasa masih ada dan utuh dalam kehidupan saat ini. Bagaimana tidak? Bahkan sekarang pun, ada organisasi yang komunitasnnya adalah para pecinta Gus Dur, para perindu Gus Dur, seperti organisasi Gusdurian, yang bahkan sudah menyebar disetiap daerah di Indonesia ini.

Dalam buku ini, diceritakan bahwa Gus Dur adalah sosok yang sangat luar biasa, selain menjadi seorang mantan Presiden RI, beliau dikenal sebagai seorang sufi, seorang wali, dan seorang yang sangat menghargai kemanusiaan. Karya-karya beliaupun juga banyak, baik buku, ataupun jurnal.

Pemikiran-pemikiran beliau memang dianggap sebagai pemikiran yang kontroversial, tetapi makna dari kontroversial itu, justru dapat mewujudkan kehidupan sosial kemasyarakatan yang adil, toleran, damai, dan sejahtera.

Beliau sendiri sangat menghargai perbedaan, sampai-sampai Susilo Bambang Yudhoyono menyebut Gus Dur sebagai bapak pluralisme. Kenyataannya memang seperti itu, hampir semua orang yang tertindas, yang orang lain justru menghujatnya, beliau membelanya, beliau mendekati orang-orang tersebut, mengajaknya berbicara, hingga orang tersebut tidak merasa tertekan. Bahkan masih teringat di kepala peresensi, ketika salah sorang aktivis Papua, Filep Karma diwawancarai oleh narasi TV tentang siapa presiden yang paling memahami Papua, ia menjawab hanya Gus Dur saja, karena beliau mengerti apa yang diinginkan masyarakat Papua sehingga beliau membuka peluang untuk Papua, Gusdur yang mengembalikan identitas masyarakat Papua sebagai bangsa Papua.

Menurut pemikiran beliau, manusia tetaplah manusia, yang keyakinan dan pemikirannya tidak bisa diberi tanda. Oleh karena itu, hanya Allah-lah yang berhak menghakiminya, bukan yang lain (hal 115), bahkan menurutnya, ihsan adalah rukun kemanusiaan yang merupakan puncak keberagaman seseorang (hal 109). Hal ini berkaitan dengan prinsip Maqasid asy-Syariah yang menurut beliau adalah adalah perlindungan atas kemanusiaan. Di dalam Maqasid asy-Syariah, semua tertuju pada Tuhan, tetapi yang membedakan hanyalah jalan dan bahasa yang berbeda-beda.

Selain penghargaan beliau terhadap kemanusiaan dan keberagaman, beliau juga memiliki kebiasaan baik lain khususnya dalam kehidupan di rumahnya. Seperti kebiasaan memutar kaset Al-Qur’an setiap pagi, bahkan sering kali beliau mengundang para hafidz hafidzah untuk sema’an di rumah beliau. Begitu senangnya beliau mendengar bacaan Al-Qur’an yang indah (hal 133). Selain itu, ada kebiasaan-kebiasan baik beliau yang sangat sederhana, tetapi manfaatnya banyak, seperti kebiasaan mencari orang saat sudah larut malam untuk diajak mengobrol dan berdiskusi disertai dengan candaan-candaan yang menghibur.

Gus Dur mengartikan zuhud sendiri sebagai hidup sederhana, bersahaja, ugahari. Beliau menerapkan hal tersebut dengan penuh kesenangan, bahkan beliau ketika mendapatkan honor, langsung diberikan kepada orang lain tanpa melihat berapa isi honor tersebut. Kehidupannya sangat sederhana, dilihat dari segi manapun, tetap sederhana, pakaiannya, makannya, semua serba sederhana. Saat mencalonkan presiden bahkan beliau tidak mengeluarkan uang sedikitpun karena pandangan beliau menganggap tidak menjadi presiden pun juga tidak apa-apa.

Dalam buku ini, juga diceritakan tentang keanehan-keanehan Gus Dur yang lucu. Seperti kebiasaan tidur saat sedang rapat, atau acara yang sangat penting, namun mampu menjelaskan apa yang ada didalam acara tersebut. Ada satu hal yang sangat kontroversial dan saat ini terbuktikan. Yaitu tentang celotehan Gus Dur yang mana beliau menyebut DPR sebagai Taman Kanak-Kanak, dan sekarang justru hal tersebut menjadi sebuah kenyataan (hal 197).

Kematian beliau adalah kondisi dimana terasa seperti semua orang sedang berduka. Karena beliau adalah seseorang yang berjiwa bersih, matang, dan hatinya telah menjadi hati orang-orang yang ditinggalkannya, yang disayangi, dan dicintainya, maka banyak sekali orang-orang yang ikut berbela sungkawa atas kematian beliau.

Meskipun beliau sudah pergi, tetapi ruh kemanusiaanya tetap hidup di negeri ini. (hal 38) Banyak memang yang tidak setuju dengan pemikiran beliau, tetapi sejarah yang menjadi saksi atas segala perjuangan Gus Dur semasa hidupnya.

Cukup jelas, setiap kata-kata di dalam buku ini menyentuh setiap pembacanya, sehingga pembacanya dapat menikmati setiap kisah dan perjuangan Gus Dur serta kezuhudannya. Bahasa yang digunakan juga sederhana, tidak terlalu ilmiah, dan cocok untuk dibaca oleh orang-orang yang kurang faham bahasa ilmiah. Di sela-sela menceritakan kezuhudan Gus Dur, ada syair-syair Jalaludin Rumi dan tokoh-tokoh lain yang memperkuat pemikiran Gus Dur. Selain dapat memperkuat pemikiran Gus Dur, juga ternyata dapat menambah rasa di dalam buku ini.

Kezuhudan Gus Dur yang disampaikan dalam buku ini cukup lengkap, tentang keseharian, keserhanaan, kesukaan, bahkan sampai kematian beliau. Namun, pada bab awal justru membahas tentang kematian Gus Dur yang mana pada bab akhir diceritakan tentang makam beliau (kurang berurutan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here