Justisia.com-Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) menyelenggarakan pesantren agraria di desa Surokonto Wetan, Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal mulai tanggal 4-6 oktober.

Peserta datang dari berbagai kota mulai dari Semarang, Yogyakarta bahkan sampai Surabaya yang terdiri dari mahasiswa maupun LSM, pada Jumat, (04/10).

Roy Murtadho, selaku komite nasional FNKSDA menuturkan bahwa, mestinya Aswaja harus menjadi pelopor perlawanan karena di dalamnya ada sebuah konsepsi yang menjadi landasan yaitu tasamuh, tawazun, tawassuth dan i’tidal.

“Salah satu di dalamnya ada prinsip i’tidal atau berdiri tegak dan itu harus menjadi tameng utama, dari sinilah nanti keberpihakan kepada kaum mustad’afin harus menjadi visi utama perlawanan aswaja terhadap penindasan, keempat prinsip tadi mengandaikan sinergi satu sama lain jika tidak ya mustahil kita bisa bertindak moderat,” papar pengasuh Ponpes Misykat Al-anwar Bogor dalam sesi pembukaan.

FNKSDA lahir dari keresahan warga nahdliyyin yang lagi-lagi dan berulang-ulang menjadi objek penindasan, penggusuran.

“Ada kondisi riil dalam kehidupan kita yang tidak bisa dihindari, Yang lekat sekali dengan kondisi masyarakat termajinalkan yaitu tidak lain warga nahdliyyin dan kondisi ini tidak serta merta solusinya hanya dengan duduk bersimpuh sembari berdoa menengadah pada tuhan. Dari situlah lahir FNKSDA  hasil deklarasi di Jombang pada tanggal 22 oktober 2013 setelah melalui perdebatan panjang dahulu”, tutur Ketua Komite Nasional FNKSDA.

Harapan kedepannya prinsip Aswaja benar-benar dijadikan landasan perlawanan.

“I’tidal harus menjadi prinsip di depan ke empat prinsip aswaja tersebut,” harap Roy Murtadho.

Reporter: Rusda
Penulis: Rusda
Editor: Harly

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here